Rabu, 24 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Features

Pelipat Surat Suara Difabel Ingin Dapat Modal Kerja dari Wakil Rakyat

27 Februari 2019, 20: 28: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pelipat Surat Suara Difabel Ingin Dapat Modal Kerja dari Wakil Rakyat

TAK MAMPU BERJALAN: Darma Laksana, 27, pria disabilitas asal Susut, Bangli yang jadi petugas lipat KPU Bangli. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Di tengah proses penyortiran dan pelipatan surat suara untuk pemilihan umum (pemilu) serentak 17 April 2019, di Bangli, ada satu yang menarik perhatian mata. Salah seorang difabel ikut bekerja sebagai buruh lipat untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bangli, Rabu (27/2).

Meski memiliki fisik tidak sempurna, Anak Agung Darma Laksana, 27, tetap cekatan. Keterbatasan fisik sejak lahir, tidak menjadi penghambat untuk tetap bekerja. Bahkan ia terlihat gesit melipat surat suara calon legislatif DPR RI, di tengah sekumpulan orang dengan fisik normal.

Hajatan pemilu serentak, rupanya menjadi lahan rejeki dadakan bagi pria asal Susut, Bangli. Sebab, pria bertato di dua tangannya itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Anak dari keluarga petani sederhana, itu hanya mengurus keperluan rumah tangga dan sehari-hari sibuk merawat keponakan.

Agung Darma--demikian dia disapa, sudah sepekan bekerja sejak 18 Februari lalu. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), dia mengaku setiap ke Pasar Loka Crana, tempat pelipatan surat suara, diantar dan dijemput orangtuanya. Dia mengaku senang karena lumayan bisa mengisi waktu luang sekaligus pendapatan hidup.

Gung Darma mengatakan, rata-rata dua dus surat suara berisi 1.000 lembar, berhasil dilipatnya sejak pukul 08.00 hingga 17.00 Wita. Surat suara yang sebelumnya telah disortir kelompoknya, dia lipat kemudian dia apit dengan kakinya yang kecil. "Setelah lipatan (dilipat), dihitung, dikumpul jadi lima lembar, diikat karet gelang," ujar Agung dengan nada agak ngos-ngosan.

Di tengah pertarungan para politisi, ada harapan besar buat calon wakil rakyat dan calon presiden yang terpilih. Dia berharap untuk dirinya maupun sesama penyandang disabilitas agar lebih diperhatikan.

"Saya berharap, dan teman-teman cacat (difabel) agar diberi kemudahan hidup. Diberi keterbukaan lapangan kerja atau diberikan modal untuk membuka usaha. Itu yang kami harapkan sekali," harapnya kepada calon wakil rakyat di Bangli.

Selain Agung Darma, ada 80 warga Bangli lainnya dilibatkan sebagai petugas lipat dan sortir. Mereka terbagi atas beberapa kelompok. Besaran upahnya bervariatif tergantung jenis surat suara. Mereka juga berhak diupah berdasarkan jumlah surat suara yang dilipat.

Ketua KPU Bangli Putu Pertama Pujawan menyebut, untuk upah surat suara calon presiden dan wakilnya, buruh pelipat dibayar Rp 75 per lembar. Untuk surat DPD RI Rp 100 per lembar. Sedangkan biaya satuan surat suara DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD, masing-masing dihargai Rp 150 per lembar.

Tapi, menurut Pujawan, jika dihitung rata-rata per harinya, buruh lipat mendapat bayaran yang tergolong rendah. Sehari, buruh lipat hanya mendapat Rp 60 ribu hingga 75 ribu. "Kasihan mereka kerja dari pagi sampai sore hanya mendapatkan segitu," katanya. 

Karena itu, KPU Bangli lantas merevisi Perunjuk Operasional Kerja (POK) terkait penambahan anggaran upah petugas buruh sebesar Rp 55 juta. Sehingga dari anggaran awal Rp 95 juta bertambah menjadi Rp 120 juta.

Dengan perubahan itu, kata Pujawan, upah mereka per hari rata-rata mencapai Rp 110 ribu hingga Rp 150 ribu. Itu tergantung jumlah lipatan yang mereka selesaikan. "Upah ini diakumulasi dan dibayarkan tiap lima hari kerja," pungkas Pujawan.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia