Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Siat Sarang, Simbol Perlawanan Diri pada Sifat Keraksaan

08 Februari 2019, 07: 46: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Siat Sarang, Simbol Perlawanan Diri pada Sifat Keraksaan

PERANG: Suasana prosesi Siat Sarang serangkaian Usaba Dimel atau Aci Sri yang digelar Desa Pakraman Selat pada 4 Februari lalu. Siat Sarang merupakan simbol perlawanan diri kepada sifat keraksasaan dalam diri. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Masih dalam rangkaian prosesi Usaba Dimel atau Aci Sri, sebuah ritual unik juga dilaksanakan Desa Selat, Karangasem. Prosesi yang disebut dengan Siat Sarang ini digelar tepat pada Senin, 4 Februari lalu. Sarang merupakan sebuah wadah jaje uli yang terbuat dari daun jaka muda, yang diulat menyerupai mangkok berukuran sedang.

Bendesa Selat, Jero Mangku I Wayan Gede Mustika menjelaskan, Siat Sarang merupakan simbol dari bentuk perlawanan diri kepada sifat keraksasaan dalam diri. “Kenapa menggunakan sarang, karena Sarang adalah simbul kesuburan. Dan prosesi Siat Sarang ini merupakan rangkaian dari Aci Sri,” terangnya.

Prosesi Siat Sarang hanya dilakukan teruna yang belum pernah menikah. Prosesi ini dimulai dengan melaksanakan pecaruan kecil di masing-masing rumah. “Filosofinya, kami mengumpulkan semua bhuta kala yang ada di desa ke arah catus pata di pertigaan desa. Di sana akan diberikan tetabuan berupa celeng (babi) dan cicing (anjing) belang bungkem. Tujuannya agar mereka tidak mengganggu,” terangnya.

Para bhuta kala itu disimbolkan sebagai perwujudan dengan tenge (sebuah adegan yang dibuat dari daun jaka). “Ya kami menyebutnya dengan tenge. Itu simbol dari para bhuta kala di buana agung,” terangnya.

Usai prosesi tetabuan, Siat Sarang dimulai, dengan 45 orang pemuda yang telah siap dengan Sarang mereka masing-masing. Sebelum Siat Sarang dimulai, seorang prajuru dresta memberikan aba-aba. “Sebelum dimulai, biasanya akan diawali dengan mantra khusus. Tujuannya agar prosesi berjalan sebagaimana mestinya,” terangnya.

Tak hanya para teruna, anak-anak lelaki pun ikut serta dalam prosesi ini. Keikutsertaan anak laki-laki, karena diidentikkan dengan sifat bhuta. “Lebih banyaklah kadarnya dibanding wanita,” terangnya.

Dalam Siat Sarang, peserta tidak boleh memukul alat vital, dan bagian tubuh penting lainnya. Sebab meski Sarang itu berbahan daun, tapi jika digunakan untuk memukul tetap akan menimbulkan rasa sakit.

Dalam prosesi itu, masyarakat menggunakan 120 buah Sarang, yang mana untuk setiap kepala keluarga masing-masing mengeluarkan 2 buah Sarang untuk di catus pata. “Sebenarnya perang ini dilakukan di setiap perempatan desa. Namun pusatnya di catus pata ini. Jadi masing-masing juga harus mengeluarkan 2 Sarang,” terangnya. Selain itu, dalam prosesi ini juga tidak ada batasan waktu. Karena prosesi akan berlangsung hingga Sarang yang mereka bawa hancur dan tidak berbentuk.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia