Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Belajar jadi Orang Hindu di Bali; Mulai dari Diri dan Pekarangan Rumah

09 April 2019, 07: 04: 21 WIB | editor : I Putu Suyatra

Belajar jadi Orang Hindu di Bali; Mulai dari Diri dan Pekarangan Rumah

PAPARKAN: Jro Wayan Budiarsa selaku pinisepuh Pasraman Sastra Kencana (kanan) tengah memberikan pemaparan mengenai konsep-konsep Hindu di Bali. (SURPA ADISASTRA/BALI EXRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pulau Bali tak hanya tersohor berkat keindahan alamnya. Budaya yang diresapi nilai-nilai religius juga menjadi faktor pendukung utama. Nilai yang dipegang erat dan diwariskan turun-temurun oleh leluhur ini menjadi keunikan tersendiri. Jadilah Bali seperti saat ini, layaknya magnet yang menggaet wisatawan domestik dan mancanegara, karena sosio-religiusnya.

Namun demikian, terkadang terbesit pertanyaan, “Bagaimana memahami diri sebagai orang Hindu yang hidup di Bali?” Pertanyaan yang cukup sederhana namun bisa jadi cukup kompleks jawabannya. Bukan bermaksud mengotak-ngotakkan suku dan agama, melainkan lebih ke penyadaran diri sebagai manusia yang hidup di Bali, terlebih ‘berdarah Bali’ dan menganut Agama Hindu.

Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Wayan Budiarsa menerangkan, untuk ‘belajar menjadi orang Hindu di Bali’, perlu dilakukan beberapa hal. Pertama dan yang paling utama adalah mengenal diri sendiri. “Jangan terlalu jauh dulu belajar, mulai dari diri sendiri,” ungkapnya belum lama ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Diterangkan oleh Guru Nabe Budiarsa, sapaan akrabnya, badan fisik manusia terdiri dari lima unsur yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yakni api, air, sinar, angin, dan bumi. Kelima unsur tersebut sama dengan pembentuk alam semesta. Oleh karena itu, semesta disebut dengan istilah Bhuana Agung dan badan manusia, Bhuana Alit.

Nah, terkait Bhuana Agung dan Bhuana Alit, umat Hindu di Bali juga memiliki konsep pekarangan rumah. Salah satu yang tak pernah absen adalah keberadaan palinggih. Lima unsur Panca Maha Bhuta yang berupa energi ini kemudian diwujudkan menjadi lima palinggih. Pertama adalah Pangrurah atau Ngarurah sebagai simbol energi angin. Letaknya di dalam merajan bagian timur, yakni di sebelah kiri palinggih kamulan, menghadap ke barat. “Ngarurah sebagai wujud rasa syukur. Tubuh kita terbentuk dari unsur angin yang memberikan kekuatan pada  kulit. Kita juga tidak pernah bisa hidup tanpa angin. Untuk itu, di Ngarurah dipuja I Ratu Ngurah Sapuh Jagat atau I Ratu Ngurah Tangkeb Langit,” terang Guru Nabe.

Kedua adalah Taksu Agung sebagai simbol bumi atau pertiwi yang terletak di bagian utara merajan menghadap ke selatan. Taksu Agung sebagai wujud rasa syukur, karena tubuh terbentuk dari unsur pertiwi yang memberikan kekuatan pada pancering sarira atau pusat tubuh agar tubuh dapat berdiri tegak. “Kita tidak pernah bisa hidup tanpa pertiwi dan di sana dipuja I Ratu Sanghyang Gili Maya atau I Ratu Ketut Petung,” ujarnya.

Ketiga adalah Taksu Geginan sebagai simbol air. Letaknya di luar merajan, tapi masih dalam pekarangan, menghadap ke barat. “Di tengah natah (halaman) didirikan Sanggah Taksu Natah atau Taksu Geginan, sebagai rasa syukur tubuh terbentuk oleh unsur air yang memberi kekuatan pada sumsum tulang. Diipujalah di sana I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan atau I Ratu Nyoman Batu Madiding,” paparnya.

Masih dalam pekarangan, tapi terletak di sudut barat laut, menghadap ke selatan ada palinggih Panunggun Karang sebagai simbol sinar. Di palinggih ini dipuja I Ratu Made Alang Kajeng atau I Ratu Made Jelawung dalam wujud Dukuh Sakti dan memberikan kekuatan pada otot dan urat saraf.

Terakhir, di luar pekarangan, tepatnya di sebelah pintu gerbang ada palinggih Lebuh sebagai simbol api yang memberikan kekuatan pada darah dan otot. Melalui palinggih ini, dipuja I Ratu Wayan Tabeng Sakti atau I Ratu Wayan Tebeng alias I Ratu Wayan Godeg. “Setelah paham bahwa tubuh terdiri dari lima unsur kemudian tahu cara mengoneksikan dengan kelima energi itu,” terang pria yang juga sesepuh Perguruan Wahyu Siwa Mukti itu.

Hal inilah yang dijadikan dasar pembelajaran di pasraman yang berlokasi di Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana tersebut.  “Pertama harus memahami badan terbentuk dari lima unsur. Setelah paham, tahu cara mengoneksikan diri dengan lima energi itu. Koneksi dengan angin dibuat Ngarurah, koneksi dengan api dibuat Lebuh, koneksi dengan sinar dibuat Penunggun Karang, koneksi dengan air dibuat Taksu Gaginan, koneksi dengan bumi dibuat Taksu Agung. Setelah ini, bagaimana tatanan yang benar. Secara konseptual tattwanya apa, filosofinya seperti apa, etikanya bagaimana,” jelasnya.

Pasalnya, ketiganya adalah kerangka dasar umat Hindu. Pertama, Tattwa atau filosofi menuntut kecerdasan umat. Kedua, etika sebagai tatanan tingkah laku. Dalam hal ini, Guru Nabe berusia 52 tahun itu membaginya menjadi empat, yakni etika kemanusiaan, etika alam, etika bhuta atau gaib negatif, dan etika gaib positif atau dewa. Ketiga adalah tatanan ritual yang baik dan benar. “Jadi ini harus dipahami,” tegasnya.

Jika mampu mengoneksikan tubuh dengan energi alam melalui masing-masing palinggih, maka bisa mendatangkan kekuatan bagi diri dan penghuni rumah. Sehingga terwujudlah istilah rahayu, rahajeng, dan jagathita. Sebaliknya, jika salah dalam penataan dan gagal mengoneksikan, maka timbullah dampak negatif. Hal umum yang terjadi adalah sakit fisik yang kadang disebut diakibatkan oleh pamali. Bahkan ada celah bangkit atau masuknya energi negatif yang berdampak pada surutnya perekonomian, cekcok keluarga, hingga serangan ilmu hitam, bahkan usia pendek. “Jika paham dan mampu mengoneksikan diri dengan lima energi tersebut, maka anda sudah menjadi orang Hindu di Bali,” jelasnya.

Guru Nabe Budiarsa juga mengingatkan, manusia Bali tak luput dari ritualisasi. Seperti diketahui, sebelum sebuah embrio terbentuk, ada penyucian sukla (sperma) dan swanita (ovum) melalui ritual perkawinan. Setelah lahir pun umat Hindu di Bali masih diritualisasi hingga sepanjang hayat. “Badan diritualisasi dengan manusa yadnya, sesuai dengan tahapan usia orang Bali. Misalnya nyambutin, ngotonin, menek kelih, dan seterusnya. Kekuatan tubuh terus ditingkatkan melalui ritualisasi manusa yadnya sejalan dengan ritualisasi alam agar selaras,” jelasnya.

Namun demikian, terkadang umat Hindu di Bali masih awam terhadap pemahaman berbagai ritual diri tersebut. Apalagi tatanan pekarangan yang baik dan benar. Akibatnya, tak jarang umat terjebak dalam ritual yang tidak dipahami, bahkan terkadang menguras materi. Padahal, jika dipahami, ritual sangat sederhana pun bisa mendatangkan kekuatan mahadahsyat.

Menariknya, di Pasraman Sastra Kencana, konsep pemahaman diri dan pekarangan tersebut betul-betul dikupas secara rinci, mendalam, dan logis. Sehingga, umat lebih menghayati ajaran Hindu dan kian menyukuri warisan dari leluhur yang menjaga taksu Bali. Guna bisa mempelajarinya, maka akan didahului dengan proses pawintenan. Hal ini sebagai fondasi dalam belajar di pasraman yang telah berbadan hukum dengan nomor W.24-U4/03/ATD2.05/III/P/2014 tersebut.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia