Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Features
Saat Jero Arnold Jadi Saksi di PN Denpasar

Ditanya Kok Pintar Bahasa Bali, Dijawab; Biase Gen Je

17 Januari 2019, 20: 48: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ditanya Kok Pintar Bahasa Bali, Dijawab;Biase Gen Je

BIKIN KETAWA: Arnold Aristarkhov alias Jero Putu Arnold saat memberikan keterangan sebagai saksi korban pencurian dengan modus coblos ban di PN Denpasar. Dia didampingi ibunya yang turut menjadi saksi. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Makin banyak bule yang jago bahasa lokal di Indonesia. Tidak terkecuali bahasa Bali. Seperti ditunjukkan Arnold Aristarkhov, 23, saksi sekaligus korban pencurian dengan modus coblos ban. Saking terampilnya berbahasa Bali, pertanyaan hakim dia jawab dengan bahasa Bali.

Sebetulnya sosok pemuda kelahiran Rusia ini lagi tenar. Terutama di dunia maya. Dalam beberapa waktu belakangan ini, pemuda yang punya nama Bali, Jro Putu Arnold, ini kerap mengunggah video komedi berbahasa Bali.

Dalam videonya itu, dia begitu fasih berujar dengan menggunakan bahasa Bali lengkap dengan aksennya.

Bukan hanya di vlog saja. Keterampilannya itu bahkan muncul saat dirinya harus menjadi saksi dalam sidang kasus pencurian dengan modus coblos ban yang berlangsung di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (17/1).

Kehadirannya sebagai saksi tidak seorang diri. Bersamanya ada ibunya, Elena Aristakhova, yang turut jadi saksi dalam perkara ini.

Tahun lalu, sekitar Mei 2018, kebetulan mereka berdua menjadi korban dari aksi coblos ban yang terjadi di di depan Warung Babi Guling Suri, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara.

Pelakunya sendiri ada tiga orang dan sudah mulai diadili sejak minggu lalu. Mereka antara lain Muhammad Abdul Musori, 26, (terdakwa I); Seneri, 35, (terdakwa II); dan Rizal alias Imam, 33, (terdakwa III). Tapi masih ada satu orang lagi yang buron.

Kehadiran Arnold di tengah sidang itu tak ayal membuat seisi Ruang Sari, tempat persidangan digelar, penuh tawa. Sebab, tiap pertanyaan yang muncul dari hakim selalu dia jawab dengan menggunakan bahasa Bali.

Belum lagi gayanya yang blak-blakan membuat majelis hakim yang diketuai I Wayan Kawisada dan pengunjung sidang tertawa. Begitu juga dengan terdakwa yang kelihatan suntuk menunggu giliran sidang. Bahkan, I Wayan Siki, terdakwa kasus pembunuhan juru parkir, juga tidak bisa menahan tawa.

Arnold mulai memancing tawa seisi ruangan saat dirinya menceritakan awal mula terjadinya pencurian yang menimpanya. “Rage kan kal ngalih makan nasi be guling di Kerobokan. Nah, di jalane to be pepete ajak motor. Ade nak ngorang ban mobile kempes (Saya mau cari makan babi guling di Kerobokan. Nah, di tengah jalan saya dipepet sepeda motor, ada yang bilang ban mobil kempes,” tuturnya.

Kemudian dia melanjutkan, “Rage tuwun uling mobil jak ibu. Ade care besi melengkung di bane. Men sing pelih care paku payung asane (Saya turun dari mobil dengan ibu, ada seperti besi melengkung menancap di ban. Kalau tidak salah seprti paku payung, rasanya, Red),” imbuh pemuda yang sempat bersekolah di Taman Rama, Ubung, ini.

Mendengar ceritanya itu, meledaklah tawa seisi ruangan. Mulai dari hakim, panitera, jaksa, terdakwa lainnya, sampai pengunjung sidang. Sementara ibu Arnold turut senyum. Kendati tidak memahami apa yang dikatakan anaknya tersebut.

Dia pun menuturkan bahwa pencurian itu terjadi saat dirinya dihampiri salah seorang dari terdakwa yang turun dari boncengan. Waktu itu, terdakwa itu meminta ibunya memundurkan dan memarkirkan mobilnya di kanan jalan.

Kemudian dengan berlagak pura-pura membantu, salah seorang terdakwa tiba-tiba mengambil tas yang ada di dalam mobil. Rupanya mereka sengaja mengecoh. Begitu berhasil mengambil tas, mereka langsung kabur.

Dia lalu menceritakan barang-barang dalam tas yang diambil terdakwa dengan menggunakan bahasa Bali. Katanya, yang hilang antara lain uang senilai Rp 40 juta, paspor, beberapa kartu, Alkitab, dan beberapa barang lainnya.

Hakim Kawisada yang memimpin sidang lantas memotong dengan pertanyaan dengan nada bercanda. “Jadi beli nasi babi gulingnya?” tanyanya.

Dan pertanyaan itu lagi-lagi dijawabnya dengan bahasa Bali. “Buwung. Pis ilang (Tidak jadi. Uang hilang),” ujarnya dengan intonasi tinggi yang disambut tawa pengunjung sidang.

Menariknya, Arnold mengaku tidak dendam dengan para pelaku. Malah dengan bijak dia berkata, “Pang be, pang karma mejalan. Nak kene-kene harus dilukat. Pang dadi manusia baik. (Biasa saja. Biarkan saja, biar hukum karma yang berjalan. Orang-orang seperti ini harus dibersihkan secara spiritual. Biar menjadi orang baik.” katanya.

Keterampilan Arnold berbahasa Bali itu rupanya membuat anggota majelis hakim, I GN Putra Atmaja, tertarik. Hakim yang selama ini dikenal irit bicara itu sampai ikut bertanya dengan bahasa Bali. Dia bertanya sejak kapan saksi berada di Bali. “Adi dueg mebasa Bali (Kok pandai berbahasa Bali),” tanya Hakim Putra Atmaja.

Pertanyaan itu dijawab Arnold dengan kalimat yang lagi-lagi mengundang senyum orang lain. “Biase gen je (Biasa saja),” jawabnya dengan enteng.

Selepas sidang, Arnold mengaku dirinya sudah berada di Bali sejak 2006 lalu. Itu karena harus mengikuti orang tuanya. Waktu pindah ke Bali, dia masih berusia sebelas tahun.

Dia sendiri mengaku tidak ingat sejak kapan dirinya mulai bisa berbahasa Bali. Namun dia memperkirakan itu terjadi karena pergaulan.  Kendati sudah lama di Bali, Arnold justru belakangan memeluk Hindu. Kedua orang tuanya sudah lama. Sekitar 15 tahun lalu. Arnold baru memantapkan keyakinannya pada Hindu sejak setahun terakhir ini.

Sulung dari dua bersaudara ini sedang memantapkan diri sebagai Youtuber. Dalam salah satu vlog yang diunggahnya awal Januari 2019 lalu, dia berencana akan membuat video jebakan yang bersifat menghibur. 

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia