Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ini Makna dan Tujuan Tradisi Sarin Taun di Pura Ulunsuwi Candikuning

02 Februari 2019, 20: 05: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Makna dan Tujuan Tradisi Sarin Taun di Pura Ulunsuwi Candikuning

UNIK: Suasana tradisi Sarin Taun yang dilaksanakan krama subak di Pura Ulunsuwi Candikuning, Banjar Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Tabanan. (DTW JATILUWIH FOR BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN - Di Bali, sistem pertanian subak sudah berlangsung sejak lama. Sebagai kearifan lokal masyarakat Bali, subak memang selalu punya hal menarik untuk dibahas, tidak hanya sistemnya di lapangan, tapi juga ritual atau upakara yang mengiringinya.

Salah satunya sebuah tradisi yang sudah berlangsung sejak jaman dulu di Pura Ulunsuwi (Pura Subak, red) Candikuning yang berlokasi di Banjar Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan. Tradisi yang disebut Sarin Taun itu, secara turun-temurun dipercaya sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang telah diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pekaseh Subak Jatiluwih, I Wayan Mustra, 48, menuturkan, tradisi Sarin Taun ini memang rutin dilaksanakan di Pura Ulunsuwi Candikuning oleh krama Subak Jatiluwih Tempek Gunung Sari. Dimana tradisi ini hanya jatuh setiap tiga tahun sekali. “Jadi setiap enam bulan sekali kami menggelar pujawali, tepatnya setiap Buda Kliwon Pegat Uwakan. Dan untuk menggelar Sarin Taun ini, kami harus melalui piodalan alit dua kali, kemudian piodalan ageng satu kali, dilanjutkan piodalan alit dua kali lagi, kemudian baru ngaturan Sarin Taun ini. Jadi jatuhnya setiap tiga tahun sekali,” paparnya. Karena hanya dilakukan setiap tiga tahun sekali, maka pelaksanaan Sarin Taun ini sangat spesial dan selalu ditunggu-tunggu krama Subak.

Mustra memaparkan, awal prosesi piodalan berlangsung seperti piodalan pada umumnya. Hanya saja satu prosesi yang berbeda yakni ketika ngaturang Sarin Taun, maka masing-masing anggota subak membawa Dewa Nini yang sudah dirias cantik. Dewa Nini sendiri merupakan ikatan padi yang dibuat para petani usai panen padi Bali, yang kemudian diletakkan pada Jineng atau Lumbung yang ada di masing-masing rumah mereka.

“Dewa Nini ini dirias, ada lanang dan istri sebagai simbol Dewi Sri atau Dewi Kemakmuran, diisi bunga agar cantik dan dibawa ke pura,” imbuhnya.

Selanjutnya Dewa Nini ini dengan diiringi krama subak pertama akan menggelar pecaruan. Kemudian memendak, disusul mesucian ke beji, lalu peklemigian, barulah ngaturang piodalan, hingga prosesi kairing mejaya-jaya. Disamping itu, masing-masing krama juga membawa satu ikat padi yang nantinya diletakkan ke Jineng masing-masing. Setelah runtutan itu usai, biasanya suasana mistis mulai menyeruak, dimana beberapa orang sutra akan mengalami kerauhan dan memberikan paica Manik Galih kepada krama subak. “Manik Galih ini juga akan dituntun dan diletakkan di Jineng masing-masing. Prosesi terakhir adalah nyineb,” paparnya.

Menurutnya, tradisi yang secara turun temurun dilaksanakan tersebut, memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur atas merta atau hasil pertanian yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa utamanya Dewi Sri sebagai Dewi Kemakmuran. “Kami mengucapkan rasa syukur telah diberikan merta berupa hasil pertanian, sekaligus memohon agar hasil panen lebih baik lagi,” tegasnya.

Subak Jatiluwih Tempek Gunung Sari sendiri memiliki anggota 98 orang dengan 33 tektek atau pembagian air, serta luasan tanah garapan mencapai 60 hektare. Diakuinya jika selama ini tradisi Sarin Taun selalu dilaksanakan alias tidak pernah absen digelar, terkecuali desa pakraman mengalami cuntaka. “Pasti dilaksanakan, kecuali desa pakraman mengalami cuntaka,” imbuhnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia