Jumat, 22 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Anak Kembar Buncing, Pasutri dan Bayinya Harus Tinggal di Ujung Desa

15 Maret 2019, 20: 03: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Anak Kembar Buncing, Pasutri dan Bayinya Harus Tinggal di Ujung Desa

MANAK SALAH: Bayi kembar buncing dari pasutri Gede Sadi dengan Made Welianingsih tiba di rumah sementara, di Dusun Runuh Kubu, Desa Padang Bulia, Jumat (15/3). (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SUKASADA -Tradisi manak salah atau bayi lahir kembar buncing (laki-perempuan, Red) masih dijalankan oleh Desa Pakraman Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Seperti yang dilakoni pasutri I Gede Sadi Utama, 34 bersama istrinya Made Welianingsih, 30 asal Dusun Runuh Kubu, Desa Padang Bulia. Pasutri ini dikaruniai bayi kembar buncing yang terlahir pada Selasa (12/3) lalu di RS Karya Darma Usada.

Kelahiran bayi kembar buncing secara caesar ini pun menjadi istimewa bagi krama Desa Padang Bulia. Sebab selama tiga kali tilem desa pakraman akan menjalani sebel desa. Itu berarti seluruh krama tidak diperkenankan melaksanakan upacara panca yadnya.

Pun dengan pasutri yang memiliki bayi kembar buncing. Kedua orang tua dan bayi itu harus tinggal di rumah semi permanen yang berada di tanggun desa (ujung desa) sebagai tempat tinggal sementara. Rumah itu dibangun secara gotong royong oleh krama bersama prajuru adat.

Kelak jika sudah melewati masa tiga kali tilem, maka barulah pasutri bersama anak-anaknya diperkenankan pulang ke rumahnya. Namun terlebih dahulu mereka wajib menjalani upacara mecaru hingga melasti yang dibiayai oleh Desa Adat Padang Bulia, untuk menghilangkan reged dan sebel desa.

Pantauan Bali Express (Jawa pos Group) Jumat (15/3) di lokasi, rumah semi permanen sudah dibangun lengkap dengan kamar, dapur dan toilet. Rumah yang beratapkan daun rumbia, berdinding triplek dan berlantai semen sudah rampung dikerjakan sejak Jumat pagi.

Tepat pukul 18.00 Wita, keluarga I Gede Sadi bersama istri dan kedua bayi mungil itu datang dari RS. Warga setempat pun sudah berjubel di rumah semi permanen untuk menanti kedatangan bayi kembar buncing tersebut.

Menurut Sadi, kedua bayi mungil itu lahir dengan selamat melalui operasi Caesar pada Selasa lalu. Bayi berjenis kelamin perempuan disebutnya lahir lebih dulu dengan berat 2.400 gram. Disusul kemudian bayi berjenis kelamin laki-laki dengan bobot 2.450 gram.

Atas kelahiran bayi kembar buncing ini, Sadi pun mengaku sangat bahagia. Menurutnya kelahiran bayi kembar ini sebagai anugerah terbesar. Terlebih kelahiran anak kedua dan ketiga ini begitu diistimewakan oleh masyarakat dan disambut seperti kedatangan seorang raja.

“Saya merasa bangga, semua krama Runuh Kubu mengistimewakan saya. Kayak raja, dibuatkan rumah, disambut, jadi merasa sangat berterima kasih,” ujar ayah Putu Agus Manik Putrasena ini.

Sadi pun mengaku iklhas dan tidak keberatan menjalani Tradisi Manak Salah ini. Terlebih semua kebutuhan seperti biaya persalinan di rumah sakit, rumah sementara hingga biaya banten saat mecaru dan melasti ditanggung desa pakraman Padang Bulia. Sehingga, atas dasar itulah dirinya melapor kepada prajuru adat untuk siap melaksanakan tradisi ini.

“Sudah siap, ikhlas dari hati. Karena saya merasa bahagia. Ini anugerah, orang lain belum tentu seperti saya. Jadi saya ikuti tradisi dan sudah difasilitasi oleh desa adat. Sedangkan untuk kesehariannya saya tetap bisa bekerja, namun sepulang kerja harus balik lagi ke rumah sementara ini,” jelasnya.

Sementara itu Kelian Adat Desa Pakraman Padang Bulia Gusti Komang Suparta, 59 mengatakan tradisi manak salah ini memang jarang terjadi. Bahkan terakhir  terjadi pada tahun 2007 silam.

Tradisi ini sudah dijalankan oleh para pendahulunya secara turun-temurun. Suparta menyebut jika tradisi ini bersumber dari sejumlah lontar. Seperti Lontar Brahma Sapa, Lontar Babad Hindu Gobed Gobleg hingga Lontar Medang Kemulan.

“Kenapa dikatakan manak salah? Karena menurut Lontar Brahma Sapa itu salah wetu. Ini sebagai ciri Jagat Awantara. Jika terjadi hal seperti ini, kalau tidak dibuatkan upacara maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sehingga harus dinetralkan baik di alam Bhur, Bwah dan Swah,” jelas Gusti Komang Suparta.

Lanjut Suparta bencana yang terjadi bila tradisi manak salah tidak dijalankan seperti gagal panen, sakit berkepanjangan hingga warga yang meninggal tak jelas. “Misalnya lahir bayi 10 orang, maka akan dibayar dengan meninggal 10 orang. Begitulah tersurat dalam lontar Brahma Sapa,” imbuhnya.

Menurutnya, rumah sementara yang ditempati pasutri ini dibuat sebagai sarana anyuci laksana atau merenungkan diri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selama tiga bulan krama lain juga ikut magebagan (berjaga, Red) di rumah sementara itu. Mereka berjaga secara bergiliran untuk menjaga pasutri bersama bayinya dari hal-hal yang tak diinginkan.

Suparta menambahkan, sebelumnya pelaksanaan tradisi ini memang ditanggung sepenuhnya oleh pasutri yang memiliki bayi kembar buncing. Namun saban hari lantaran dirasa berat secara biaya, akhirnya pelaksanaan tradisi manak salah ditanggung sepenuhnya oleh desa adat.

“Dulu pernah ada yang punya bayi kembar buncing. Tetapi mereka tidak melaksanakan tradisi ini karena tidak memiliki biaya. Akhirnya ditanggung biayanya sepenuhnya oleh adat. Sehingga tradisi ini tetap lestari sampai sekarang,” bebernya.

Pihaknya pun tak membantah selama pelaksanaan manak salah ini krama desa Padang Bulia mengalami sebel desa. Selama itu pula krama dilarang untuk memasuki parahyangan atau tempat suci.

“Semua upacara yang berkaitan dengan parahyangan dilarang dilaksanakan. Misalnya kalau ada warga yang punya upacara tiga bulanan, maka cukup nyawang saja. Nah, setelah melasti pada tanggal 2 Juni nanti baru sebel desa hilang. Baru boleh melaksanakan upacara yadnya,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia