Minggu, 19 May 2019
baliexpress
icon featured
Features

Lika-Liku Pengrajin Endek Mastuli Desa Kalianget

03 April 2019, 14: 42: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

Lika-Liku Pengrajin Endek Mastuli Desa Kalianget

SUMBER EKONOMI: Hasik tenunan Rumah Tenun Sari Arta milik Nyoman Sedana di Desa Kalianget. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SERIRIT - Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Buleleng menjadi salah satu sentra kerajinan tenun ikat di Buleleng. Di desa ini, ada ratusan pengrajin endek yang menggantungkan ceruk ekonominya dari pekerjaan ini. Jenis endek yang dihasilkan pun tergolong khas. Salah satunya adalah Endek Mastuli yang tak hanya laris manis di Buleleng, namun juga hingga terjual di seluruh Bali.

Salah satunya adalah rumah tenun Sari Arta, 64 milik Nyoman Sedana. Rumah tenun yang berlokasi di Dusun Kelodan, Desa Kalianget, Buleleng ini didirikan sejak ia pensiun dari PNS di Lombok beberapa tahun lalu. Uniknya, rumah tenun ini masih menggunakan  peralatan tenun tradisional yang disebut cacag. Tenun ini juga sering disebut Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Menurutnya ada sejumlah motif yang dihasilkan dari bahan mastuli atau sutra. Seperti motif Dobol, Motif Celagi Manis, Motif Endek Kurungan, Motif Pot Nyuh, Gringsing, Pinggiran, Motif Wayang dan Penyu Kambang.

Sedana menyebut, inovasi yang bisa dilakukan pada tenun ikat (endek) ini adalah pada warna. Dewasa ini permintaan endek cenderung mendominasi warna-warna cerah, seperti ungu elektrik, hijau, kuning, pink, dan warna lain yang menonjol.

"Endek ini punya pesonanya tersendiri bahkan meskipun motifnya kita tidak perbaharui seperti motif wayang namun ketika dikombinasikan dengan warna dasar cerah justru terlihat elegan dan cocok digunakan oleh siapa saja khususnya remaja,"jelasnya.

Ada banyak pilihan warna yang diproduksi untuk semakin menarik minat konsumen khususnya pecinta fashion endek. Dibandingkan warna klasik seperti coklat tua, endek warna-warna cerah mendominasi permintaan hingga 60 persen.

Dalam perjalanannya, pengrajin Endek Mastuli terus berinovasi. Salah satu yang kini dikembangkan adalah Endek Lasem. Jenis ini dikembangkan untuk menjawab persoalan dimana endek sebelumnya tak bisa dicuci. Sebab kalau dicuci warnanya bisa luntur.

Hanya saja, Endek Lasem cenderung warnanya tidak secerah endek biasa. Sebab berwarna lebih gelap. Namun bagi pecinta endek tentu tahu kualitas dari endek lasem ini, selain bisa dicuci dan tidak mudah luntur. Bahkan, bila dikenakan jauh lebih sejuk dan lebih lembut sehingga cocok dijadikan busana kantoran.

“Kebanyakan dari mereka yang memilih lasem dijadikan sebagai pakaian atau seragam. Sehingga ketika di pakai ber jam jam pun tidak gerah. Sehingga harganya lebih mahal dari endek non lasem. Satu lembar kain endek mastuli lasem biasanya dibanderol mulai Rp 430 ribu hingga Rp 450 ribu,” bebrnya.

Di sisi lain, tingginya permintaan endek yang saban hari terus meningkat justru tidak dibarengi dengan pemenuhan pasar yang maksimal. Hal itu dikarenakan perajin-perajin tenun ikat (endek) sulit meregenerasi penenun.

Beberapa faktor penyebab minimnya minat generasi muda untuk meneruskan menenun dikarenakan kebanyakan dari mereka lebih memilih bekerja di Denpasar. Selain itu untuk dapat menenun, dibutuhkan keahlian khusus agar produk tenun yang dihasilkan sesuai dengan permintaan pasar.

Sulitnya mencari penenun membuatnya kerap mengalami keterlambatan dalam memenuhi pesanan. Tak pelak, pihaknya berharap pemesan atau para pengepul endek lebih bersabar menunggu kainnya selesai.

"Kalau permintaan itu pasti ada saja baik itu dari pengepul atau perorangan tapi ya itu jika dihitung lamanya proses pembuatan kain ini dari yang hanya benang sutra membutuhkan kurang lebih satu bulan lamanya, kalau hanya menenun saja itu tiga hari saja selesai untuk dua kain,"terangnya.

Selain kendala sulitnya mencari penenun baru, perajin juga mendapat tantangan adanya persaingan dengan kain endek tiruan dari luar Bali yang dibuat dengan mesin. Meski demikian pihaknya optimis eksistensi endek bagi pembeli yang mengerti kain, pasti bisa membedakan mana produk asli tenunan. "Sejauh ini kita masih gunakan alat tenun manual, tapi disinilah nilai seninya terletak,"jelasnya. 

Selain kendala regenerasi, pengrajin endek kerap mengalami kesulitan permodalan. Itu disebabkan karena hasil penjualan kain tenun tidak sebanding dengan tingginya biaya produski. Akibatnya, banyak perajin kerap kehabisan modal.

Meskipun pemerintah pusat telah memfasilitasi pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) namun perajin enggan memanfaatkan jasa perbankan untuk mendapatkan modal. Menurut Sedana, dirinya hanya menggunakan modal sendiri lantaran harga bahan baku endek seperti benang sutra setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Tak pelak dirinya mengaku memutar modal sebisanya dari hasil penjualan tenun ikatnya saja.

"Jadi kita beli bahan bakunya dalam jumlah besar seperti benang sutra terakhir saya beli tahun 2017 lalu dengan harga Rp 3,8 juta per ikat. Dimana satu ikat benang mampu menghasilkan 20 sampai 25 lembar kain endek,"terangnya.

Ia berharap kedepan ada bantuan permodalan dari Pemerintah terkait sehingga para pelaku usaha kerajinan tenun ikat bisa semakin mengembangkan usahanya. "Karena pemasaran belum maksimal jadi itu menjadi pertimbangan kita tidak menggunakan perbankan untuk permodalan usaha kita jika ramai syukur namun jika sepi tentu kita akan keteteran dalam membayar setiap bulannya," tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia