Selasa, 26 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Kasus Korupsi Hibah Pura Paibon Wargi Tutuan

Simpul dan Ngenteg Kompak Ngaku Tak Nikmati Uang Negara

11 Januari 2019, 09: 11: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Simpul dan Ngenteg Kompak Ngaku Tak Nikmati Uang Negara

DIPERIKSA: Ketut Ngenteg saat diperiksa penyidik unit tindak pidanan korupsi (tipikor) Sat Reskrim Polres Klungkung Kamis (10/1) kemarin. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SEMARAPURA-  Penyidik Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Sat Reskrim Polres Klungkung memeriksa I Ketut Ngenteg, Kamis (10/1) kemarin. Pemeriksaan pria itu berkaitan dengan statusnya sebagai tersangka dugaan korupsi dana hibah pembangunan Pura Paibon Wargi Tutuan di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung.  

Selain Ngenteg, penyidik juga menetapkan tersangka ketua panitia pembangunan pura I Nyoman Simpul. Simpul sudah diperiksa Kamis 20 Desember 2018. Pemeriksaan Ngenteg kemarin, penyidik mendalami aliran duit negara. Di mana berdasarkan hasil audit Badan Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dugaan korupsi dana hibah Provinsi Bali 2014 itu merugikan keuangan negara Rp 70 juta. 

Kasat Reskrim Polres Klungkung AKP Mirza Gunawan mengatakan, kedua tersangka ini membantah menikmati uang negara itu. "Seperti saling lempar," jelas Mirza Gunawan. Namun demikian,  itu bukan persoalan bagi penyidik menyeret keduanya ke meja hijau. Membantah terhadap apa yang dituduhkan itu merupakan hak tersangka. Terpenting penyidik mempunyai bukti bahwa duit negara tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.

Mirza Gunawan menyebutkan, berdasarkan keterangan saksi dan diperkuat bukti lain,  uang negara ditarik semua oleh Simpul bersama Ngenteg. "Yang jelas uang ditarik. Penggunaan hanya mereka yang tahu," jelas Mirza Gunawan didampingi Kanit Tipikor Iptu I Nengah Sulatra kepada Bali Express (Jawa Pos Group). "Mereka berhak diam. Kewajiban penyidik mendalami kemana uang negara itu," imbuh Sulatra. 

Mirza Gunawan menegaskan, materi pemeriksaan kemarin hampir sama dengan pemeriksaan Simpul belum lama ini. Pemeriksaan sudah masuk ke pokok perkara. Saat pemeriksaan, Ngenteg yang disangkakan pasal 2 dan atau pasal 9 Undang-Undang 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah ke dalam Undang-Undang 20/2001 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan pasal 64 KUHP, didampingi penasehat hukum  I Wayan Suniata. 

Sat Reskrim Polres Klungkung menetapkan Simpul dan Ngenteg sebagai tersangka pada 5 Desember 2018. Simpul yang juga pangempon di pura itu bertindak sebagai ketua panitia pembangunan. Dalam proposal hibah disebutkan dana akan dipakai perbaikan tembok serta beberapa palinggih di pura paibon. Namun setelah uang cair, justru tidak digunakan membangun. Simpul juga mengajukan proposal tanpa sepengetahuan pangempon pura di sana. Dia mencatut pengempon Wayan Sarna sebagai sekretaris panitia. Dalam proposal itu, tanda tangan Sarna dipalsukan. Sedangkan sebagai bendahara dicantumkan istrinya Simpul,  Ni Wayan Karsani.

Dalam menyusun pertanggungjawabannya, Simpul berkerja sama dengan Ngenteg membuat laporan fiktif. Mereka mencantumkan foto Pura Panti Pande Tusan di Desa Nyalian. Seolah-olah itu Pura Paibon Wargi Tutuan yang sudah selesai dibangun. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia