Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Features
Di Balik Pengungkapan Kasus Prabangsa (4)

Made “Ariel” Suardana Harus Berhadapan dengan Seniornya

03 Februari 2019, 20: 20: 18 WIB | editor : I Putu Suyatra

Made “Ariel” Suardana Harus Berhadapan dengan Seniornya

BERIKAN POSTER: I Made “Ariel” Suardana didampingi Ketua AJI Denpasar Nandhang R. Astika saat bersama Solidaritas Jurnalis Bali (SJB) menyerahkan poster cabut remisi bagi pembunuh jurnalis kepada Kepala Kanwilkumham Bali, Sutrisno, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Advokat muda, I Made “Ariel” Suardana turut tersentak dengan pemberian remisi perubahan hukuman kepada I Nyoman Susrama, terpidana kasus pembunuhan jurnalis AA Gede Bagus Narendra Prabangsa. Dia mengaku kecewa dan menyesalkan keringanan hukuman itu. Karena dia merasakan sendiri bagaimana rumitnya mengawal dan memantau proses persidangan terhadap Susrama dan anak buahnya.

Sangat beralasan bagi Made “Ariel” Suardana kalau belakangan ini ikut turun ke jalan. Ikut melakukan aksi damai. Mengecam pemberian remisi perubahan hukuman bagi Susrama tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, setidaknya dalam dua pekan terakhir ini, Suardana terjun langsung bersama awak media yang tergabung dalam Solidaritas Jurnalis Bali (SJB) ke Kantor Wilayah Hukum dan HAM Provinsi Bali.

Harapan dari gerakan ini hanya satu. Meminta Presiden Joko Widodo yang mengeluarkan remisi bagi Susrama lewat Kepres Nomor 29 Tahun 2018 ditinjau ulang. Bila perlu dicabut.

Dorongan yang dialami Suardana tidak lepas dari pengalamannya saat proses persidangan kasus pembunuhan Prabangsa digelar di Pengadilan Negeri Denpasar pada sepuluh tahun silam.

Saat itu dirinya kebetulan bertugas sebagai Ketua Pos Bantuan Hukum (Posbakum) DPC Peradi Denpasar. Salah satu tugas yang mesti dia jalani saat itu adalah mengawal dan memantau jalannya persidangan kasus yang terhitung paling menonjol pada 2009 lalu itu.

Satu pengalaman yang tidak pernah dia lupakan pada masa itu, hingga kini membekas dalam perjalanan karirnya sebagai seorang advokat, adalah saat dirinya harus berhadapan dengan seniornya sendiri, Nyoman Suryadharma.


Di saat itu, pada pertengahan proses persidangan, dirinya mendampingi SJB untuk mengadukan advokat Suryadarma. Rekan sejawat sekaligus seniornya yang kebetulan sebagai kuasa hukum para terdakwa.

“Masalah Suryadarma saat itu mempengaruhi Nengah Mercadana untuk memberikan keterangan palsu. Dan Suryadarma akhirnya diputus bersalah karena melanggar Kode Etik Advokat. Hukumannya skorsing enam bulan,” kenangnya.

Baginya, pada situasi itu dirinya berada dalam posisi yang dilematis. Di situlah ujian profesi yang sesungguhnya sedang dia jalani. Karena di satu sisi dia dan dirinya sendiri berada pada payung organisasi yang sama kala itu yaitu Peradi Denpasar. “Tapi di sisi lain, saya sedang berhadapan dengan dia (Suryadarma) yang sedang membela para tersangka,” ujarnya.

Pengalaman ini, sambung dia, sempat membuat hubungan dirinya dengan Suryadarma menjadi tidak harmonis. Dia saat itu harus berada pada pilihan menegakkan prinsip kebenaran dalam menemukan fakta yang sebenarnya. “Saya tidak akan melupakan situasi pada saat itu,” tukasnya.

Selain itu, sambung dia, saat mengawal dan memantau proses persidangan kasus pembunuhan Prabangsa, dirinya pasti ditugaskan untuk menyampaikan tanggapan atas jalannya persidangan.

“Itu menjadi kegiatan rutin. Memantau sidang dari waktu ke waktu. Dan yang paling menghentak, saat jaksa mengajukan tuntutan hukuman mati. Meskipun oleh hakim putusan bagi terdakwa menjadi seumur hidup,” pungkasnya. (habis)

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia