Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Pak Oles: Larang Tas Plastik, Berikan Solusi

15 Januari 2019, 08: 43: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pak Oles: Larang Tas Plastik, Berikan Solusi

Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles (DOK. BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kebijakan Gubernur Bali melarang tas plastik, sedotan plastik dan stirofoam sangat bagus. Namun akan lebih jika ada solusi yang jauh lebih mudah dan ada insentif bagi usaha – usaha yang membuat benda berfungsi sejenis dengan ramah lingkungan.

Menurut Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles turunnya Pergub untuk melarang tas plastik, sedotan plastik dan stirofoam adalah langkah bagus pagi lingkungan Bali. Plastik begitu akrab dengan kehidupan masyarakat di Bali. “Ini langkah bagus, karena masyarakat Bali sepertinya sudah tidak bisa lepas dari plastik. Tanpa kita sadari, keluar rumah, pulang – pulang pasti bawa plastik. Beli apa saja pasti bawa plastik pulang,” kata Pak Oles.

Namun akan jauh lebih bagus, ketika ada langkah yang jauh lebih serius untuk pergub ini. Misalnya ketika plastik dilarang tidak ada kesiapan untuk penggantinya. Ini yang harus diberikan solusi, atau diberikan jalan keluar sehingga program berjalan bagus. “Solusinya apa, jalan keluarnya apa ketika tas kresek mulai dilarang. Ini yang harus disiapkan serius,” kata politisi Partai Demokrat ini.

Dia mengatakan, mesti ada regulasi yang kuat untuk mengembangkan UMKM di Bali. Yang nantinya menjadi distributor tas belanja berbahan ramah lingkungan. “Mesti digenjot tas dari kertas, dari bahan – bahan alami, tidak lagi kresek plastik. Kalau memang tidak menyediakan plastik sebagai tas untuk belanja, mesti siapkan tas dari bahan alami, walaupun diminta membeli,” kata caleg DPR RI Dapil Bali dari Partai Demokrat ini.

Kemudian berikan insentif jaringan UMKM yang mau memproduksi pengganti – benda – benda yang dilarang. “Bagaimana membuat sedotan dari bambu, atau yang lain, mesti ada insentif pemnerintah agar semakin cepat ada pengganti yang ramah lingkungan diproduksi,” kata salah satu pengusaha sukses ini.

Kemudian, sumber sampah plastik yang sangat banyak juga adalah gelas air mineral. Baginya sudah selayaknya untuk dilarang, karena sangat banyak dan nilai daur ulangnya rendah. “Jika botol plastik masih okelah, karena masih bisa dipakai lagi. Tapi pelan – pelan dikurangi,” kata mantan Ketua DPD Hanura ini.

Dan yang penting lagi, melakukan gerakan untuk mengubah pola pikir masyarakat. Bahwa sungai, got dan laut bukan tempat sampah. “Saat ini kebiasaan masyarakat malah membuat sampah ke sungai, got dan laut. Padahal jelas sungai, got dan laut bukan tong sampah,” pungkas alumnus Faculty Of Agriculture Universitas Of The Ryukyus Jepang ini.

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia