Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Di Balik Pengungkapan Kasus Prabangsa (2)

Perencanaan yang Luar Biasa, sampai Akhir Sidang Susrama Tak Mengaku

01 Februari 2019, 07: 36: 36 WIB | editor : I Putu Suyatra

Perencanaan yang Luar Biasa, sampai Akhir Sidang Susrama Tak Mengaku

Made Rai Warsa (SURPA ADISASTRA/BALI EXRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Almarhum AA Narendra Prabangsa merupakan salah satu jurnalis terbaik yang pernah dimiliki Jawa Pos Group. Mendiang ikut bergabung saat awal Radar Bali berdiri. Lambat laun, karena cakap dan dipandang mampu, mendiang pun menduduki posisi redaktur. Namun demikian, bagi Direktur Bali Express (Jawa Pos Group), Made Rai Warsa, Prabangsa tak sekadar jurnalis, melainkan sahabat.

Kedatangan Prabangsa ke kantor Radar Bali yang saat itu masih di kawasan Ubung, Denpasar gampang diketahui oleh Made Rai Warsa. “Satu ciri khas almarhum yang tak bisa saya lupakan, kalau di kantor biasanya memukulkan tangan ke meja atau pintu, seperti main kendang,” kenang Rai Warsa yang saat itu menduduki posisi Pimpinan Redaksi Radar Bali, Selasa (29/1).

Rai Warsa menuturkan, mendiang adalah sosok yang periang dan kadang humoris. Namun demikian, soal urusan pekerjaan, sangat tekun dan teliti. Ini dirasakannya, karena Rai Warsa sudah kenal Prabangsa sejak Radar Bali belum berdiri. Sesama jurnalis, Rai Warsa dan Prabangsa cukup dekat. Hal ini karena keduanya sempat menjadi jurnalis di media yang sama, yakni Nusa Bali. “Jadi kemana-mana (Prabangsa) memang selalu ikut. Bahkan saat itu Nusa sempat tidak terbit, saya membuat Tabloid Manggala, dia ikut,” ujarnya.

Awal mendirikan Radar Bali pun Rai Warsa mengaku sempat berdiskusi dengan almarhum. Namun demikian, Prabangsa memilih bergabung belakangan. “Dia masuknya tidak lebih dari setahun setelah itu (Radar Bali berdiri, Red),” ingatnya.

Kedekatan keduanya inilah yang membuat Rai Warsa sangat terpukul saat almarhum pergi untuk selamanya. Bahkan dengan cara yang sungguh tak terduga, dibunuh secara keji. Oleh karena itu, saat jenazah almarhum ditemukan di Teluk Bungsil, Padangbai, Karangasem, 16 Februari 2009 silam, Rai Warsa seolah tak mau lepas. Ia ikut di mobil dan duduk di samping jenazah menuju RSUP Sanglah. “Sedihnya tak usah diceritakan. Saat itu ada juga perasaan lega karena mayat bisa ditemukan, lebih sedih lagi kalau seandainya tak ditemukan,” ucapnya.

Apa yang ada di pikiran Rai Warsa saat mengetahui kenyataan Prabangsa telah berpulang? “Keluarganya. Saya harus memperhatikan mereka. Sekolah kedua anaknya saya coba bantu,” jawabnya.

Kini meski sudah 10 tahun berlalu, Rai Warsa tak bisa melupakan sosok almarhum. Apalagi Presiden Joko Widodo memberikan remisi perubahan masa hukuman kepada Nyoman Susrama, otak dari pelaku pembunuhan. “Saya juga tidak mengerti terkait remisi, masalah pengurangan hukuman. Kalau saya pribadi cermati, mestinya itu tidak keluar pengurangan hukuman, istilahnya kalau saya melihat itu sadis sekali. Sadis sekali,” ucapnya.

Menurut tokoh asal Payangan, Gianyar ini, pembunuhan terhadap Prabangsa dibuat dengan perencanaan yang luar biasa. “Bahkan sampai detik akhir sidang pun dia (pelaku) tidak mengaku melakukan itu,” ujarnya.

Selain itu, pembunuhan terhadap Prabangsa ditegaskan Rai Warsa melukai dunia jurnalistik. “Ini melukai atau mencederai teman-teman jurnalis, karena bagaimana perjuangannya, seperti apa kasusnya,” tegasnya.

Namun demikian, ia berharap keluarga mendiang tetap tabah dan kuat. “Keluarga memang harus tabah. Ini cobaan yang kedua. Saya bilang dia (istri almarhum) sudah sakit sejak awal kasus. Sampai sekarang pun dia sakit harus menanggung beban dua anaknya. Dia harus sendiri. Apalagi dengan munculnya masalah ini, kan istilahnya membangkitkan luka lama dan lebih luka lagi turunnya remisi. Keluarga pasti terluka,” tandasnya. (bersambung)

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia