Rabu, 20 Feb 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Kerja Bersama Menangkal Propaganda Firehose of Falsehood

Oleh: Rahmat Kartolo*

09 Februari 2019, 18: 47: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kerja Bersama Menangkal Propaganda Firehose of Falsehood

Ilustrasi (ISTIMEWA)

DUNIA perpolitikan sempat geger dengan adanya metode kampanye ala Donald Trump, dimana kampanye tersebut menggunakan metode propaganda yang dikenal dengan sebutan Firehose of Falsehood.

Dalam propaganda ini mempunyai 2 karakteristik. Yaitu adanya tingkat pesan atau informasi dalam jumlah yang sangat tinggi dan adanya penyebaran informasi yang salah atau hanya sebagian benar, atau bahkan berupa fiksi.

Propaganda ini dikeluarkan secara masif dengan kuantitas tinggi melalui berbagai chanel sumber berita. Propaganda tersebut dibuat dalam jumlah yang luar biasa tinggi kuantitasnya dan disiarkan melalui banyak sekali saluran berita, baik berupa teks, audio, video yang memanfaatkan segala macam media yang ada.

Sumber informasi yang beragam dengan jumlah informasi tinggi merupakan hal yang penting, karena sumber info yang digunakan oleh banyak orang akan lebih meyakinkan masyarakat bahwa sumber berita tersebut benar dan dapat dipercaya, tanpa memperhatikan kredibilitas orang – orang yang menggunakan sumber berita tersebut.

Seseorang merasa bahwa sebuah sumber informasi lebih dapat dipercaya jika banyak orang lain yang juga mempercayai informasi tersebut. Apabila jumlah informasi yang dikeluarkan untuk propaganda tidak terlalu banyak, masyarakat cenderung lebih menyukai pendapat para ahli.

Propaganda ini juga mamiliki ciri khas seperti, informasi yang gencar dikeluarkan secara masif, hal ini bertujuan untu menarik perhatian orang dan akan menenggelamkan informasi – informasi dari lawan.

Informasi yang dikeluarkan dalam jumlah tinggi akan membanjiri media sehingga akan menutup informasi milik lawan politisnya, karena akan menimbulkan banyak reaksi dari lawan untuk menolak informasi yang dianggap tidak benar tersebut.

Selain itu, kejadian apapun akan sangat cepat ditangkap sebagai sebuah peluang untuk dijadikan sebagai bahan propaganda. Walaupun tidak diikuti dengan fakta yang benar dan obyektif.

Secara psikis hal tersebut akan menunjukkan bahwa kesan pertama akan sangat kuat bertahan dalam pikiran seseorang dan pengulangan sebuah informasi akan membuat familiar, dan sesuatu yang sudah familiar akan membuat mudah untuk diterima.

Dengan demikian, propaganda Firehouse of Falsehood akan selalu berusaha untuk menciptakan first impression bagi masyarakat, yang dikombinasikan dengan kuantitas pemberitaan yang luar biasa tinggi, disebarkan dari berbagai ragam media dan dilakukan secara berulang – ulang.

Penggunaan metode propaganda Firehouse of Falsehood, ditengarai digunakan dalam berbagai proses politik elektoral di Brasil, Meksiko dan juga Venezuela, sehingga hal tersebut telah menjadi bagian dari metode perpolitikan baru di era post – truth.

Contoh kasus di luar negeri adalah adanya upaya intelijen untuk memenangkan pemilihan Presiden Amerika Serikat dengan naiknya Donald Trump dan kasus Brexit di Eropa tak terlepas dari penggunakan metode ini.

Propaganda ini menciptakan first impression yang sangat efektif dalam penggiringan opini publik dan hal tersebut sulit untuk diatasi. Namun jika masyarakat telah diberikan informasi yang benar sebelumnya, maka propaganda tersebut hanya akan menjadi semacam penyangkalan atau sanggahan dan hal tersebut tidak akan efektif kembali.

Ketika masyarakat menolak sebuah propaganda, hal tersebut akan semakin menguatkan keyakinan yang telah terbentuk sebelumnya.

Sehingga akan lebih bermanfaat untuk menganalisa bagaimana cara sebuah kelompok melakukan propaganda, daripada hanya sekedar menangkal informasi yang digunakan sebagai propaganda.

Dari pemaparan diatas tentu tampak sekali bahwa untuk menangkal efek yang ditimbulkan oleh propaganda Firehouse of Falsehood adalah adu strategi yang membutuhkan kecerdasan dan analisa yang mendalam.

Apabila konsultan politik yang digunakan oleh Prabowo – Sandi merupakan konsultan politik yang sama dengan konsultan politik Donald Trump. Maka, apa yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet adalah bagian dari teknik Firehouse of Falsehood. Sehingga ini merupakan bagian kebohongan kentara yang direncanakan untuk membangun ketakutan.

Pengamat Politik Indonesian Public Institute, Karyono Wibowo, membenarkannya, Ia mengatakan propaganda ala Rusia tersebut kini sedang berlangsung di Indonesia.

Beliau juga menambahkan, bahwasanya sangat terasa sekali propaganda itu hadir, parameternya dan indikator sangat terlihat. Isu – isu yang merekayasa fakta makin marak untuk menciptakan ketakutan masyarakat.

Karyono menilai, kubu penantanglah yang sedang memainkan propaganda tersebut. Sebab indikator dapat dilihat dari isu yang berkembang di masyarakat.

Teori ini dapat diuji dengan melihat isu yang berkembang, maka isu tersebut menciptakan ketakutan dalam bidang ekonomi dan politik. Contohnya adalah terkait tempe sekecil ATM, lalu 90% rakyat Indonesia masih miskin dan isu bangkitnya komunisme yang bertujuan untuk mendelegitimasi pemerintah.

“Jadi kubu Prabowo – Sandi yang cenderung menggunakan teori ala Rusia tersebut,” paparnya.

Pihaknya juga menambahkan bahwa kubu Prabowo – Sandi telah membuat Jokowi – Ma’ruf masuk ke dalam perangkap tersebut, karena bisa dilihat dari pernyataan Joko Widodo yang sempat keluar dari pakemnya. Perkataan Jokowi mengenai politik sontoloyo dan politik Genderuwo yang merupakan respon dari isu yang diangkat kubu sebelah.

Hal ini senada dengan ungkapan Pangi Syarwi Chaniago selaku Pengamat Politik Voxpol Center, yang mengungkapkan bahwa dampak firehouse of Falsehood tersebut telah terlihat di masyarakat. Menjelang pilpres 2019, masyarakat telah gaduh dengan keributan akan hal yang tidak substansial, hal ini diakibatkan oleh adanya perseteruan narasi isu kedua kubu.

Memang adu narasi terkai isu politik bukanlah hal yang dilarang, namun tentu ada baiknya jika para kontestan memperhatikan hal yang substansial dan dibutuhkan masyarakat sesuai dengan data yang ada.

Propaganda ini sudah jelas menciptakan ketakutan, kebingungan dan kepercayaan awam yang terbiasa mengonsumsi informasi / isu yang tidak substansial. Akan terbangun sentimen irasional yang mudah disulut untuk diarahkan pada sebuah tujuan yang sifatnya politik.

Firehouse of Falsehood bertujuan untuk membuat kegaduhan hingga kemudian menjarah isu politis dengan mudah. Lontaran – lontaran kebodohan ini ternyata secara berantai dan meluas melahirkan kebingungan dan membangunkan kedunguan. Oleh sebab itu, masyarakat perlu kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar karena untuk menangkal propaganda Firehouse of Falsehood diperlukan sinergitas seluruh elemen masyarakat. (*)

*) Penulis adalah Pengamat Politik

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia