BALI EXPRESS, SINGARAJA - Peristiwa kerauhan (kesurupan, Red) terjadi di Siswi SMPN 2 Sawan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, kerauhan (kesurupan, Red).
Satu persatu siswa SMPN 2 Sawan, Kecamatan Sawa, Kabupaten Buleleng mengalami kerauhan (kesurupan Red-) sembari berteriak. Kondisi inipun membuat suasana belajar yang sebelumnya hening mendadak gaduh. Jam pertama baru saja dimulai sekitar pukul 13.00 Wita. Namun, tanpa sebab siswa di kelas 7-f dikejutkan teriakan histeris dari Putu Sri Ayu Ratna Dewi selaku ketua kelas 7-f. Berselang beberapa menit kemudian disusul teriakan Candra Dewi yang duduk satu bangku dengannya.
"Pertama kali kesurupan dialami oleh Putu Sri Ayu Ratna Dewi, Kelas 7-f. Kemudian disusul Candra, Ayu, dan Suartini, jadi total empat orang. Keempat siswa kesurupan itu perempuan. Setelah kesurupan mereka langsung pinsan" kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan I Gusti Made Supriyadi saat ditemui di sekolah.
Saat kesurupan, sambung Supriyadi, terdengar suara teriakan histeris dari siswa. "Siswa yang kesurupan itu ngomongnya kalau mereka tidak ada yang mengobati, dan tidak akan ada yang memperhatikan. Karena kami panik akhirnya kami evakuasi mereka ke ruang kesiswaan," pungkasnya.
Semua siswa yang mengalami kesurupan mengobrak-abrik deretan meja kursi di kelas. Pantauan di lokasi, meja, kursi serta buku di deret utara kelas 7-f berserakan. Kondisi itupun mengundang perhatian puluhan siswa kelas lainnya, mereka penasaran dan berlarian ingin menyaksikan kejadian diluar nalar tersebut.
Mencegah bertambahnya siswa yang kesurupan, maka guru langsung meminta siswa lainnya masuk ke ruang kelas masing-masing. Sedangkan empat siswa yang mengalami kesurupan langsung diantar pulang."Menghindari lebih banyak siswa yang kesurupan, keempat siswi kami dipulangkan ke rumah masing-masing," ujar Supriyadi.
Sementara itu Kepala Sekolah SMPN 2 Sawan, Wayan Ariasa menyebutkan, pihaknya sempat mendapat pawisik ada sumur yang sudah diuruk. Kondisi itulah yang diduga menyebabkan terjadinya sisip, yang berujung adanya siswa mengalami kerauhan sejak Senin (11/9) lalu.
“Ada sumur yang sudah diuruk dengan tanah, posisinya tepat berada dibawah Pohon Asam. Memang lokasinya agak angker. Padahal dari sisi niskala sumur tersebut merupakan tempat penglukatan. Saya dapat pawisik agar secepatnya sumur tersebut dikembalikan fungsinya menjadi tempat penglukatan” ujar Ariasa yang dihubungi melalui saluran telepon karena tengah berada di Jakarta.
Tetapi lantaran ada ruang kelas yang perbaikan, sambung Ariasa, maka proses pengembalian fungsi sumur tersebut akhirnya ditunda. “Ini karena kami tengah ada perbaikan ruang kelas, maka proses pengembalian sumur itu masih kami tunda,” imbuhnya.
Editor : I Putu Suyatra