Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Desa Wisata Dukuh Penaban; Cicipi Lawar Jepun, Baca Dan Nyurat Lontar

09 April 2019, 15: 30: 26 WIB | editor : I Putu Suyatra

Desa Wisata Dukuh Penaban; Cicipi Lawar Jepun, Baca Dan Nyurat Lontar

UNIK: Para wisatawan dapat menikmati sensasi nyurat (menulis) lontar yang dipandu langsung. Selain itu kuliner unik kental akan nilai tradisi juga bisa dinikamati, yaitu lawar jepun (olahan dari dari kamboja). (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Sejak beberapa tahun belakangan, desa wisata bermunculan di Bali. Termasuk di Karangasem. Salah satunya adalah Desa Wisata Dukuh Penaban. Desa wisata yang dikembangkan Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem ini tergolong baru, namun tak sedikit wisatawan domestik maupun mancanegara berkunjung ke desa yang secara administrasi masuk Kelurahan/Kecamatan Karangasem itu.

Saat berkunjung ke desa setempat, pengunjung akan terpesona dengan keindahan alam yang masih asri. Jauh dari riuh kendaraan. Apalagi bisa keliling desa, hal berbeda akan dirasakan. Bisa menikmati keindahan alamnya, melihat aktivitas masyarakat desa yang tanpa dibuat-buat.

Diresmikan 11 Maret 2017 lalu, Dukuh Penaban menawarkan beberapa kelebihan dibandingkan desa lain. Di sana wisatawan bisa menjelajah desa melaui jalur trekking, melintasi persawahan, lanjut naik Bukit Jongkok. Dari atas bukit terlihat jelas pemandangan laut dan keindahan Gunung Agung.  Wisatawan bisa melanjutkan perjalanan mengunjungi tempat panglukatan yang diberi nama panglukatan Sadguna. Jumlahnya ada enam, dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Masing-masing panglukatan mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Posisinya dekat sungai. Cocok untuk wisata spiritual.

Tak hanya itu, pengunjung juga bisa bebas baca lontar yang disediakan di Museum Lontar milik desa setempat. Sekitar 200 cakep lontar berbagai jenis ada di sana. Bagi yang tidak bisa membaca lontar maupun mengartikannya, museum setempat menyediakan salinan yang sudah ditulis dalam huruf latin dan berbahasa Bali. Tak hanya itu, bagi yang ingin belajar menulis di daun lontar, juga bisa. Desa setempat menyediakan petugas khusus mengajari nyurat lontar. Mereka yang ingin konservasi lontar juga disediakan di klinik lontar.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dukuh Penaban Nengah Sudana Wiryawan mengungkapkan, keberadaan museum termasuk diminati wisatawan asing maupun domestik. Banyak sekolah mengajak siswanya berkunjung ke museum itu. Tidak hanya sekolah di Karangasem. Banyak juga rombongan siswa dari luar Karangasem. Seperti Denpasar. “Sekolah ini khusus berkunjung ke museum. Selain itu, wistawan lain juga banyak untuk ukuran objek wisata baru,” jelas Sudana. Bagi pengunjung yang ingin kemah disediakan tempat di areal museum. Hingga saat ini beberapa pengunjung sudah pernah meraskan kemah di sana. Paginya mereka yoga, sambil menghirup udara segar pedesaan. 

Lanjut Penyarikan Desa Adat Dukuh Penaban itu, selain museum lontar yang menjadi andalan, kuliner khas seperti lawar don jepun (bunga kamboja) juga menjadi favorit pengunjung. Lawar khas desa setempat dibuat tergantung pesanan. “Kalau ada pesan, kami buatkan,” tegasnya. Seperti diketahui , lawar don jepun itu erat kaitan dengan keberadaan Pura Puseh Dukuh Penaban yang dibangun sekitar 1658 silam. Saat pembangunan yang dilakukan secara gotong royong, warga setempat membawa bekal nasi dengan lawar don bunga jepun. Krama pun kala itu mengucapkan janji bahwa apabila pembangunan Pura Puseh tuntas, krama desa akan rutin ngaturang lawar don bunga jepun. Yakni setiap penampahan Galungan, Kuningan, dan saat piodalan pada Purnama Kapat, Purnama Kapitu, Tilem Kesanga dan Purnama Kedasa. Belakangan lawar tersebut sering dikonsumsi warga setempat, hingga menjadi menu kuliner khas yang bisa dinikmati wisatawan. “Ini satu-satunya objek wisata yang menyediakan lawar dari don bunga jepun,” jelas pria yang juga Ketua Komisi Wasit Forki Bali itu ditemui belum lama ini.

Bagaimana dengan biaya masuk ke sana? Dengan tegas, Sudana menyebutkan belum memasang tarif. Saat ini masih berupa donasi yang besarannya tidak dipatok. Desa setempat masih menghitung biaya masuk yang pas agar tidak terlalu membebani pengunjung. Di sisi lain, biaya operasional bisa terpenuhi. “Walaupun sekarang masih berupa donasi, syukurnya donasi yang masuk bisa menutupi operasional,” tandas Sudana yang seorang Kasubag Umum Kepegawaian dan Keuangan di Camat Kubu, Karangasem itu.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia