alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Jelang Tahun Politik, Ketua Umum LDII Ingatkan Dewasa Berdemokrasi

DENPASAR, BALI EXPRESS – Tahun politik yang memiliki ‘tensi tinggi’ sudah mulai terasa dengan adanya manuver para politisi. Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) KH Chriswanto Santoso meminta semua pihak dewasa dalam menyongsong Pemilu 2024.

Chriswanto menegaskan, demokrasi adalah menyejahterakan rakyat, bukan ambisi pribadi atau kelompok. Chriswanto mengajak seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun rakyak Indonesia melakukan politik kenegaraan dalam bingkai moralitas.

“Bulan Ramadan ini kita jadikan ajang pengendalian diri agar tidak emosional menghadapi tahun politik. Jangan hal-hal yang dianggap tidak adil dilawan dengan emosi dan kekerasan,” ujar Chriswanto dalam acara buka bersama di Kantor DPP LDII, Selasa (18/4).

Ia berpendapat, ketika bangsa ini setelah reformasi memilih untuk berdemokrasi. Maka semua pihak mematuhi hukum atau aturan yang dibuat bersama oleh eksekutif dan legislatif, dan dijalankan oleh yudikatif.

“Taat terhadap peraturan itu adalah salah satu ciri masyarakat yang demokratis dan beradab,” imbuhnya.

Manusia dengan moralitas yang luhur, menurutnya akan menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri. “Ramadan ini adalah bulan yang bisa kita pakai untuk belajar mengendalikan diri, mengikuti aturan yang dibuat atas kesepakatan bersama,” katanya kepada para wartawan. Justru, sikap emosional dan amarah, lanjutnya, akan menghilangkan nilai luhur demokrasi.

“Emosional dengan menghajar orang lain, itu mendegradasi nilai perjuangan yang dicanangkan. Cara berdemokrasi yang baik kita jangan mudah terpancing,” imbuhnya.

Senada dengan KH Chriswanto, Ketua DPP LDII Rully Kuswahyudi mengingatkan pentingnya ruang publik. Dalam hal ini media sosial, bukan sebagai tempat saling menyerang keyakinan, baik sesama umat Islam atau antar umat beragama.

Menurut Rully kekerasan simbolik atau kekerasan verbal di media sosial, mampu menciptakan kekerasan fisik di tengah-tengah masyarakat.

Penistaan agama, yang katanya hal yang lumrah di negara maju karena demokrasinya telah dewasa, menurut Rully juga harus dilihat kembali realitasnya.

“Di negara-negara maju, ada gereja dibakar atau umat Islam ditembaki saat beribadah, itu semua karena penistaan agama di media sosial,” ujarnya.

Untuk itu, ia meminta semua pihak dalam urusan agama, selalu mawas diri, saling menghormati dan menghargai.

“Kita semua merasa keyakinannya adalah yang paling benar, tapi kita juga memiliki kewajiban menciptakan suasana keberagaman ini menjadi sejuk,” tuturnya.

Rully mengatakan esensi politik adalah bagaimana menciptakan ruang, agar semua orang yang berbeda gaya hidup dan pandangan bisa hidup berdampingan dengan damai.

“Jadi politik itu bukan soal cara berkuasa saja. Ada amanah untuk menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara ini menjadi lebih berkualitas,” pungkasnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS – Tahun politik yang memiliki ‘tensi tinggi’ sudah mulai terasa dengan adanya manuver para politisi. Ketua Umum Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) KH Chriswanto Santoso meminta semua pihak dewasa dalam menyongsong Pemilu 2024.

Chriswanto menegaskan, demokrasi adalah menyejahterakan rakyat, bukan ambisi pribadi atau kelompok. Chriswanto mengajak seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun rakyak Indonesia melakukan politik kenegaraan dalam bingkai moralitas.

“Bulan Ramadan ini kita jadikan ajang pengendalian diri agar tidak emosional menghadapi tahun politik. Jangan hal-hal yang dianggap tidak adil dilawan dengan emosi dan kekerasan,” ujar Chriswanto dalam acara buka bersama di Kantor DPP LDII, Selasa (18/4).

Ia berpendapat, ketika bangsa ini setelah reformasi memilih untuk berdemokrasi. Maka semua pihak mematuhi hukum atau aturan yang dibuat bersama oleh eksekutif dan legislatif, dan dijalankan oleh yudikatif.

“Taat terhadap peraturan itu adalah salah satu ciri masyarakat yang demokratis dan beradab,” imbuhnya.

Manusia dengan moralitas yang luhur, menurutnya akan menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri. “Ramadan ini adalah bulan yang bisa kita pakai untuk belajar mengendalikan diri, mengikuti aturan yang dibuat atas kesepakatan bersama,” katanya kepada para wartawan. Justru, sikap emosional dan amarah, lanjutnya, akan menghilangkan nilai luhur demokrasi.

“Emosional dengan menghajar orang lain, itu mendegradasi nilai perjuangan yang dicanangkan. Cara berdemokrasi yang baik kita jangan mudah terpancing,” imbuhnya.

Senada dengan KH Chriswanto, Ketua DPP LDII Rully Kuswahyudi mengingatkan pentingnya ruang publik. Dalam hal ini media sosial, bukan sebagai tempat saling menyerang keyakinan, baik sesama umat Islam atau antar umat beragama.

Menurut Rully kekerasan simbolik atau kekerasan verbal di media sosial, mampu menciptakan kekerasan fisik di tengah-tengah masyarakat.

Penistaan agama, yang katanya hal yang lumrah di negara maju karena demokrasinya telah dewasa, menurut Rully juga harus dilihat kembali realitasnya.

“Di negara-negara maju, ada gereja dibakar atau umat Islam ditembaki saat beribadah, itu semua karena penistaan agama di media sosial,” ujarnya.

Untuk itu, ia meminta semua pihak dalam urusan agama, selalu mawas diri, saling menghormati dan menghargai.

“Kita semua merasa keyakinannya adalah yang paling benar, tapi kita juga memiliki kewajiban menciptakan suasana keberagaman ini menjadi sejuk,” tuturnya.

Rully mengatakan esensi politik adalah bagaimana menciptakan ruang, agar semua orang yang berbeda gaya hidup dan pandangan bisa hidup berdampingan dengan damai.

“Jadi politik itu bukan soal cara berkuasa saja. Ada amanah untuk menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara ini menjadi lebih berkualitas,” pungkasnya.

 






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/