Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Features
Putra Kedua Gusti Ngurah Rai Berpulang

Pernah Jadi Tawanan Penjajah Bersama Desak Putu Kari

23 Januari 2019, 20: 02: 44 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pernah Jadi Tawanan Penjajah Bersama Desak Putu Kari

BERSAMA IBU: I Gusti Ngurah Tantra (kanan) bersama ibunda, Desak Putu Kari semasa hidup. (REPRO)

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Tampaknya keluarga besar Pahlawan Nasional, Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai tengah dilanda cobaan bertubi-tubi. Putra kedua sang pahlawan, I Gusti Ngurah Tantra, 75, berpulang Selasa sore (22/1). Padahal cucu sang pahlawan yang merupakan Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Bali, I Gusti Ngurah Agung Danil Yunanda Yudha baru saja meninggal 13 hari sebelumnya, yakni Rabu (9/1). Paman dan keponakan ini sama-sama diduga terkena serangan jantung.

Mendung menggelayut di atas Puri Ngurah Rai, Desa Carangsari, Petang, Rabu (23/1). Tampak sejumlah orang berpakaian adat Bali duduk di teras puri. Mereka adalah bagian dari keluarga besar I Gusti Ngurah Rai. Semuanya diliputi rasa duka. Mereka seakan belum percaya, I Gusti Ngurah Tantra telah tiada.

AA Ngurah Putra, 46, anak kedua mendiang tidak menyangka salah satu saksi sejarah dan bagian langsung perjuangan I Gusti Ngurah Rai tersebut meninggal begitu cepat. “Memang selama ini beliau sempat sakit dan sempat opname, tapi sudah sembuh. Tak ada firasat apapun terkait kepergian beliau,” ungkapnya saat ditemui di rumah duka,

Dituturkan ayah tiga anak ini, almarhum terakhir terlihat sehat-sehat saja. Bahkan Senin (21/1) lalu, adik I Gusti Ngurah Gede Yudana ini sempat diantar oleh Ngurah Putra untuk mengurus KTP elektonik. KTP tersebut rencananya digunakan untuk mengurus santunan lansia yang tengah digulirkan Pemkab Badung.

Anehnya, dalam perjalanan, almarhum dikatakan sempat mengutarakan keinginan agar sang istri, I Gusti Ayu Adi, 70, dibuatkan foto sendiri. Dengan demikian, mereka memiliki foto masing-masing. “Ajik (ayah) sudah tua, nanti agar ada foto sendiri-sendiri. Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya,” ujar Ngurah Putra menirukan perkataan sang ayah.

Ngurah Putra yang saat itu menyetir pun sempat merasa ada yang aneh dengan perkataan ayahnya. Namun ia berusaha berpikiran positif. “Mungkin saat itu beliau sendiri sudah memiliki firasat,” ujarnya.

Bahkan hari itu pria kelahiran 16 Juni 1944 tersebut juga berkunjung ke rumah ibunya, mendiang Desak Putu Kari di kawasan Jalan Nangka, Denpasar. Nah, Selasa (22/1), kakak I Gusti Ngurah Alit Yudha, mantan Ketua DPD I Golkar Bali itu pun kembali ke Carangsari. Seperti biasa, almarhum dikatakan sempat membaca koran. Bahkan beberapa menit sebelum meninggal, kakek delapan cucu ini masih sempat memberi makan burung kesayangannya.

“Beliau memang memiliki hobi memelihara burung, khususnya perkutut,” terangnya sembari menunjuk beberapa burung dalam sangkar yang bergelayut di teras.

Usai memberi makan burung, almarhum beranjak ke tempat tidur. Pada saat yang sama, karena sudah sore sekitar pukul 15.30, sang istri mandi. “Usai mandi, biyang (ibu) berteriak karena melihat ajung (ayah) sudah telentang di tempat tidur. Tyang (saya) pun langsung mendekat,” lanjut Ngurah Putra yang tak kuasa menahan air matanya.

Masih sembari menitikkan air mata, Ngurah Putra mengenang mantan Ketua Ranting PPM Petang itu sebagai sosok yang sederhana. Namun karena dalam dirinya mengalir darah pahlawan, senantiasa ada keinginan untuk berdedikasi kepada masyarakat. Salah satunya, almarhum sempat mendirikan yayasan dan sekolah di Carangsari sekitar tahun 1980-an. Bahkan saat itu, sekolah tersebut digratiskan.

“Beliau ingin agar anak-anak di sini bisa mengenyam pendidikan. Karena saat itu sekolah di sini masih jauh,” katanya.

Apakah ada pesan mendiang semasa hidup? Ditanya begitu, Ngurah Putra mengatakan semasa hidup almarhum senantiasa mengingatkan agar anak-anaknya tetap rukun dan menjaga persatuan. “Di samping itu, agar senantiasa berbuat yang terbaik untuk masyarakat, bangsa, dan negara,” kenangnya.

Selain itu, konon I Gusti Ngurah Rai sempat berpesan kepada istrinya, Desak Putu Kari agar kelak I Gusti Ngurah Tantra tetap tinggal di puri apa pun yang terjadi. Akhirnya, benar saja, Ngurah Tantra lahir, hidup, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di Puri Ngurah Rai yang notabene rumah yang dibangun pahlawan nasional tersebut saat baru berumah tangga.

“Jadi rumah ini dulunya adalah rumah Pak Rai. Beliau membangunnya saat mulai berkeluarga. Untuk mengenang Beliau, makanya kami beri nama Puri Ngurah Rai,” ucapnya.

Disinggung mengenai upacara pangabenan, Ngurah Putra mengatakan rencananya akan dilaksanakan April mendatang. Pasalnya menunggu usai Karya Agung di Pura Besakih. Upacara rencananya bersamaan dengan pangabenan mendiang I Gusti Ngurah Agung Danil Yunanda Yudha. “Rencananya nantinya upacara berbarengan dengan almarhum Gung Danil,” tandasnya.

Prof. Dr. I Wayan Windia yang merupakan salah satu teman dekat I Gusti Ngurah Tantra mengenang mendiang sebagai sosok yang sangat sederhana. Ia mengatakan almarhum merupakan bagian dari perjalanan sejarah I Gusti Ngurah Rai. Hidup sebagai putra pejuang saat itu, kata Windia, bukan hal mudah. Hal itu juga dialami oleh Ngurah Putra. “Bahkan beliau bersama ibunda sempat ditawan di tangsi Belanda di Gianyar,” jelasnya yang juga hadir di rumah duka.

Meski begitu, ketika situasi bangsa kembali pulih, Ngurah Tantra dikatakan tak tinggi hati. Justru tekadnya mengisi kemerdekaan sangat kuat. Salah satunya dengan mendirikan yayasan dan sekolah Panca Marga untuk anak-anak kurang mampu.

“Beliau tidak pernah bersikap berlebihan, meski menjadi anak seorang pahlawan besar,” tuturnya.

Nah, lanjut Prof. Windia, jiwa-jiwa patriotik namun tetap sederhana ini perlu diteladani masyarakat, khususnya generasi muda saat ini. “Saat itu mereka yang berjuang rela berkoban harta benda, bahkan nyawa. Berangkat bertempur, membawa bekal dari rumah. Yang punya beras, disumbangkan. Jadi prinsip mereka memberi untuk negara meski mereka menderita. Sikap-sikap ini yang perlu diteladani generasi saat ini,” ujarnya.

Guru Besar yang getol menyuarakan soal Subak ini pun mengingatkan agar masyarakat senantiasa memupuk rasa persatuan guna meneruskan perjuangan para pendahulu. “Mesti diingat, kemerdekaan Indonesia diraih dengan tetesan darah para pejuang,” tandasnya.

Almarhum meninggalkan tiga anak dan delapan cucu. Adapun ketiga anaknya adalah AA Wiwin Ratnawati, AA Ngurah Putra, dan AA Ngurah Jogana Tantra. Meski prosesi upacara pangabenan masih sekitar tiga bulan lagi, namun keluarga memilih menyemayamkan jenazah almarhum di rumah duka. 

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia