Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Features
Menelusuri Prostitusi Online di Bali (2)

Ada Bule yang Kehabisan Uang, Ada Remaja Suka Tante-tante

28 Januari 2019, 20: 36: 04 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Bule yang Kehabisan Uang, Ada Remaja Suka Tante-tante

Bali sebagai destinasi pariwisata dunia, sepertinya ada dampak mengikuti urusan prostitusi. Kebutuhan akan “daging mentah” ibarat wajib di Bali. Selain juga pelanggannya malah orang lokal Bali. Pola pemasaran yang paling ngetop di era kekinian adalah sistem online.

 

TIM BALI EXPRESS 

 

KETIKA jaringannya sudah bisa didapatkan, beberapa cerita unik bisa tergali dari masing - masing cewek. Misalnya dari sosok Indri, yang masuk ketegori seperti tante - tante. Di umurnya 37 tahun dia mengaku adalah mantan pemandu lagu di salah satu karaoke ngetop di Denpasar.

“Saya pensiunan LC (Ladies Companion, sebutan lain Pemandu lagu, Red). Selain umur sudah tidak laku, saya juga sudah bosan mabuk,” ujar Indri.

Dia mengaku, sempat dengan dengan pria yang akhirnya “mengasuh” dirinya. Awalnya masih bisa sambil bekerja, tapi lama kelamaan dirinya “dirumahkan”. Artinya laki-laki itu mencarikan rumah kontrakan, untuk dirinya dan Indri diminta setia pada laki – laki itu. “Beberapa tahun aku sama dia aja, hingga akhirnya aku putus. Dan jadilah seperti sekarang,” kata dia.

Bagi Indri, saat ini pekerjaannya malah lebih sehat. Karena tidak setiap hari begadang sampai dini hari, tidak mabuk dan tidak kena inek. “Kalau dulu, begadang sampai pagi, mabuk sudah pasti, kemudian bisa– bisa kena inek. Bahkan ujung – ujungnya juga diajak keluar sama laki – laki,” kata dia.

Sedangkan saat ini dirinya sudah pasti. Jika memang ada yang order, dia layani dengan bayaran yang jelas. “Setelah itu istirahat, ada beberapa teman akhirnya seperti saya. Ada beberapa yang sudah menikah juga,” sambungnya.

Baginya yang paling menakutkan saat jadi LC, dia melihat langsung bagaimana temannya ada yang sampai overdosis (OD). “Temen lagi kenceng, terus minta. Setelah dikasi, langsung kejang - kejang, OD. Temenku itu akhirnya meninggal, itu yang bikin ngeri lagi jadi LC, selain memang udah umur,” imbuhnya.

Bagi Indri, dirinya yakin masih laku terus. Karena dia rajin merawat dirinya. Bahkan dia menyebut ada temannya sudah umur 43 tahun, tetap laku. Selain terawatt, dia mengatakan ada memang penggemar khusus tante – tante.

“Bahkan kadang ada anak remaja, malah lebih nyaman katanya sama tante - tante. Mungkin karena sudah berpengalaman, he he he,” cetusnya sambil terkekeh.

Sedangkan untuk jaringan anak – anak ABG, memang sangat tertutup. Caranya juga benar – benar kaku, bahkan mucikari benar – benar waspada. Berulang kali ditanyakan, siapa yang memberikan rekomendasi hingga tahu jaringannya. Cukup lama untuk meyakinkan, baru diberikan foto – foto. Tak cukup itu saja, untuk bisa tahu alamatnya juga sangat sulit.

Namun kondisinya benar – benar mengejutkan, rata – rata anak SMA berada di satu kamar. Mereka memang masih sangat kecil. “Benar bapak bukan polisi,” kata salah satu mucikari.

Para ABG yang “dijual” juga selalu menunduk. Hingga akhirnya dipilih salah satunya. Dalam memilih cewek-cewek ini, memang bisa hanya dengan foto. Atau bisa juga memilih langsung. Dibandrol mulai Rp 750 ribu, sampai ada yang Rp 1,5 juta.

Alasan mereka sampai akhirnya “jual diri” beragam. Namun rata – rata mereka ingin hidupnya mewah, punya ponsel bagus dan bisa mengikuti zaman. Selain memang kadang situasi keluarga, ada yang brocken home.

Selain memang, pola penjualan online dari mucikari orang per orang. Saat ini malah SPA plus – plus sudah membuat iklan terbuka di yotube dan media sosial lainnya. Mereka bahkan berani menunjukan gambar – gambar cewek yang menjadi therapies, selain pijat juga ada layanan lebih. Bahkan saat ini malah ada yang memang memberikan layanan pijat plus sampai tuntas.

“Kalau memang selama ini ada yang menyebut pijat sensasi, ada juga hanya layanan setengah – setengah, kalau mau lanjut terserah di dalam. Namun ada juga yang memang sudah dijual dengan layanan bebas tuntas,” ujar sumber terpercaya Koran ini.

Selain iklan di medsos, juga ada dikirim ke beberapa pelanggan setia secara online. Kemudian bisa boking secara online untuk nanti bisa mendapatkan therapies pilihan atau langganan. Koran ini mencari beberapa beberapa lokasi, memang saat ini sedang menjamur. Di kawasan Renon bahkan sangat banyak. Termasuk yang kelas elite ada di Kuta dan sekitarnya.

Yang menarik, ada salah satu SPA elite yang pernah memasarkan cewek bule. Ceritanya bule ini kehabisan uang di Bali, hingga sulit pulang ke negaranya. Beberapa hari akhirnya “jualan lendir” di Bali, hingga akhirnya bisa pulang kampung. “Ada bule asalnya dari… (tidak perlu disebutkan asalnya), kehabisan uang. Akhirnya datang ke sini (SPA), minta dicarikan orang yang mau menyewa. Akhirnya beberapa kali ada yang menyewa, walaupun dijual sampai Rp 6 juta. Ada beberapa yang seperti ini, termasuk memang ada ke Bali, sambil jual dirinya,” ujar salah satu Manager salah satu SPA.

Saat ada yang model seperti ini, dia mengaku sudah ada beberapa konsumen langganannya yang memang senang dengan bule langsung dikabari. “Gampang, nanti yang saya kabarin juga ngasi tahu temennya. Cepet laku,” pungkasnya sambil tersenyum. (habis) 

(bx/yes/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia