Jumat, 22 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Badung Targetkan 3.500 Hektare Sawah Masuk AUTP

13 Maret 2019, 19: 22: 52 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Badung Targetkan 3.500 Hektare Sawah Masuk AUTP

TARGET AUTP: Sawah di kawasan Desa Sempidi, Mengwi, Badung, Rabu (13/3) yang menjadi target AUTP. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, MANGUPURA – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung terus  mengintensifkan pembinaan dan penyuluhan kepada para petani  untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) karena tahun 2019 pemerintah menargetkan lahan sawah seluas 3.500 masuk AUTP.

Program Asuransi Pertanian telah lama direncanakan pemerintah, tetapi baru tahun 2015 mulai direalisasikan setelah ditetapkannya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40/Permentan/SR.230/7/2015 tanggal 13 Juli 2015 tentang Fasilitasi Asuransi Pertanian yang merupakan turunan UU Nomor 19 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani.

Berkenaan dengan hal tersebut, pada tahun 2018 Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sudah dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia dengan luas tanam 3 juta hektare yang tersebar di sentra produksi padi. Khusus Kabupaten Badung, tahun 2018 dialokasikan seluas 1.900 hektare dari luas subak di Badung 9.938 hektare.

Adapun premi yang harus dibayar petani, 80 persen dibiayai pemerintah pusat, yakni Rp 144.000 per hektare, sedangkan 20 persen dengan nilai Rp 36 ribu per hektare, dibiayai APBD Kabupaten Badung. “Dengan demikian,  petani tidak perlu membayar premi dari kantong sendiri, karena seluruhnya sudah ditanggung pemerintah melalui AUTP. Harga atau nilai pertanggungan ditetapkan sebesar Rp 6 juta per hectare, per musim tanam,” ujar Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, I Putu Oka Swadiana, Rabu (13/3).

Lebih lanjut Oka Swadiana mengatakan, pembayaran atas klaim yang diajukan akibat gagal panen, diukur sesuai dengan tingkat kerusakan yang terjadi. Pembayaran ganti rugi atas klaim dilaksanakan paling lambat 14 hari sejak berita acara hasil pemeriksaan kerusakan. Menurut data, tahun 2018 terdapat delapan subak yang mengajukan klaim, di antaranya Subak Sangeh seluas 0,35 hektare karena kekeringan dan 8,9 hektare terserang penyakit blast. Kelompok Usaha Tani Sejahtera Subak Sempidi  seluas 6,6 hektare karena terserang penyakit blast. Subak Bukti Kecamatan Mengwi seluas 0,29 hektare karena terserang penyakit blast. Subak Batan Badung Mengwi 0,76 hektare terserang penyakit blast. Subak Tungkub Dalem Kecamatan Mengwi seluas 2,9 hektare karena kekeringan. Subak Pacung Babakan Mengwi seluas 2 hektare karena kekeringan. Subak Bergiding Kecamatan Petang 9 hektare. Seluas 7, 38 hektare kekeringan dan 1,62 hektare terkena blast. Subak Pengelumbaran Petang seluas 1,39 hektare juga terserang blast.

Walaupun semua premi dibantu pemerintah, kata Kadis Perikanan ini, animo petani untuk ikut program AUTP masih rendah. Dari 9.938 hektare sawah, baru 1.950, 94 hektare (19,67 persen) yang terdaftar. Sementara itu, dari 1.950,94 hektare yang ikut asuransi, 1.900 hektare di antaranya dibantu penuh oleh pemerintah pusat dan kabupaten. Sedangkan sisanya 50,94 hektare, baru dibantu pemerintah pusat sebesar 80 persen berupa pembayaran asuransi. Sisanya, 20 persen dibayar sendiri oleh petani.

Berkenaan dengan itu, Oka Swadiana akan terus berupaya meningkatkan animo masyarakat untuk ikut AUTP. Caranya, kata dia, menjalin kerja sama dengan Universitas Udayana dan Chiba University, Jepang dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).  “Chiba University telah membantu Kabupaten Badung berupa alat untuk menilai kerusakan tanaman melalui satelit, sehingga lebih cepat, tepat, dan akurat,” jelasnya.

(bx/adi/aim/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia