Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Setelah Dipralina, Barong “Hidup Lagi”, Kini Disebut Ida Ratu Sandat

29 Januari 2019, 19: 38: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Setelah Dipralina, Barong “Hidup Lagi”, Kini Disebut Ida Ratu Sandat

MEMARGA: Warga tiga desa di Gianyar ngiring sasuhanan dengan berjalan kaki menuju Pura Taman Sari Desa Tojan, Klungkung, Selasa (29/1). (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Bertepatan dengan piodalan yang berlangsung di Pura Taman Sari Desa Tojan Klungkung, tiga desa di Gianyar ngiring sasuhunan dengan memarga (berjalan kaki). Ketiga warga tersebut  terdiri atas Desa Serongga, Desa Lebih, Desa Tedung Kabupaten Gianyar. Mereka menuju Pura Taman Sari Desa Tojan Kabupaten Klungkung, pada pukul 05.00 dengan berjalan kaki, Selasa (29/1). Sejarahnya berawal dari kisah barong yang “hidup lagi” setelah dipralina.

Mantan Bendesa Desa Pekraman Serongga, Ida Bagus Putra menjelaskan, keterjalinan berawal sekitar abad XVIII.  Penglingsir di Puri Agung Serongga saat itu Anak Agung Gde Kepandean membuat dua buah petapakan dalam wujud Barong Ket. Karena suatu pertimbangan, Barong Ket pertama tidak dipakai dan diserahkan kepada A.A. Gede Kesiman asal Puri Siangan Gianyar. Barong Ket kedua yang akhirnya diputuskan dijadikan sungsungan (dipasupati) masyarakat Desa Serongga.

“Seiring berjalannya waktu masyarakat Desa Serongga merasa sangat terbebani dengan keberadaan sungsungan tersebut. Pasalnya Beliau mengkehendaki beberapa permintaan yang sulit dilaksanakan para panjak-panjaknya kala itu. Dengan kondisi tersebut masyarakat Desa Serongga resah, dan akhirnya Ida Anak Agung Gede Kepandean bersama masyarakat sepakat untuk mempralina dengan jalur membakar sesuunan tersebut,” ungkapnya.

Dijelaskan setelah dibakar hanya preraga (bagian badan) saja yang terbakar sedangkan prerai (tapel/topeng) masih utuh. Dari kejadian tersebut Desa Serongga sepakat membuang prerai ke Pantai Lebih. Ketika dibuang ke pantai terpecah menjadi dua bagian yang terdampar di Pantai Sedayu yang ditemukan oleh Petani Desa Sedayu.

Sedangkan satunya lagi di Pantai Batu Klotok yang ditemukan oleh Petani Desa Tojan. Akhirnya terdengar berita saat itu dan petani dan menyocokkan kedua bagian prerai tersebut dan dijadikan lelakut (orang-orangan sawah). Keanehan pun terjadi, para petani melihat ada yang bersinar di sawah tepat di lelakut terebut, karena berulang terus menerus dan akhirnya ditanyakan kepada orang pintar.

“Didapatlah informasi bahwa prerai tersebut berasal dari Desa Serongga. Dengan demikian (Desa Srongga) meminta prerai tersebut kepada Desa Sedayu dan menyungsung menjadi Ida Betara Ratu Gede Tojan,” papar IB Putra.

Untuk melengkapi keberadaan Ida Betara Ratu Gede Tojan, Desa Tojan meminta petapakan rangda yang berasal dari kayu sandat. Setelah dipasupati masyarakat Desa Serongga dan Tojan  kemudian menyebut Ida Betara Ratu Sandat.

Sedangkan Penglingsir Desa Lebih, Wayan Koram menambahkan  keterjalinan antara masyarakat supaya bisa terus berjalan sampai kapan pun. “Saya juga meyakini sesuunan yang kita sungsung saat ini juga memiliki emosional yang sama seperti yang masyarakat rasakan saat ini,” imbuhnya.

Dalam ngiring tersebut tepat pukul 05.00 warga Desa Serongga, Desa Lebih, Desa Tedung dan penyungsung pura bersama-sama mengiringi sesuunannya. Bahkan pagi itu diungkapkan juga jumlah warga yang ikut ribuan pengiring memadati jalan menuju ke Pura Taman Sari, Klungkung tersebut. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia