Senin, 22 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Mantan Gubernur Mangku Pastika Angkat Bicara Soal Sandoz, Apa Katanya?

14 April 2019, 22: 55: 51 WIB | editor : Nyoman Suarna

Mantan Gubernur Mangku Pastika Angkat Bicara Soal Sandoz, Apa Katanya?

ANGKAT BICARA: Mantan Gubernur Bali Made Mangku Pastika angkat bicara soal dugaan keterlibatan anaknya Putu Pasek Sandoz dalam kasus penipuan proyek perluasan Pelabuhan Benoa oleh PT BSM. (DOK. BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Masa pensiun sebagai Gubernur Bali Made Mangku Pastika sepertinya terusik. Di tengah – tengah pencalonan dirinya sebagai Caleg DPD RI, tiba – tiba ada penangkapan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali AA Ngurah Alit Wiraputra dalam kasus penipuan miliaran rupiah. Setelah ditangkap, Wiraputra teriak – teriak bahwan anak Mangku Pastika yaitu Putu Pasek Sandoz menikmati uang itu.

Dalam kasus ini Alit Wiraputra mengaku menyetor duit ke Sandoz senilai Rp 7,5 miliar dan USD 80 ribu (senilai Rp 800 juta), Made Jayantara senilai Rp 1,1 miliar, dan Candra Wijaya senilai Rp 4,6 miliar. Kepada polisi, Alit mengaku mendapat jatah Rp 2,2 miliar. Bahkan menyebut juga untuk bisa audensi dengan Gubernur memerlukan dana Rp 6 miliar.

Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa hari ini berusaha mengkonfirmasi Made Mangku Pastika atas masalah ini, untuk mendapatkan penjelasan terkait kasus ini. Akhirnya Minggu (14/4), wartawan media ini bisa wawancara melalui telepon dengan mantan gubernur dengan jargon Bali Mandara ini.

Tulisan akan dituangkan dengan tanya jawab, antara Made Mangku Pastika dan Pimpred Bali Express (Jawa Pos Group) I Ketut Ari Teja.

 Pagi Pak Mangku?

Ya pagi, saya sehat. Semoga sehat juga ya. Bagaimana?

 Apa bisa mendapatkan penjelasan terkait kasus Alit Wiraputra yang menyebut nama Bapak dan anak Bapak?

Sebenarnya saya tidak ada kaitannya dan saya tidak harus memberikan penjelasan apa – apa. (Sempat diyakinkan untuk menjelaskan dan memberikan klarifikasi)

Mumpung belum ada klarifikasi Bapak dan belum bisa konfirmasi selama ini, akan lebih bagus jika Bapak bisa menjelaskan masalah ini?

Jika menyangkut anak saya (Sandoz), sebenarnya jauh sebelum Alit ditangkap, sudah memberikan penjelasan atas masalah ini. Bahkan saya juga sudah meminta penjelasan terkait masalah ini kepada Sandoz dan kepada yang lain yang tahu masalah ini. Termasuk Mantan Kepala Bappeda dan Mantan Sekda Bali Pak Cok Pemayun.

 Artinya Bapak sudah tahu perjalanan masalah ini?

Saya tahu, dan saya pastikan sebenarnya tidak ada masalah. Ini murni pekerjaan, duit yang disebut itu atas pekerjaan yang sudah selesai dan sudah dibayar. Namun ujung – ujungnya malah dilaporkan penipuan. Ini yang aneh. Saya tahu setelah bertanya dan minta penjelasan pada yang terkait dengan pekerjaan ini.

 Bisa Bapak rinci lebih detail dari awal?

Sebelum tahun 2012, Sandoz ditadatangi oleh pihak PT BSM (PT Bangun Segitiga Mas). Di sana ada orang – orang, Candra sebagai direktur utama, Sutrisno sebagai komisaris utama, termasuk juga Jayantara dan Alit. Mereka mencari Sandoz. Rencananya PT BSM akan membuat izin prinsip dan Sandoz dijadikan sebagai konsultan. Didatangi saat itu di Sector Bar, Sanur yang menjadi kantornya HIPMI. Sandoz sebagai Ketua HIPMI saat itu.

 Apa tujuannya mendatangi Sandoz?

Tujuannya untuk menjadikan Sandoz konsultan, dalam membuat izin prinsip penataan Pelindo di Benoa. Dalam proses ini, akhirnya Sandoz memberikan saran – saran, sampai akhirnya ada kesepakatan tertulis.

Mereka membuat kesepakatan tertulis, setelah beberapa saatnya, yaitu ada beberapa tahap. Tahap pertama proposal dan lainnya, kemudian tahap kedua pra FS (Feasibility study), kemudian tahap ketiga FS dan izin prinsip.

Jika semua sudah selesai, pekerjaan mereka dibayar Rp 16 miliar dan Rp 14 miliar. Yang Rp 16 miliar sudah dibayar, dan sudah dibagi – bagi, sedangkan yang Rp 14 miliar belum dibayar.

Kenapa akhirnya malah dilaporkan penipuan penggelapan?

Ini yang menjadi aneh dan masalah. Setelah izin prinsip keluar, namun dalam perjalanannya proyek tidak bisa jalan. Malah Sutrisno melaporkan ada penipuan penggelapan. Padahal dari perjanjain yang mereka lakukan, saya tidak tahu lho ada perjanjian sebelumnya. Saya tahu setelah kasus ini muncul. Isi perjanjian itu, tugas mereka setelah izin prinsip selesai, mendapatkan dana untuk operasional dan pengurusan Rp 16 miliar dan Rp 14 miliar. Yang Rp 14 miliar malah belum dibayarkan. Dalam perjanjian itu ditegaskan, apapun yang terjadi dengan proyek itu, tidak ada pengembalian dana. Tugasnya menyelesaikan izin prinsip.

 Artinya Sandoz terima uang?

Memang anak saya Sandoz terima uang, namun dia profesional urusan pekerjaan. Anak saya sebagai konsultan, dan memang Sandoz menjadi ketua HIPMI. Walaupun kapasitasnya sebagai anak gubernur, dia tidak memanfaatkan. Buktinya, perlu waktu 2 tahun menyelesaikan izin prinsip ini. Tahun 2012 sampai tahun 2014. Mekanisme yang dijalani semua normal. Pemaparan, presentasi dan tahap – tahap selanjutnya semua normal.

Selain Sandoz, yang lain juga terima uang. Itu semua uang hasil kerja mereka, sesuai perjanjian. Sandoz terima uang untuk pekerjaanya, pekerjaannya sudah selesai. Layak terima uang, malahan belum cair sisanya. Perjanjiannya, izin prinsip selesai dengan perjanjian yang ada, kok malah Sutrisno lapor penipuan. Kalau menipu, jelas pekerjaan tidak selesai, tetapi terima uang. Penggelapan juga, kalau memang uang dikasi, namun pekerjaan tidak ada, atau uangnya dipakai yang lain, baru penggelapan.

 Apa tanggapan Bapak disebutkan untuk audiensi Rp 6 miliar?

Opini ini terbangun menjadi liar. Seolah – olah disebutkan saya harus dapat Rp 6 miliar hanya untuk audiensi. Tidak ada seperti itu. Sangat tidak benar. Masalah uang itu, saya tahunya belakangan, setelah ada masalah. Kalau masalah audiensi, memang PT BSM ini audiensi, untuk investasi ke Pelindo dalam hal melakukan penataan pelabuhan. Sepertinya penataan seperti sekarang, namun batal menggunakan PT BSM. Sekarang ditata sendiri oleh Pelindo. Dulu memang Pelindo perlu investor, investornya rencana PT BSM ini.

Audiensinya seperti apa saat itu?

Audiensi normal, mereka presentasi, kemudian proposalnya saya disposisi ke Bappeda Bali. Saat itu Kepala Bappedanya Cok Pemayun, nanti bisa diminta penjelasan Pak Cok Pemayun. Karena beliau kepala Bappeda dan selanjutnya menjadi Sekda dan atas nama Gubernur, Pak Cok Pemayun juga tanda tangan izin prinsip itu.

Saya hanya sekali membuat disposisi, dengan tulisan ‘Kepala Bappeda mohon dikaji’ tanpa ada embel – embel mohon dibantu dan Sandoz juga tidak pernah minta tolong walaupun dia jadi konsultan dalam proyek ini. Saya tidak ada ikut menerima apapun, terkait dengan audiensi dan lainnya. Buktinya proses lama, tidak ada dipercepat. Dua tahun untuk sampai jadi izin prinsip. Bahkan ada rekomendasi ketua DPRD Bali, saat itu Bapak Cok Rat.

 Seperti apa ceritanya hingga ada Rekomendasi Ketua DPRD Bali?

Proses perizinan berjalan, semua kajian, presentasi dan lain lain. Setelah semua dianggap layak mendapatkan izin prinsip, tetap mesti ada rekomendasi DPRD Bali. Saat itu Sekda memohon ke Ketua DPRD Bali Cok Rat untuk memberikan rekomendasi, dan rekomendasi keluar. Semua proses formal terpenuhi.

 Ketika semua tidak ada masalah, kenapa kepolisian mengusut kasus ini?

Ini yang saya juga tidak paham. Ini masalah pekerjaan, tidak terkait saya. Pekerjaan yang melibatkan anak saya, pekerjaannya selesai, hasilnya sudah ada, prosesnya tidak ada salah di Pemprov Bali, dan mereka mendapatkan upah atas pekerjaannya.

Memang pihak kepolisian menyebutkan tidak ada berkas, tidak ada PT BSM, tidak ada proses. Semua ada dan sudah diserahkan ke pihak kepolisian. Masalahnya sampai saat ini belum diperiksa Bapak Cok Pemayun. Beliau semua detail menjalani proses ini. Dan urusan berkas, saya juga masih pegang fotokopinya, sudah diserahkan ke Polda semua ada, proses ada.

Kenapa proyek sampai gagal?

Ceritanya gini, tugas dari Sandoz setelah masalah ini muncul, saya tanyakan. Tugasnya hanya sampai izin prinsip selesai, setelah itu sudah lepas tugas – tugasnya, karena sudah mengurus ke Pelindo, mengurus ke Kementrian Perhubungan, Kementerian Perikanan dan Keluautan dan lainnya. Jadi sudah tidak menjangkau dari Bali. Namun PT BSM yang tidak menjalankan dengan baik, sehingga akhirnya proyek investasi di Pelindo Benoa gagal.

Jika menyangkut dengan Pelindo, Sandoz juga kenal. Ini ceritanya dibawa oleh ketua Kadin sebelumnya yaitu Gede Sumarjaya Linggih alias Demer. Jadi Demer awalnya mengenalkan Sandoz dengan Pelindo.

Urusan kemudian gagal, kenapa malah ditimpakan pada tim yang membantu di Bali. Ini anehnya. Saya misalnya mau buat perusahaan, meminta tolong ke Anda. Selesaikan sampai izin prinsip, kemudian izin prinsip selesai, saya bayar upahnya. Masalah ketika saya tidak bisa melanjutkan proyek, saya laporkan Anda. Aneh kan, orang yang membantu, malah dilaporkan penipuan dan penggelapan. Gitulah kira – kira.

 Apa harapan bapak terhadap kasus ini?

Semoga kasus ini segera tuntas. Fakta – fakta yang sebenarnya bisa diungkap oleh Polda Bali. Intinya, kasus ini awalnya adalah perjanjian kerja, pekerjaan selesai, upahnya dibayar. Tapi malah setelah itu dilaporkan penipuan penggelapan.

(bx/art/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia