Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Meminimalkan Sampah Plastik dari Sarana Upakara

04 Februari 2019, 18: 43: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Meminimalkan Sampah Plastik dari Sarana Upakara

SAMPAH: Aksi sosial membersihkan sampah di kawasan Pura Besakih, Karangasem pada Sabtu (2/2) lalu. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tak bisa dipungkiri, modernisasi telah merambah praktik kehidupan beragama saat ini. Salah satunya masyarakat Hindu di Bali yang juga berjalan seiring zaman. Sesuai prinsip masyarakat modern, praktis dan efisien adalah salah satu hal yang penting. Hal ini kemudian merembet pada upacara dan upakara.

Bisa dilihat, upakara pun tak luput dari modifikasi. Tak hanya rupa, tapi juga bahan. Jika dahulu masyarakat Bali menggunakan bahan-bahan yang alami, kini sebagian telah menggunakan bahan-bahan kimiawi. Misalnya saja bungkus jajan berbahan plastik. Kehadiran plastik menjadi begitu lekat dalam sarana upakara. Belum lagi produk seperti buah dan jajanan lokal yang tergeser impor.

Terkait hal ini, Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Dhaksa menyampaikan, sebenarnya para leluhur mengajarkan untuk melakukan upacara yadnya menggunakan produk dari daerah setempat. “Sehingga apa yang kita hasilkan di tempat itu, itu yang kita persembahkan. Tetapi belakangan sesuai dengan zaman. Sekarang kan zaman orang praktis dan pragmatis,” ungkapnya belum lama ini.

Jika dilihat dari nilai persembahan, menurut sulinggih dari Griya Agung Batur Sari, Banjar Gambang, Mengwi ini, memang tidak ada masalah. Semua kembali kepada niat dan ketulusan umat yang mempersembahkan. Akan tetapi, jika umat tidak mempertimbangkan dampak dari persembahan, juga menurutnya kurang tepat. “Karena apa yang kita perbuat, itulah persembahan kita. Berarti habis kita sembahyang, lalu limbah berceceran, itulah yang yang kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi,” jelasnya.

Jadi semestinya, lanjut sulinggih yang saat walaka bernama I Komang Timur Yasa ini, umat hendaknya mempersembahkan sesuatu yang berasal dari daerah setempat. Termasuk mempertimbangkan bahan yang digunakan, yakni bahan yang alami dan ramah lingkungan. “Kita beryadnya, betul kita mempersembahkan sesuatu sesuai apa yang kita punya. Tapi bagaimana kita juga bisa memelihara lingkungan. Itu persembahan yang paling utama sebenarnya,” terangnya.

Terkait dengan pemerintah di Bali, mulai dari jajaran gubernur hingga bupati dan walikota yang mulai berkomitmen mengurangi penggunaan plastik, menurut Ida Pandita sangat tepat. Pasalnya, dalam hal ini pemerintah memegang peranan penting terhadap pelestarian lingkungan. Terlebih Bali selama ini dikenal sebagai pulau yang kental dengan konsep religius, termasuk lingkungan melalui konsep Tri Hita Karana. “Jadi langkah yang dilakukan gubernur, walikota, dan bupati sekarang, kami sangat mensupport,” tegasnya.

Ida Pandita juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama sadar lingkungan. Hal itu, kata dia hendaknya dilakukan dari internal terkecil dulu. Seperti di griya, dimana pihaknya berusaha mengurangi penggunaan plastik. Contohnya penggunaan air dalam kemasan. “Ini saya arahkan agar diganti dengan galon, sehingga bisa mengurangi sampah plastik,” katanya.

Dengan demikian, sulinggih yang semasa muda aktif di Persatuan Sepak Bola Kabupaten Badung (Persekaba) ini menegaskan, kembali agar umat mempersembahkan produk lokal berbahan alami. “Persembahkanlah produk dari daerah masing-masing. Kalau kita berbicara praktis, memang praktis, tapi terkadang kurang baik untuk lingkungan. Jadi kembali ke jati diri orang Bali, buat persembahan berbahan alami. Misalnya gunakan daun,” tegasnya.

Langkah itu juga menurutnya belum terlambat. Yang jelas, perlu komitmen dan kerja sama seluruh pihak. “Ini belum mendarah daging. Dengan demikian para stakeholder di Bali sangat berperan untuk memberi tahu masyarakat. Termasuk sulinggih, pamangku, bendesa, kelian dan sebagainya mari sama-sama berperan serta,” ajaknya.

Para stakeholder, kata dia, perlu mengingatkan secara kontinu. Hal ini memang perlu waktu. “Misalnya di merajan, pura, dan sebagainya, habis sembahyang, agar diarahkan masyarakat mengambil sisa upakara untuk dibuang pada tempat yang telah disediakan,” tandas sulinggih 59 tahun ini.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia