Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

“Ledakan” Jenazah Titipan di RS, PHDI Rapat dengan Gubernur dan MUDP

19 Maret 2019, 07: 51: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

“Ledakan” Jenazah Titipan di RS, PHDI Rapat dengan Gubernur dan MUDP

OVERLOAD: Suasana kamar jenazah RS Sanjiwani Gianyar yang nampak penuh kemarin. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - “Ledakan” jenazah terjadi di kamar jenazah sejumlah rumah sakit di Bali. Jenazah-jenazah itu memang sengaja dititipkan karena warga memilih menunggu usai karya Panca Wali Krama di Besakih. Melihat kondisi itu, PHDI akan menggelar rapat dengan Gubernur dasn MUDP.

Salah satunya yang overload setidaknya sejak sebulan terakhir adalah di RSUD Mangusada, Badung. Direktur RSD Mangusada Badung, dr Nyoman Gunarta mengatakan, hingga kemarin (18/3) ada 104 jenazah yang dititip. Jumlah tersebut sudah termasuk pasien yang meninggal di RSD plat merah tersebut. Padahal daya tampung lemari pendingin ruang jenazah rumah sakit yang berlokasi di Kapal, Mengwi ini hanya 40 jenazah. "Ada 104 jenazah yang dititip di kami," ungkapnya.

Lantaran membludak, jenazah terpaksa disimpan dalam peti diletakkan di emper, bahkan dibuatkan tenda khusus yang dibantu oleh BPBD Badung. Kondisi ini sudah berlangsung beberapa pekan. "Karena sudah penuh, kami terpaksa menolak penitipan yang datang belakangan," ujarnya.

Membludaknya ruang jenazah ini memang tak ditampik karena warga memilih menunggu usai karya Panca Wali Krama di Besakih. Di samping itu, warga tak dikenakan biaya alias gratis. "Jadi pembiayaannya melalui pemerintah," jelasnya.

Hal serupa juga terjadi di RSUP Sanglah. Kasubbag Humas RSUP Sanglah I Dewa Ketut Kresna kemarin menjelaskan, sejak Januari 2019 hingga sebelum Hari Raya Nyepi tercatat sebanyak 125 jenazah yang dititipkan di kamar jenazah. Sementara itu kemarin, tercatat, jumlah jenazah yang dititipkan sebanyak 60 jenazah. Namun pihaknya tidak bisa merinci pasti apakah ke-60 jenazah ini keseluruhan merupakan umat Hindu.

“Kapasitas freezer sebanyak 32. Kalau di luar freezer kan banyak, pakai peti itu. Kalau di freezer kan kayak laci-laci, yang potongan tubuh juga disendirikan.kalau di luar ndak bisa ngitung,” ungkapnya.

Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya nampak mendatangi Instalasi Forensik RSU Sanglah dengan membawa bekal makanan, canang serta dupa. Dupa tersebut kemudian disulut api sembari berdoa.

"Jenazah nenek kan dititip di sini. Udah sebulan. Sehari nggak ke sini dimimpiin. Ya bawain makanan kesukaannya aja. Setiap hari kesini sambil nunggu hari baiknya untuk ngaben. Karena belum nemu. Kalau belum diaben mereka kan masih kemana-mana. Kalau sudah diaben nggak dah dimimpiin," ucapnya.

Di Bangli, tercatat ada delapan jenazah yang masih dititip di ruang jenazah Rumah Sakit Umum (RSU) Bangli. Tiga dari delapan jenazah adalah titipan dari RS Sanjiwani, Gianyar. Lantaran tak bisa menampung lagi, RS Sanjiwani berkoordinasi dengan RSU Bangli agar dapat menampung tiga jenazah itu.

Wakil Direktur Penunjang dan Sarana Prasarana RSU Bangli, I Wayan Suastika menjelaskan, sejak 16 Maret, pihaknya semula menampung lima jenazah. Namun belakangan bertambah tiga jenazah pada Minggu (17/3). Alasannya, masyarakat ingin menggelar upacara secara komplit dengan menunggu upacara besar di Pura Besakih usai.

Menurutnya, kondisi ini belum termasuk over kapasitas. Sebab ruang jenazah RSU Bangli masih bisa menampung 10 sampai 15 jenazah. Akan tetapi, RSU Bangli baru menyediakan dua freezer untuk dua jenazah. Sisanya berada di luar freezer. "Kami tetap lakukan perawatan dengan teliti. Tetap dikontrol dan diberikan formalin agar awet," ujarnya.

Apabila terjadi penitipan jenazah secara terus-menerus, penggunaan freezer dapat diperpadat untuk empat jenazah. Artinya satu pintu untuk dua jenazah. "Itu untuk yang menitipkan. Tetapi selama beberapa hari berjalan, ada pasien yang meninggal, jenazahnya ada juga yang dibawa pulang. Mereka tidak ngaben, tapi ada aturan di desa bagi masyarakat boleh mengubur tanpa upacara lengkap," jelas Suastika yang juga Bendesa Adat Bangbang, Tembuku, Bangli itu.

Penitipan jenazah tidak masuk ke layanan kesehatan. Oleh karena itu, kata Suastika, masyarakat yang menitipkan jenazah di RSU Bangli dikenakan biaya pembayaran umum. Masing-masing Rp 80 ribu di dalam freezer, sedangkan di luar freezer Rp 55 ribu per hari.

 

Sementara itu, kondisi overload terjadi di kamar jenazah RSUD Sanjiwani Gianyar. Kapasitas kamar jenazah yang semestinya 20 tempat tidur itu hingga kemarin terisi 36 jenazah

Humas RSUD Sanjiwani Gianyar, IB Punarbhawa menjelaskan segala upaya telah dilakukan pihaknya. Salah satunya dengan menambahkan tempat tidur (bed) sebanyak 16 bed. "Solusinya kita hanya bisa menambahkan bed saja, kalau membuat kamar jenazah di luar gedung dengan tenda belum tepat. Karena memang harus khusus ditempatkan dalam satu ruangan. Per hari penitipan dikenakan Rp 50 ribu dan keluarga pasien menitip rata-rata sampai 12 April 2019 mendatang," terangnya kepada Bali Express. 

Punarbhawa juga memastikan, rumah sakit saat ini sudah tidak bisa lagi menerima penitipan jenazah. Namun mengarahkan dengan menitip di kamar jenazah rumah sakit swasta yang ada di wilayah Gianyar maupun RS di luar Gianyar. "Ini sudah overload, semestinya 20 saja tapi ini sudah mencapai 36 jenazah," imbuh Punarbhawa. 

Saat koran ini mengunjungi kamar jenazah di RS Sanjiwani, tampak dari luar bed yang ada penuh terisi jenazah. Bahkan jarak bed tersebut tidak ada ruang sama sekali dan sangat mepet. Selain itu beberapa keluarga yang mamunjung (menghaturkan sesajen)  juga tampak berdatangan. 

Punarbhawa juga mengaku selain serangkaian Karya Agung Pancawali Krama Pura Agung Besakih kali ini, kamar jenazah di RS Sanjiwani juga kerap penuh. Khususnya pada pasca pelaksanaan Galungan dan Kuningan. “Kalau sehabis Kuningan sebelum Buda Kliwon Pahang atau Pegatuakan kadang sampai penuh juga, namun tidaklah sampai overload,” pungkasnya.

Terkait soal itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Gianyar, I Nyoman Patra, mengarahkan jika ada warga yang meninggal untuk ke setranya dengan nyulubin. Yaitu dengan cara mencuri waktu, tepatnya pada matahari sudah ada di barat sore hari. "Kalau menurut dresta masing-masing nyulubin biasanya pada sore menjelang malam itu," paparnya. 

Lanjut Patra, berdasar aturan PHDI sudah jelas dikatakan  parisada adalah mengurus masyarkat yang beragama Hindu. Sesuai aturan tersebut saat ini kalau ada warga meninggal dunia boleh dikingsan di geni atau mesulubin. Sekarang persoalan mau atau tidaknya tergantung dari masyarakatnya sendiri.

"Kuncinya adalah PHDI berdasar agama sudah memberikan solusi agar selesai dan tertib bersama-sama. Kalau makingsan sama artinya tidur. Ini solusi sudah ada tinggal dipilih saja, jangan nyari yang ribetlah agar tidak agama yang disalahkan, padahal orangnya yang masih memiliki keegoisan," tuturnya. 

Patra menambahkan solusi yang lain jika suatu desa tidak memperbolehkan makingsan di geni dengan cara ditanam, bisa dilakukan dengan pembakaran atau kremasi. Tetapi itu tetap  dengan prosesi makingsan, tanpa melakukan upacara pengabenan. Sedangkan setelah pelaksanaannya bisa dilakukan panglukatan berupa tirta pangentas atau tirta penyengker untuk menyucikan kembali yang dianggap leteh.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua PHDI Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M. Si mengatakan pihaknya akan melaksanakan rapat hari ini guna tindak lanjut masalah tersebut. "Kami akan rapat besok (hari ini, Red) untuk membahas masalah ini bersama Bapak Gubernur dan MUDP," ungkapnya.

Sudiana yang juga Rektor IHDN Denpasar menjelaskan, sebenarnya yang dilarang adalah pangabenan. Sementara makingsan di pertiwi (dikubur) bagi warga biasa dan makingsan di gni (dikremasi) bagi pamangku serta sulinggih tetap diperbolehkan. Atas hal ini, pihaknya juga tak menduga justru banyak warga yang menitip jenazah di rumah sakit. "Sebetulnya pihak rumah sakit bisa ikut memberitahukan hal ini," jelasnya.

(bx/adi/afi/aka/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia