Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Semangat Toleransi Jelang Imlek

Oleh: Dodik Prasetyo*

04 Februari 2019, 19: 18: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

Semangat Toleransi Jelang Imlek

Ilustrasi (ISTIMEWA)

TAK lama lagi, masyarakat Etnis Tionghoa akan merayakan tahun baru imlek. Di Indonesia, selama tahun 1969 – 1999, perayaan tersebut dilarang dirayakan ditempat umum. Dengan instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, diantaranya Imlek.

Semangat toleransi beragama lantas muncul berkat Presiden Abdurrahman Wahid yang mencabut Inpres Nomor 14 / 1967. Kemudian Gus Dur menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 / 2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Barulah pada tahun 2002. Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati pada tahun 2003.

Semangat toleransi juga dijunjung oleh  komunitas Gusdurian Pasuruan yang turut bergabung dalam tradisi bersih – bersih altar suci di Klenteng Tjoe Tiek Kiong. Tradisi tersebut memang rutin dilakukan pada tiap satu pekan jelang perayaan.

Tampak 4 orang dari Komunitas “Gitu Aja Kok Repot” Gusdurian Pasuruan akrab berbaur dengan umat tridharma Klenteng Tjo Tiek Kiong Pasuruan. Sembari membersihkan patung salah satu Dewi di ruang persembahyangan utama.

Semangat menjalin persatuan dalam keberagaman seperti ini tentu sangat penting untuk dijalin agar lebih mengenal dan saling belajar memahami satu sama lain.

Seperti kalimat yang pernah disampaikan oleh Gus Dur, “Jika sudah mengenal, maka kami bisa belajar memahami dan membantunya apabila memang dibutuhkan, bahkan bisa saling menjaga satu sama lain. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka akan semakin besar rasa toleransinya.

Yudhi Darma Santoso, Guru Kong Hu Cu di Klenteng yang berlokasi di Kelurahan Trajeng Kecamatan Panggungrejo Kota Pasuruan ini, juga memiliki keselarasan dalam menjunjung sikap toleransi.

Tak aneh jika pengurus klenteng Tjo Tiek Kiong terlihat sangat akrab dengan anggota Gus Durian Pasuruan, usut punya usut mereka sama – sama mengidolakan satu sosok yang sama yakni KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, Presiden RI ke 4.

Pihak klenteng juga menginformasikan, bahwa perayaan sakral pada saat imlek dilaksanakan saat malam hari menjelang Tahun Baru Imlek. Sementara perayaan secara meriah dengan hiburan kesenian seperti barongsai, diadakan pada saat Cap Go Meh yaitu 15 hari pasca tahun baru Imlek.

Sedangkan perayaan Imlek oleh warga keturunan Tiong Hoa di Nusa Tenggara Timur merupakan momentum atau kesempatan berharga untuk memperkuat semangat toleransi dan kerukunan hidup antar dan inter umat beragama.

Sekretaris uskup Romo Gerardus menuturkan, masyarakat Muslim, Kristen, Katholik, Hindu Dan Budha yang ada di Provinsi NTT itu perlu menghormati, mendukung bahkan ikut menyukseskan serta memperkuat semangat toleransi kepada kalangan lain yang akan merayakan hari besar masing – masing.

Hal ini wajar dilakukan karena Provinsi NTT merupakan daerah dengan penduduk yang heterogen dengan penduduk yang berbeda – beda baik etnis maupun agamanya. Sehingga perlu dijaga dan dipertahankan dengan cara – cara yang telah lama dilakukan ketika hari – hari besar keagamaan sendiri atau sesama pemeluk agama lainnya.

Sementara itu Ketua Majelis Ulama NTT H Abdul Kadir Makarim mengatakan bahwa perayaan hari besar agama baik Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu sudah masuk dalam agenda tahunan yang melibatkan masyarakat tanpa membeda – bedakan agama dan etnis.

Tujuan dari pelibatan masyarakat dari berbagai komponen agar kerukunan antarumat beragama yang sudah terjalin dengan baik di daerah makin meningkat dan rukun mengharum seperti digelorakan oleh Kementrian Agama Kanwil Agama NTT dengan motto, “NTT Rukun Mengharum”.

Sedangkan menurut ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili Timor Pdt Robert Litelnoni. S.Th mengatakan. Imlek perlu dimaknai sebagai salah satu momentum untuk terus memperbaharui semangat kerukunan antarumat beragama dan untuk wujudkan masyarakat yang Agamis Rukun Mengharum.

Di Indonesia Imlek tidak hanya dirayakan orang Tionghoa dalam tradisi Konghucu semata, namun menjadi bagian dari tradisi komunal yang mempertemukan ragam budaya. Dari sana pula, kita bisa saksikan narasi panjang historiografi Nusantara.

Dalam perkembangannya, perayaan Imlek tidak hanya menggema di antara etnis Tionghoa  namun gaungnya juga terasa di tengah – tengah masyarakat Indonesia. Suasana harmonis saat masyarakat dari berbagai etnis dapat berbaur menikmati nuansa Imlek ini merupakan potret yang menunjukkan bahwa Indonesia dapat menjadi melting pot dimana berbagai etnis dan budaya bisa hidup secara selaras, toleran dan saling menghormati.

Bukti toleransi nyata juga bisa ditemui di kawasan Pecinan Semarang tepatnya di pasar semawis, yang akan terlihat jauh lebih ramai di malam perayaan Imlek. Selain karena interiornya yang lebih meriah dan mewah dengan lampion dan lampu serba merah, kawasan ini juga menyuguhkan pertunjukkan seni barongsai, gambang semarang, wayang, jipin, hingga wushu.

Pasar semawis juga menyuguhkan ratusan pilihan kuliner khas kaki lima seperti bubur, nasi goreng babat gongso, es puter, kue keranjang, nasi pindang, tentu bagi umat muslim tak perlu khawatir karena di pasar ini juga menyajikan banyak menu halal. Hal ini dimaksudkan agar kemeriahan Imlek juga bisa dirasakan oleh semua kalangan.

Semangat toleransi juga kental terasa di Lombok yang berpusat di kawasan Cakranegara, Mataram. Pada Tahun Baru Imlek, acara tersebut bertajuk Silaturahmi Budaya Tahun Baru Imlek.

Dalam acara tersebut Masyarakat tionghoa berkumpul dengan sugugan 5000 lebih kue keranjang  dan 1000 porsi lontong Cap Go Meh secara gratis. Banyaknya suguhan gratis juga boleh dinikmati oleh masyarakat non - Tionghoa.

Hal ini tentu menunjukkan bahwa semangat kebhinekaan harus dijunjung, perbedaan bukan halangan untuk bersatu, dan keberagaman bukan halangan untuk hidup selaras dalam kebersamaan. Warna kulit mungkin berbeda, keyakinan juga berbeda namun terlepas dari hal itu, kita semua saudara. (*)

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia