Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Usaha Rakyat itu Warung Kuliner ala Sopir Truk Pasir

Oleh: Made Adnyana Ole

09 Februari 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Usaha Rakyat itu Warung Kuliner ala Sopir Truk Pasir

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

DULU, sekitar tahun 1980-an dan 1990-an, rumus sederhana menentukan warung makanan lokal-tradisional yang sejati-jatinya jaen, enak, dan maknyus di Bali, adalah dengan melihat di mana biasanya sopir truk pasir ramai-ramai berhenti untuk mengisi perut sehabis pegal kaki menginjak gas dan rem di jalur tanjakan berliku-liku. Saya salah satu penggemar makanan tradisional yang percaya rumus itu.  

Jika menemukan truk parkir berderet panjang di tepi jalan, terutama di jalur truk pasir Karangasem-Klungkung-Gianyar-Badung-Tabanan, atau di jalur utara Karangasem-Buleleng-Jembrana, maka patut diduga di situ terdapat tempat makan dengan menu yang tak akan mengecewakan. Turunlah, coba ikut ngantri dan berbaur bersama sopir truk, bisa dengan duduk sambil ngobrol, atau berdiri jika perut sudah makidung, sembari mencuri-curi kesempatan untuk menyalip antrian.

Saat masih SMP sekitar tahun 1980-an, paman saya punya truk dengan sopir yang selalu merasa kesepian jika menjemput pasir sendirian ke Klungkung. Maka, saat libur, saya biasanya dirayu jadi kernet dadakan. Rayuannya hampir selalu sukses, karena ia punya kata kunci yang jika ia ucapkan maka seketika terbit air liur saya, dan setelah itu saya akan mengangguk-angguk lalu melompat ke jok depan. 

Kata kuncinya: “Nanti saya ajak beli sate-lawar di Mambal!” Atau, “Di Darmasaba ada dagang babi genyol enak!” Atau, “Nanti kita beli nasi be guling di Gianyar!”. Atau, “Di Klungkung rasa babi gulingnya lain dengan di Badung!” Atau, “Kini ada dagang nasi be lindung di Sangeh!”

Sejak kecil saya memang penggemar makanan tradisional Bali, karena bagi saya itulah  menu makanan paling mewah dibanding menu lain, semisal bakso dan sate kambing yang memang sudah ada sejak dulu  Salah satu ciri kemewahan adalah kelangkaan yang sulit didapat di sembarang tempat dan dalam waktu yang cepat dan tepat.

Hampir semua menu yang disebutkan oleh sopir truk paman saya itu memang benar-benar langka, tak ada di sembarang tempat, dan harus ditemukan dalam waktu yang tepat. Hampir semua pedagang yang disebutkan itu berjualan di wilayah bengang, tanah kosong di tepi sawah atau tegalan, yang terpisah agak jauh dengan pemukiman. Warung mereka biasa disebut rompyok, hanya beberapa potong bambu sebagai tiang dan klangsah sebagai atapnya.

Kita bisa tahu jam berapa mereka mulai buka, namun kita tak pernah tahu kapan mereka tutup. Yang menjadi ukuran adalah barang dagangan. Jika barang dagangan habis, ya, tutup. Tak peduli seberapa banyak pelanggan kecewa. Dan, meski pelanggannya bertambah banyak, mereka tak pernah rakus untuk menambah barang dagangan agar semua pelanggan bisa terlayani. Jika kemarinnya ia hanya menyediakan nasi hanya satu sokasi, sepanci kuah dan seratus tusuk sate, besoknya tetap saja ia menyediakan nasi satu sokasi, sepanci kuah dan seratus tusuk sate, meski mereka tahu pelanggannya terus bertambah.

Hukumnya jadi jelas, siapa tepat waktu, dialah yang dapat. Dan, tepat waktu di sini bukan berarti jam 9, jam 10 atau jam 11. Tepat waktu itu lebih pada nilai keberuntungan, yakni waktu pada saat kita tiba bersamaan dengan barang dagangan masih tersisa. Semisal kemarin kita datang jam 10, nasi habis. Lalu besoknya kita bisa datang lebih cepat, jam 9, tapi belum tentu juga makanan masih tersedia.

Ajaibnya, pelanggan-pelanggan rompyok nasi jaen itu sebagian besar adalah sopir truk pasir yang waktu perjalanan dan waktu tibanya tak bisa ditebak. Jika tak tepat waktu,  seorang sopir truk  bisa tak mendapatkan satu pun dagang nasi enak yang digemari para sopir, karena semuanya sudah tutup, atau beberapa justru belum buka. Jika begitu, sopir truk akan ikhlas saja makan di warung yang tak memenuhi kriteria dan selera umum para sopir truk, misalnya nasi goreng atau capcay.   

Saya bersama sopir truk paman saya itu pernah mengalami sial akibat tak tepat waktu. Saya sudah lapar betul, dan sopir truk sudah ngebut dari Klungkung agar tiba secepatnya di sebuah warung makan sate campur kuah balung sekitar perbatasan Klungkung dan Gianyar, tapi setiba di tempat itu pedagang tampak sudah berkemas untuk pulang.

“Habis, Pak. Teman-teman sopir tadi banyak juga yang tak dapat,” kata si pedagang dengan santai.

Kami segera meluncur ke tempat lain, juga habis. Lalu di satu tempat, kalau tak salah ingat di sekitar desa-desa yang saat itu masih sepi di wilayah Ubud, banyak truk berhenti, berderet di tepi jalan. Kami lega karena hampir dipastikan warung yang menjual babi guling dengan basa begalo yang enak itu masih buka. Namun begitu turun, ada sopir truk yang datang dari warung dengan wajah kecewa dan meminta kami naik lagi ke truk. “Sudah habis,” katanya. “Saya sendiri tak dapat apa-apa!”

Kami melanjutkan perjalanan dengan gas agak kencang. Di salah satu pojokan di ruas jalan dari Ubud ke Mambal hingga ke Darmasaba, salah satu warung yang biasa menjual lawar, justru tidak buka. Kami turun dan orang-orang di sekitar warung memberi semacam pengumuman. “Tutup, Pak. Pedagangnya sedang panen!”

Kami putus asa dan akhirnya dengan perasaan jengah, secara sengaja kami menuju dagang sate kambing di dekat Pasar Beringkit, padahal jalur itu tak seharusnya kami lewati. Bayangkan, dari Klungkung, kami menahan lapar, sehingga maklumlah di Beringkit kami masing-masing makan dua porsi sate kambing.

Kuliner dengan pelanggan para sopir truk pasir itu (saya sebut kuliner sopir truk), adalah usaha rakyat yang sesungguh-sungguhnya khas rakyat. Dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan siapa-siapa, tanpa tekanan, seakan mereka berjualan sesuka-sukanya. Mereka mencari tanah kosong yang tak digunakan, tentu agar tak perlu menyewa. Karena jika menyewa, mereka akan membebani para pelanggan dengan menaikkan harga. Mereka menjual menu makanan secukupnya, merasa tak perlu membesarkan usaha, karena itu artinya menambah modal dan bisa-bisa menambah utang. 

Kenapa mereka tak mau buka sepanjang hari, meski pelanggan mereka terus bertambah? Dulu, saya tak paham dan sering mengganggap mereka ajum. Jauh hari kemudian saya tahu, mereka ternyata tak ingin meninggalkan sawah mereka, babi dan sapi peliharaan. Sebab, jika mereka berjualan seharian, tanah mereka bisa terbengkalai, tak terurus, dan itulah mungkin akan menjadi salah satu penyebab punahnya pertanian di Bali.

Tapi kini, kuliner sopir truk itu sudah nyaris punah. Tak ada tanah kosong dengan rompyok sederhana. Yang ada lebih banyak ruko berderet-deret, meski sebagian besar tampak kosong tak tersewa. Jika pun masih ada menu tradisional dan jaen dan maknyus, sebagian besar sudah masuk jadi menu restoran. Maka menu tradisional kini dianggap mewah karena mahal dan sulit terjangkau kantong orang biasa.

Berbeda dengan dulu, menu itu dianggap langka akibat tak banyak orang yang mau meninggalkan sawah dan sapi peliharaan untuk berjualan sepanjang hari di tepi jalan. Bah, kini, kasusnya beda, para pengusaha rakyat yang sesungguh-sungguhnya rakyat itu, tak bisa berjualan justru karena dikalahkan pengusaha banyak modal,  di antaranya adalah pemilik modal yang berani berhutang dan disayang bank, tapi jika kemudian usahanya rugi mereka teriak-teriak kepada pemerintah agar nasib mereka diperhatikan. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia