Minggu, 21 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Wisata Paragliding di Kuta Selatan sambil Menikmati Sunset dari Udara

19 Maret 2019, 17: 18: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Wisata Paragliding di Kuta Selatan sambil Menikmati Sunset dari Udara

INDAH: Sebuah pengalaman yang luar biasa yang merasakan sensasi diatas udara sambil menikmati indahnya alam Bali selatan. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, MANGUPURA – Terbang dengan menggunakan parasut atau dikenal dengan aktivitas paragliding atau paralayang, saat ini menjadi aktivitas wisata yang sedang populer. Khususnya di kawasan wisata Bali Selatan.

Wisatawan akan ditawarkan untuk menikmati keindahan alam Pulau Bali dari sisi yang berbeda. Termasuk tawaran untuk menikmati pemandangan menikmati matahari tenggelam dari udara.

Tentu hal ini akan menjadi pengalaman yang seru, khususnya bagi mereka yang menyukai jenis olah raga yang memicu andrenalin. Unruk menikmati aktivitas seru ini, wisatawan bisa datang ke Melasti Cliff Paragliding yang berlokasi di jalan Melasti, Kuta Selatan. 

Untuk menuju lokasi ini, tidaklah sulit, bisa mengakses lokasi Melasti Cliff dengan menggunakan aplikasi peta di smartphone. Lantas apa keunggulan dari destinasi wiasata ini jika dibandingkan dengan destinasi wisata sejenisnya?

Agus Sumanjaya, salah seorang pilot paragliding  di Melasti Cliff mengatakan pada umumnya, aktivitas wisata yang ditawarkan di Melasti Cliff Paragliding ini, hampir sama dengan aktivitas wisata sejenis yang ada di kawasan tersebut. "Namun yang membedakan di Melasti Cliff adalah wisatawanbyang terbang bis menyaksikan pemandngan matahari terbenam dari udara," jelasnya.

Hal inibdikatakannya karena lokasi Melasti Cliff berada di Pantai Melasti yang meruoakan salah satu pantai di Bali dengan pemandangan matahari terbenam. Karena itulah, terbang dibatas Pantai Melasti dikatakan Agus bisa memberikan mengalaman yang berbeda bagi para wisatawan.

Sebelum terbang, wisatawan yang datang ke Melasti Cliff ini wajib menggunakan perlengkapan terbang berupa harness dan helmet dan parasut sesuai dengan ukuran dan berat badan pilot dan penumpang. Sedangkan untuk perlengkapan pendukung terbang yang diperlukan antara lain radio/HT. “Untuk radio ini wajib dibawa oleh instruktur, karena sebagai alat untuk berkomunikasi dengan team yang ada di bawah maupun diatas,” terangnya.

Selain itu bagi peserta pemula, juga wajib untuk menggunakan sepatu, sepatu ini berfungsi untuk mengindari terjadinya cedera kaki ketika take off dan landing, ini karena sebelum terbang, peserta akan diajak berjalan di tanah yang berbatu, sehingga jika tidak menggunakan sepatu, kaki akan rawan cedera.

Setelah menggunakan perlengkapan terbang harness dan parasut, barulah wisatawan akan diajak untuk terbang dari Melasti Cliff. Dilanjutkan Agus, selain peralatan yang digunakan, faktor lain yang harus diperhatikan adalah faktor alam, yakni kecepatan angin dan faktor cuaca.

Untuk terbang tandem ini, kecepatan angin yang diperlukan berkisar dari 15 Km per jam sampai dengan 20 Km per jam. “Dengan kecepatan angin tersebut, kami sudah bisa terbang tandem selama 15 menit di udara,” tambahnya.

Menikmati paragliding ini dikatakan Agus menjadi salah satu cara untuk menikmati keindahan Pulau Bali dengan cara yang berbeda. Karena wisatawan akan dimanjakan dengan dua kenikmatan sekaligus yakni memanjakan mata dengan pemandangan alam yang indah, serta terpacunya adrenalin.  

Dibanderol mulai Rp 975 ribu Per Orang

UNTUK menikmati dan merasakan sensasi terbang sambal menikmati sunset, ada biaya yang harus disiapkan. Dijelaskan Agus Sumanjaya, biaya yang harus dikeluarkan mulai dari Rp 957 ribu per orang untuk wisatawan domestik dan Rp 1,6 juta per orang untuk wisatawan asing. "Biaya tersebut sudah termasuk asuransi jiwa untuk setiap penumpang tandem," jelasnya.

Adapun waktu terbaik untuk melakukan atraksi wisata ini, yakni ketika sore hari menjelang matahari terbenam, atau sekitar pukul 17.30 wita. Lewat dari waktu tersebut, aktivitas terbang sudah tidak bisa dilakukan, karena hari sudah mulai gelap.

Untuk aktivitas ini, biasanya wisatawn akan diajak terbang mulai dari pukul 1740, setelah berkeliling di rute terbang selama 10 menit, selanjutnya pilot paragliding akan membawa wisatawan ke arah matahari terbenam dan melakukan sesi foto dengan latar belakang matahari terbenam.

Jika wisatawan ingin mendokumentasikan aktivitas ini, Agus mengatakan akan ada biaya tambahan yang dikenakan kepada wisatawan mulai dari Rp 350 ribu dengan Rp 1 juta tergantung jenis dokumentasi yang diinginkan. "Jika ingin dokumentasi berbentuk video, kami sudah persiapkan team untuk melakukan dokumentasi," tambahnya.

Aktivitas ini dijelaskan Agus lebih diminati oleh wisatawan Tiongkok. Rata-rata kunjungan per hari ke destinasi wisata ini, dijelaskan Agus adalah wisatawan Tiongkok yang mencapai 60 persen dari total kunjungan wisatawan. 

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia