alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Mardiki & Law Center Marhaen Kawal Kasus Broker Vila Main Ancam

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pengancaman melalui WhatsApp saat ini marak terjadi, dan biasanya motif itu bertujuan untuk memeras harta si korban. Cara seperti itu juga dialami salah satu pihak agen tour travel yang menyewakan vila kepada calo alias broker vila, yang mendapatkan pengancaman.

Kejadiannya bermula pada tanggal 29 April 2022 pihak agen perjalanan wisata (tour travel) menyewakan vila kepada calo (broker vila) berinisial MH dan rekannya berinisial R yang baru saja merantau ke Bali untuk mencari penghasilan dari komisi menjual voucher vila.

Kemudian terjadi pembatalan oleh pihak agen tour travel di hari yang sama dan uang pancar tanda jadi (DP) sudah dikembalikan beserta dengan sejumlah uang Rp 400 ribu kepada calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R sebagai uang permohonan maaf.

Walaupun sebenarnya tidak ada surat perjanjian mengenai hal tersebut, tetapi dengan itikad baik pihak agen tour travel tetap memberikan uang kompensasi tersebut. Namun, ternyata hal ini diduga dijadikan kesempatan oleh calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R.

Melalui pesan WhatsaApp, mereka mengancam akan mempublikasikan berita negatif ke media sosial, apabila tidak membayar sejumlah uang yang mereka inginkan. Dari ancaman tersebut pihak agen tour travel merasa tertekan secara psikis, karena dipaksa membayar sejumlah uang tersebut.

Mardiki Supriadi, Pimpinan Fakultas Hukum di salah satu universitas di Bali mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R patut diduga merupakan sebuah tindak pidana pengancaman yang merugikan pihak agen tour travel.

“Tindakan pengancaman tersebut sebagaimana telah diatur dalam pasal 369 ayat 1 KUHP yang berbunyi : barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan ancaman pencemaran, baik lisan atau tulisan atau dengan ancaman akan membuka rahasia memaksa seseorang supaya memberikan sesuatu barang yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain atau supaya memberikan utang atau menghapus piutang diancam dengan pidana paling lama 4 tahun,” jelasnya, Selasa (3/5).

Selain itu, Mardiki menambahkan tindakan pelaku berinisial MH bersama rekannya juga dapat diduga melanggar Undang-undang ITE nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik pasal 45B, yang berbunyi bahwa setiap orang yang dengan sengaja mengirimkan informasi elektronik dan atau dokumen elektronik
berisi ancaman kekerasan atau menakut nakuti yang ditunjukan secara pribadi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak Rp 750.000.000.

“Sehabis saudara-saudara kita selesai melaksanakan hari raya Idul Fitri, ya dalam waktu dekat ini saya akan memanggil calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R ke Gedung Law Center Marhaen untuk menglarifikasi serta melakukan permintaan maaf tertulis di media massa,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Mardiki juga menjelaskan Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dan Ketua IMO (Ikatan Media Online) beserta media lain akan diundang untuk ikut serta dalam agenda tersebut.

“Apabila calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R yang baru saja merantau ke Bali untuk mencari penghasilan dari komisi menjual voucher vila tidak memiliki itikad baik untuk hadir, maka pihak agen tour travel didampingi kuasa hukumnya dan beberapa pengacara senior, akan membuat laporan kejadian kepada bagian unit Cybercrime. Dengan membawa barang bukti untuk diberikan kepada penyidik dan dilimpahkan kepada penuntut umum, agar dilakukan penuntutan di pengadilan setempat,” imbuhnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pengancaman melalui WhatsApp saat ini marak terjadi, dan biasanya motif itu bertujuan untuk memeras harta si korban. Cara seperti itu juga dialami salah satu pihak agen tour travel yang menyewakan vila kepada calo alias broker vila, yang mendapatkan pengancaman.

Kejadiannya bermula pada tanggal 29 April 2022 pihak agen perjalanan wisata (tour travel) menyewakan vila kepada calo (broker vila) berinisial MH dan rekannya berinisial R yang baru saja merantau ke Bali untuk mencari penghasilan dari komisi menjual voucher vila.

Kemudian terjadi pembatalan oleh pihak agen tour travel di hari yang sama dan uang pancar tanda jadi (DP) sudah dikembalikan beserta dengan sejumlah uang Rp 400 ribu kepada calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R sebagai uang permohonan maaf.

Walaupun sebenarnya tidak ada surat perjanjian mengenai hal tersebut, tetapi dengan itikad baik pihak agen tour travel tetap memberikan uang kompensasi tersebut. Namun, ternyata hal ini diduga dijadikan kesempatan oleh calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R.

Melalui pesan WhatsaApp, mereka mengancam akan mempublikasikan berita negatif ke media sosial, apabila tidak membayar sejumlah uang yang mereka inginkan. Dari ancaman tersebut pihak agen tour travel merasa tertekan secara psikis, karena dipaksa membayar sejumlah uang tersebut.

Mardiki Supriadi, Pimpinan Fakultas Hukum di salah satu universitas di Bali mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R patut diduga merupakan sebuah tindak pidana pengancaman yang merugikan pihak agen tour travel.

“Tindakan pengancaman tersebut sebagaimana telah diatur dalam pasal 369 ayat 1 KUHP yang berbunyi : barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan ancaman pencemaran, baik lisan atau tulisan atau dengan ancaman akan membuka rahasia memaksa seseorang supaya memberikan sesuatu barang yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain atau supaya memberikan utang atau menghapus piutang diancam dengan pidana paling lama 4 tahun,” jelasnya, Selasa (3/5).

Selain itu, Mardiki menambahkan tindakan pelaku berinisial MH bersama rekannya juga dapat diduga melanggar Undang-undang ITE nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik pasal 45B, yang berbunyi bahwa setiap orang yang dengan sengaja mengirimkan informasi elektronik dan atau dokumen elektronik
berisi ancaman kekerasan atau menakut nakuti yang ditunjukan secara pribadi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak Rp 750.000.000.

“Sehabis saudara-saudara kita selesai melaksanakan hari raya Idul Fitri, ya dalam waktu dekat ini saya akan memanggil calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R ke Gedung Law Center Marhaen untuk menglarifikasi serta melakukan permintaan maaf tertulis di media massa,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Mardiki juga menjelaskan Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dan Ketua IMO (Ikatan Media Online) beserta media lain akan diundang untuk ikut serta dalam agenda tersebut.

“Apabila calo/broker vila berinisial MH dan rekannya berinisial R yang baru saja merantau ke Bali untuk mencari penghasilan dari komisi menjual voucher vila tidak memiliki itikad baik untuk hadir, maka pihak agen tour travel didampingi kuasa hukumnya dan beberapa pengacara senior, akan membuat laporan kejadian kepada bagian unit Cybercrime. Dengan membawa barang bukti untuk diberikan kepada penyidik dan dilimpahkan kepada penuntut umum, agar dilakukan penuntutan di pengadilan setempat,” imbuhnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/