Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Langit Padanggalak Diwarnai Layangan Garuda Pancasila

I Putu Suyatra • Senin, 17 Juli 2017 | 15:49 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Akhir-akhir ini, setiap minggu masyarakat Bali akan disuguhkan berbagau festival layang-layang. Setelah sukses sebelumnya yakni Bali Kite Festival, kini giliran Gianyar Kita Festival digelar. Event ini mengambil tempat di Pantai Padanggalak Sabtu (15/7) hingga Minggu (16/7) kemarin. 


“Dalam kegiatan tahunan yang dilaksanakan Persatuan Layang-layang Indonesia (Pelangi) Kabupaten Gianyar, ini diikuti oleh 756 layang-layang. Jumlah ini selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya,” ujar Ketua Pelangi Gianyar, I Katur Arsana ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) disela pelaksanaan lomba.


Lebih lanjut kata Arsana, dari 756 peserta tersebut, lomba dibagi menjadi enam katagori yakni Tradisional Bebean, Tradisional Pecukan, Tradisional Janggan, Kreasi Baru, Janggan Buntut, dan Bebean Big Size. Yang secara keseluruhan tergabung dalam 11 seri.


Lomba yang secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Gianyar, I Made Agus Mahayastra yang ditandai dengan pemukul gong, ini menjadi kebanggan tersendiri bagi para pelayang atau yang dikenal dengan sebutan Rare Anggon ini. Pasalnya, angin yang berhembus cukup kencang memudahkan para pelayang menaikan layang-layangnya. Bahkan, berdasarkan data panitia, angin berhembus di kisaran 16 hingga 17 knot stabil dari pagi hingga sore hari.


Arsana menuturkan, sebagian besar para pelayang mampu menaikan layang-layangnya. Angin yang kencang ini menurut Arsana tak lepas dari anugrah Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan memberikan anugrah kelancaran jalannya kegiatan ini. Namun, walaupun demikian, pihaknya mengaku melaksanakan permohonan secara niskala ke hadapan Ida Bhatara yang bersatana di Pura Hyang Sangkur yang berada di wilayah Banjar Gumucik, Desa Ketewel dan sesuhunan yang bersatana di Pantai Padanggalak sendiri.


“Jadi anugrah secara sekala dan niskala sangat diperlukan gune memperlancar sebuah kegiatan di Bali,” tegasnya.


Yang tak luput dari perhatian kata Arsana yakni banyaknya layangan kreasi baru yang mengudara, seperti Layangan Garuda Pancasila yang dinilai sangat tepat dalam momentum negara yang sedang digoyang berbagai paham anti NKRI. Selain itu, ada juga layangan Naga Pasa, Bade Mas, Legu, Sampian, Tangga Nada, Celuluk Meayunan dan lain sebagainya.


Dipilihnya  Pantai Padanggalak tak lepas dari citra dan kesan pantai yang sangat terkenal. Dimana, berbagai event layang-layang pada mulanya dilaksanakan di pantai ini. Namun, pihaknya tak menampik bahwa alasan lainya adalah karena kurang tersedeianya tempat bermain layangan di wilayah Kabupaten Gianyar. “Namun, ke depannya perlombaan yang menggunakan nama Gianyar ini akan kami pindah ke Pantai Purnama yang berada di kawasan Pura Erjeruk,” paparnya.


Pihaknya berharap, Pemerintah lebih berani dan tegas dalam menetapkan jalur hijau yang nantinya dapat dugunakan sebagai lokasi perlombaan layang-layang. Karena, percaya atau tidak, jika sawah yang digunakan untuk bermain layang-layang, hasil panennya akan baik. Hal ini dikarenakan Restu Ida Bhatara Rare Anggon yang disimbolkan denganlayang-layang.  “Jika dahulu mungkin iya banyak sawah sebagai tempat bermain layangan, sekarang jumlah sawah semakin sedikit, dan tepi pantai juga sudah banyak hotel, maka pemerintah harus tegaslah dalam mengambil sikap,; ugkapnya. Karena, sebagai pelayang kita hanya bisa mengusulkan saja, tanahnya kan punya orang lain, disinilah peran pemerintah dalam membuat aturan yang tegas, sehingga seni dan budaya Bali tetap Ajeg dan lestari.” Imbuhnya.


Arsana menambahkan, dalam perlombaan ini memperebutkan juara satu, dua tiga, dan harapan satu, dua tiga untuk masing-masing katagori. Pemenang juga akan diberikan hadian piala, piagam dan uang pembinaan. Uniknya lagi, dalam perlombaan ini diikuti tidak hanya Seka layangan laki-laki saja, dalam data pendaftaran terdapat dua sekaa yang beraggotakan perempuan yakni Sekaa Srikandi dan Seka Nilotama.


Salah seorang pelayang wanita, Putu Nurhayati mengaku sangat senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan layang-layang ini. Dimana, keikutsertaan sekaa wanita ini bukanlah yang pertama kalinya. Melainkan turut memeriahkan beberapa event layang-layang bergengsi di Bali.


Menurut Nurhayati, adapun yang menjadi motivasi bagi para wanita untuk ikut bermain layang-layang yakni karena banyak yang memandang wanita sebelah mata. “Kalau misalnya lomba layang-layang pasti wanita hanya ada di bagian konsumsi, kalau sekarang beda, kita ikut main layangan,” katanya.


Pihaknya mengaku tidak begitu mengalami permasalahan berarti dalam menerbangkan layang-layang. Hanya saja, untuk membuat layang-layang rasanya belum mampu untuk wanita. “Jadi khusus untuk pembuatan kami serahkan kepada undagi atau seniman layang-layang,” pungkasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar