BALI EXPRESS, RENDANG - Semburan seperti asap yang membumbung setinggi 1,5 km dari puncak Gunung Agung, Sabtu malam (7/10), bukan erupsi. Itu hanya uap air akibat Gunung Agung diguyur hujan selama tiga hari berturut-turut. Hal itu disampaikan oleh I Gede Suantika Kabid Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Minggu (8/10).
Aktivitas Gunung Agung sampai saat ini masih tetap tinggi. Selain sempat mengeluarkan uap solfatara hingga ketinggian 1,5 km pada Sabtu malam (7/10), intensitas kegempaan gunung yang kini menyandang status Awas, ini pun masih kritis. Namun seperti kata I Gede Suantika Kabid Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, asap solfatara yang membumbung tinggi itu bukan karena kegempaan yang terjadi, tapi kemungkinan besar karena curah hujan yang cukup tinggi selama tiga hari terakhir.
“Perkembangan solfatara pada Sabtu (7/10) malam sekitar pukul 20.40 yang terlihat dari Pos Rendang (Pos Pemantauan Gunung Agung) sampai 1.500 meter (1,5km) dari puncak. Kami lihat hal itu bukan dipicu oleh kegempaan. Kemungkinan karena curah hujan yang cukup tinggi dalam tiga hari terakhir,” ucapnya saat ditemui di Pos Rendang kemarin (8/10).
Menurutnya, curah hujan yang melanda puncak Gunung Agung tersebut bisa memicu uap solfatara meningkat cukup pesat. Gede Suantika menjelaskan, bahwa secara umum dengan kondisi dasar kawah yang sangat panas, kemudian dengan intensitas hujan yang berlangsung selama tiga hari, membuat kawah kemasukan air hujan.
“Nah masuknya air hujan di dasar kawah, lalu terakumulasi ke bawah, dan dilepaskan berbarengan. Sehingga uap solfatara yang keluar bertambah. Jadi saya tegaskan jika itu hanya uap air saja. Karena memang masih dominan uap air,” sambungnya.
“Jadi yang tadi malam (Sabtu malam) belum termasuk letusan. Hanya aktivitas solfatara, dan belum freatik. Jadi gini saja secara umumnya, kalau freatik kami (sudah) nyatakan erupsi, kalau sudah ada material abu yang berhamburan ke udara. Sedangkan semalam masih dominan uap air. Bukan asap ya. Karena kalau asap itu pembakaran karbon, sampah atau benda lainnya,” sambungnya.
Lantas seberapa panas sebenarnya suhu di kawah tersebut? Dipaparkan olehnya jika suhu di kawah Gunung Agung diperkirakan antara 200 derajat celcius hingga 300 derajat celcius. Sedangkan suhu di permukaan, dan suhu air yang menguap tersebut mencapai 100 derajat celcius.
Lantas bagaimana dengan bau belerang yang dia katakan sudah tercium? “Begini, kalau di dekat sana jelas berbahaya. Sebab dari pendaki terakhir kami dapat penjelasan kalau bau belerang sudah sangat menyengat. Radius bau belerang ini sekitar 700 meter dari bibir kawah. Karena diameter kawah kan 900 meter,” jawabnya.
Sementara itu, terkait dengan adakah pengaruh intensitas hujan yang membuat erupsi semakin cepat terjadi, dikatakan olehnya, secara umum hujan memang tak berpengaruh pada aktivitas magmatik di dalam gunung. Tapi dalam kesempatan kemarin dia menjelaskan, bahwa tipe erupsi ada freatik dan magmatis. Pihaknya sendiri memang lebih berjaga-jaga dalam krisis Gunung Agung ini mengantisipasi erupsi magmatis.
“Magmatis ini artinya terjadi karena gempa cukup tinggi. Maka kami memodelkan, bahwa letusan nanti sekaligus magmatis. Itu estimasi kami. Makanya radiusnya kami perluas,” ucapnya.
“Kalau freatik itu ada pengaruh uap air dalam kawah. Maka letusannya tidak sebesar dari estimasi kami. Tapi ini (freatik) biasanya baru pendahuluan, sebelum magmatis itu. Jadi secara umum urutannya, freatik dulu, magmatik, baru magmatis,” sambungnya.
Meski begitu, dia menampik jika peluang Gunung Agung erupsi akan lebih dulu dengan freatik. Lantaran menurutnya hampir semua gunung api itu awalnya akan freatik dulu, baru kemudian magmatik dan yang terbesar yakni magmatis. “Jadi air itu hanya pembuka saja. Sedangkan yang kami sebut letusan itu, yang besar-besar saja. Jadi ada dirrect waktu, freatik dulu sebagai pembuka yang kecil-kecil, baru magmatik yang campuran antara freatik sama magmatik. Baru utamanya magmatis,” terangnya.
Sementara terkait dengan pengalaman letusan Gunung Agung pada 1963, dimana ketika itu memiliki kandungan hingga 6,5 juta ton solfatara, dijelaskan Gede Suantika, jika pihaknya memang sudah sempat melakukan pengukuran kandungan SO2(sulfur dioksida), hasilnya menurutnya masih nol. Artinya kandungan gas sulfurnya masih nol.
“Kami sudah ukur selama tiga hari oleh tim. Sepanjang arah utara dan selatan, tapi hasilnya masih nol. Cara mengukurnya, tim memakai spectrometer,” terangnya.
Caranya ketika rata-rata uap yang keluar dari kawah Gunung Agung mengarah ke barat, maka timnya pun akan memotong di arah barat gunung, yakni dari arah selatan ke utara. “Lalu pengukuran dilakukan ke atas. Sehingga ketika uap itu lewat, akan didapatkan hasil pengukurannya. Tapi seperti yang saya bilang tadi, hasilnya masih nol,” paparnya.
Sementara itu sesuai data yang dia beber kemarin, untuk tingkat kegempaan sendiri sampai kemarin masih tinggi. Seperti gempa vulkanik dalam yang ada di angka 500 sampai 600 kali sehari. Lalu gempa vulkanik dangkal ada pada angka 300 sampai 450 kali sehari. Terakhir untuk gempa tektonik lokal dalam sehari tercatat antara 60 hingga 70 kali.
“Karena itu Gunung Agung masih tetap Awas. Dan saya tegaskan, yang keluar pada Sabtu malam itu hanya uap, dan belum ada keluar material pasir atau apa. Karena warnanya masih putih,” pungkasniya.
Editor : I Putu Suyatra