Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Dijual Bebas, Pengenyal Cap Ayam Djago Mengandung Boraks

21 Maret 2019, 19: 06: 57 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dijual Bebas, Pengenyal Cap Ayam Djago Mengandung Boraks

BERI KETERANGAN: Kepala Loka POM Buleleng, Made Ery Bahari menunjukkan bleng mengandung boraks dan obat-obatan berbahaya. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Sebanyak 238 kilogram bahan pengenyal dan pengembang makanan yang mengandung boraks disita oleh Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Buleleng. Pengenyal bermerk Ayam Djago yang sering disebut bleng menggunakan kemasan fiktif. Ironisnya, makanan berbahaya bagi kesehatan ini justru beredar bebas di sebuah toko kawasan Kota Singaraja.

Kepala Loka POM Buleleng, Made Ery Bahari menjelaskan bleng itu berhasil disita saat Loka POM melaksanakan operasi sejak Januari hingga Maret 2019. Dari pengawasan makanan Loka POM menemukan sampel makanan mengandung boraks sebanyak 19 besek. Dimana setiap besek berisi 12 bungkus bleng yang masing-masing beratnya mencapai 1 kilogram

Ery menyebut, beberapa tahun lalu bleng  memang sempat memiliki izin edar, karena saat itu belum tercampur dengan boraks. Namun seiring berjalannya waktu, pihak produsen mulai nakal dan mencampurkan boraks pada blem tersebut, sehingga pihak BPOM langsung mencabut izin edarnya.

"Boraks memang dilarang sebagai bahan tambahan untuk pangan. Bleng ini kandungannya adalah boraks. Izin edarnya sudah dicabut, tapi masih marak beredar. Kalau kemasan yang sekarang ini kami pastikan fiktif," terang Ery saat ditemui Kamis (21/3) .

Ery tak membantah saat melakukan sidak, pihaknya kerap menemukan makanan yang mengandung boraks. Seperti bakso, kerupuk atau mie basah. Atas temuan itu, pihaknya pun melakukan investigasi, hingga akhirnya terkuak jika bahan pengeyal dan pengembang makanan itu dibeli oleh para pedagang di sebuah toko kawasan Kota Singaraja.

Di toko tersebut, Loka POM Buleleng menemukan sebanyak 228 bungkus bleng, yang dijual dengan harga Rp 10 ribu per kilogramnya. Jika dilihat dari kemasannya, blem itu diproduksi di wilayah Solo. Sementara untuk pelaku usaha, sebut Ery, mengaku tidak mengetahui jika bleng tersebut telah dicabut izin edarnya.

Atas temuan itu, pihak Loka POM memberikan pembinaan dan peringatan keras kepada pemilik toko yang namanya enggan disebutkan. "Bila masih membandel akan kami lakukan proses hukum. Karena boraks jika dicampur dalam olahan pangan sedikit demi sedikit bisa memicu kanker,” bebernya.

Tak hanya menyita bahan makanan mengandung boraks, Loka POM Buleleng juga menyita puluhan butir obat-obatan yang dijual di warung dan toko-toko yang ada di wikayah Buleleng dan Jembrana. Dijelaskan Ery, obat-obatan itu tergolong keras, ditandai dengan kode “K” lingkaran merah di bagian kemasannya.

Semestinya, obat-obatan itu hanya dijual di apotek, serta dapat dibeli dengan menggunakan resep dokter. "Ini tergolong obat keras. Terpaksa kami sita karena dijual di tempat yang tidak semestinya," ujarnya.

Loka POM Buleleng juga menemukan sejumlah makanan dan minuman yang memasuki masa kadaluarsa. Seperti teh celup, yang terpampang jika masa kadaluarsanya sejak 2016 lalu. Atas temuan-temuannya ini, Ery pun mengimbau kepada masyarakat yang ingin membeli suatu produk, untuk lebih dulu melakukan pengecekan terhadap kemasan, label, izin edar, dan tanggal kadaluarsanya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia