Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Sejarah Desa Yeh Kuning

Berawal Temuan Telaga Berwarna Kuning yang Dihuni Buaya Kuning

28 Januari 2019, 07: 18: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Berawal Temuan Telaga Berwarna Kuning yang Dihuni Buaya Kuning

BUKTI SEJARAH: Pura Ulun Kuning yang diyakini memiliki kaitan erat dengan sejarah nama Desa Yeh Kuning, Jembrana. (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, JEMBRANA - Keberadaan suatu tempat maupun nama tempat tersebut, beberapa diyakini terkait erat dengan sejarah yang melatarbelakanginya. Seperti Desa Yeh Kuning, Kecamatan Jembrana yang juga memiliki sejarah panjang, hingga disebut Yehkuning. Lantas seperti apa sejarah desa yang juga dikenal dengan kesenian calonarangnya itu?

Konon menurut cerita warga setempat, pada zaman dahulu di wilayah Desa Yeh Kuning ditemukan sebuah telaga dengan air yang berwarna kuning, dan juga dihuni seekor buaya kuning. Rangkaian temuan telaga hingga buaya, inilah yang akhirnya memunculkan nama Desa Yeh Kuning, yang bertahan hingga sekarang.

I Made Wartono, Bendesa Adat Desa Yeh Kuning mengatakan, Desa Yeh Kuning dengan semboyannya Mastiote Pahewerdin (artinya menggali mutiara untuk kemakmuran rakyat) itu, memang memiliki banyak cerita misteri yang berkembang di masyarakat mengenai latar belakang penamaan desa itu. Namun apa yang diyakini masyarakat selama ini, juga disertai dengan bukti-bukti kuat berupa peninggalan-peninggalan sejarah, yang hingga kini masih terpelihara di Desa Yeh Kuning. “Sebelum populasi penduduk bertambah banyak, Desa Yeh Kuning merupakan hutan lebat yang dikuasai Raja Jembrana,” ujar Wartono.

Seiring perkembangan zaman, lanjut Wartono, maka dahulu dilakukanlah pembebasan hutan, dimana saat itu yang mendapat jatah penuh adalah Desa Mendoyo Dangin Tukad dan Dauh Tukad. Memang secara geografis, Desa Yeh Kuning pada sisi utaranya berbatasan dengan Desa Mendoyo Dangin Tukad, dan di sisi timurnya berbatasan dengan Desa Delod Berawah. (sisi selatan berhadap dengan laut dan di sisi barat berbatasan dengan Desa Prancak)

Sementara itu, I Dewa Kade Mudiana, yang mantan Bendesa Pakraman Yehkuning mengungkapkan, sejarah keberadaan Desa Yeh Kuning erat kaitannya dengan ditemukannya bulakan (telaga, red) yang airnya berwarna kuning. Di lokasi telaga tersebut itulah, kini dibangun Pura Ulun Kuning yang sampai saat ini masih kokoh berdiri.

Dari penuturan tetua desa secara turun temurun, yang juga didukung dengan peninggalan sejarah, diceritakan sekitar tahun 1818, wilayah desa ini masih berupa hutan alang-alang. Meski begitu, sudah ada beberapa penduduk yang mendiami lokasi desa, walaupun jumlahnya sangat sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari. Diantara warga tersebut, salah satunya bernama Pan Minding yang memiliki pengaruh besar bagi kelompok masyarakat sekitar. Pan Minding sendiri kesehariannya sebagai pengembala hewan peliharaan (pengangon).

Suatu hari, Pan Minding bersama rekan-rekannya mengembalakan ternak mereka di ujung timur Desa Yeh Kuning, dekat dengan perbatasan Desa Delod Berawah. Saat itulah, mereka menemukan telaga (aliran) air yang sangat bening, dan mengalir dari arah timur desa menuju ke arah barat.

Lantaran penasaran, mereka memutuskan menyusuri aliran air tersebut, sekaligus ingin mengetahui darimana asal sumber air itu. Tidak terasa sampailah mereka pada hulu sungai yang tidak lain merupakan sebuah telebusan air. Penemuan sumber air tersebut sangat aneh bagi mereka, karena tidak biasanya ada telebusan air berwarna kuning, seperti yang mereka saksikan saat itu. Karena hari sudah larut malam, mereka memutuskan untuk kembali keesokan harinya, untuk menguji apa sebetulnya yang menyebabkan air tersebut berwarna kuning.

Tepat keesokan harinya, Pan Minding bersama beberapa warga kembali ke telebusan Yeh Kuning. Dia kemudian mengambil batu dan dilemparkan ke dalam air tersebut. Seketika batu yang sebelumnya berwana kehitaman, berubah warna menjadi kuning saat dilihat dari atas permukaan air. Rasa penasaran Pan Minding semakin besar, dan memutuskan menyelam ke dalam air untuk mengambil batu yang tadi dilemparnya.

Warga lain yang berdiri dipinggir telaga dan menyaksikan Pan Minding terjun ke dalam telaga menjadi kaget. Lantaran tubuh Pan Minding juga terlihat berwarna kuning keemasan. “Saat itu tidak hanya batu yang berubah warna, tubuh Pan Minding juga berubah menjadi berwarna kuning keemasan. Namun begitu muncul ke permukaan, dia kembali seperti semula, demikian juga batu yang dibawanya,” terang I Dewa Kade Mudiana, pria yang biasa disapa Dewa Aji ini.

Saat itu, menurut keterangan Pan Minding, bulakan tersebut memiliki dasar batu yang sangat halus dan besar. Tidak puas dengan apa yang ditemukan di sumber air yang ada di hulu tersebut, mereka selanjutnya memutuskan untuk mengikuti kemana aliran air tersebut bermuara. Setelah mengikuti aliran air, mereka berhenti di sebuah telaga, yang saat ini letaknya di Dusun Tengah. Ketika mereka mendekati telaga tersebut, baik Pan Minding maupun warga lainnya yang ikut mengikuti aliran air, melihat seekor buaya dengan kulitnya berwarna kuning keemasan. Namun buaya tersebut tidak menyerang mereka, karena Pan Minding beserta rombongannya tidak memiliki niat jahat.

Selang beberapa lama, penemuan telaga dengan air berwarna kuning oleh Pan Minding itu didengar orang-orang dari Kerajaan Jembrana. Sehingga saat itu, bagi warga Yeh Kuning yang hendak ikut berangkat bertempur ke Singaraja, terlebih dahulu memohon restu ke telaga yang dihuni Buaya Kuning itu. Dalam memohon restu tersebut, Raja Jembrana bersabda, kalau memang mereka bisa kembali dengan selamat ke Jembrana, maka tanah yang didiaminya akan diberikan nama Yeh Kuning.

Setelah perang usai, warga yang sebelumnya ikut berperang diketahui berhasil pulang dengan selamat. Akhirnya, sesuai sabda Raja Jembrana sebelumnya, daerah tersebut oleh raja diberi nama Desa Yeh Kuning.

(bx/tor/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia