Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Nyoman "Petruk" Subrata Tetap Melawak, Tiru Pasien RSJ

14 April 2019, 22: 39: 24 WIB | editor : Nyoman Suarna

Nyoman "Petruk" Subrata Tetap Melawak, Tiru Pasien RSJ

MASIH SEMANGAT: Nyoman Subrata ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), di kediamannya, belum lama ini, masih tampak semangat dan sehat. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Ketika di panggung, Nyoman Subrata yang dikenal sebagai "Petruk", selalu membuka penampilan dengan prolog. Biasanya seputar peristiwa aneh atau nyeleneh yang terjadi di masyarakat. Tokoh Dolar yang digambarkan “bego” mendukung pun mengompori celotehnya.

 

Petruk dikenal sebagai sohibnya Dolar atau almarhum Wayan Tarma di pentas drama gong sekitar 1980-1990-an. Mereka berdua terkenal karena guyonan khas, semisal lengeh celenge (babi bodoh). Selepas masa jaya drama gong, pria asli Banjar Kawan, Kelurahan Kawan, Bangli itu masih berduet dengan Dolar di kesempatan lain.

Peria kelahiran 1949 itu mengambil perilaku dan gaya bercanda para penyandang disabilitas mental di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bali sebagai bahan lawakannya. "Saya pantau pasien-pasien itu gimana sebenarnya mereka. Saya lihat bercandanya, gaya bicara yang ngelantur, perilaku, hampir semua saya terapkan di panggung," tutur Subrata, ketika ditemui di rumahnya di Bangli. "Saya tidak bermaksud menghina pasien. Cuma gaya mereka sesama pasien saja yang saya perankan. Bukan menyebut saya mirip pasien di RSJ," ucapnya lagi.

Dulu, Subrata memang staf di RSJ Provinsi Bali di Bangli dan berstatus PNS. Tak heran kalau dirinya tahu betul bagaimana situasi di RSJ, sehingga dia bisa menggali bahan lawakannya mendalam. Orang-orang juga tidak tahu akalu Petruk adalah salah satu  staf di RSJ. Supaya tidak diketahui, ayah tiga anak ini mengaku keluar-masuk RSJ untuk konsultasi. "Saya bilang saya berobat. Ya, takut nanti tambah sakit," kata Petruk dengan bahasa Bali.

Selain aktif di RSJ, Subrata tetap berkesenian. Pentas mengisi undangan bersama pasangan duetnya juga lancar. Setiap hari, dia hanya bisa tidur 2-3 jam. Hal itu lantaran Subrata sibuk melakoni dua aktivitasnya dari pagi hingga esok pagi. "Saya baca naskah cerita sambil ngantor. Pulang ngantor sore langsung pentas sampai larut malam," katanya.

Di antara teman sejawat, Subrata yang paling istimewa. Pucuk pimpinan RSJ kala itu, dianggapnya orang paling santai. Manakala Subrata mengurai rambut panjangnya, tidak ada yang berani protes. Subrata mengaku tidak mau arogan dengan profesinya sebagai seniman. "Baru seniman, tidak mesti bebas juga. Tapi Pak Pimpinan paham yang saya lakukan, saya juga hormat. Rambut saya ikat, tapi kadang lepas, bercanda biar serem-sereman," kenang Subrata, sambil menyeruput kopi hitam.

Fisiknya dulu masih kuat. Namun setelah pensiun pada 2005, tawaran untuk pentas melawak mulai sepi. Peristiwa Bom Bali II kala itu juga membuat situasi Bali carut-marut. "Orang-orang tidak antusias bikin acara gitu-gitu (lawak). Jeg sepi," keluhnya.

Sejak 13 tahun pasca bom Bali II, apakah masyarakat masih antusias dengan drama gong seperti dulu? Subrata membantah. Perkembangan teknologi juga mempengaruhi. "Tapi drama gong tidak sampai hilang. Cuma sedikit yang menyukai, misalnya saat pentas, bagian sedihnya muncul, penonton malah main HP. Saat bagian lucu saja penonton itu mau menyimak," ketusnya.

"Astungkara, tawaran pentas tetap ada. Walaupun cuman sekadar melawak di pura, pentas prembon, calonarang, saya siap. Bagi saya, trik khusus untuk membangkitkan kembali minat penonton drama gong itu sulit," sambungnya.

Usia Subrata kini 69 tahun. Dia paham kalau tawaran pentas harus dibatasi. Minimal seminggu satu kali. "Saya sudah tua, tetapi tetap bersedia menghibur. Cuman ya jumlahnya dibatasi," pungkas Subrata.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia