Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mau Dibawa Pulang ke Karangasem, Seekor Godel Pengungsi Mati

I Putu Suyatra • Jumat, 17 November 2017 | 17:41 WIB
Mau Dibawa Pulang ke Karangasem, Seekor Godel Pengungsi Mati
Mau Dibawa Pulang ke Karangasem, Seekor Godel Pengungsi Mati

BALI EXPRESS, TABANAN – Kebahagiaan Ni Nyoman Sudiasih, 43, untuk bisa pulang ke kampung halamannya di Banjar Uma, Desa/Kecamatan Selat,  Karangasem seketika berubah menjadi kesedihan. Pemicunya lantaran seekor godel (anak sapi) yang juga ikut pulang ke Karangasem mati. Setelah terinjak-injak dalam perjalanan dari Pupuan hingga Kota Tabanan, Kamis (16/11) kemarin.


Sudiasih pun menangis saat hendak berangkat dari Kota Tabanan menuju Karangasem. Lantaran kasihan dan merasa kehilangan godel-nya. Wanita itu bersama 13 orang kerabatnya sudah mengungsi di Posko Pengungsian Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, sejak hampir dua bulan lalu.


Bahkan Hari Raya Galungan mereka lalui di pengungsian. Dan kini dengan bantuan transportasi dari Peradah Tabanan, KMHDI Tabanan dan Komunitas Satu Jiwa, mereka bisa pulang ke kampung halamannya.  Bersama 14 orang pengungsi ini, mereka juga membawa serta 11 ekor sapi untuk kembali ke kampung halamannya.


Hanya saja berangkat dari Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, rombongan pengungsi yang menggunakan satu unit bus mini, dan satu unit truk untuk mengangkut 11 ekor sapi, tidak langsung ke Karangasem. Mereka terlebih dahulu transit di Taman Makam Pahlawan (TMP) Pancaka Tirta.


Sayangnya saat tiba di TMP Pancaka Tirta, s ekor anak sapi jantan milik Sudiasih mati lemas akibat terinjak sapi lainnya. Sehingga membuat tangis dari ibu ini pecah. “Saya hanya punya sapi dua ekor, induknya satu dan anaknya satu ekor, tapi sekarang ternyata mati,” ujarnya sembari mengusap air mata.


Padahal, sambung Sudiasih anak sapi yang diprediksi harganya mencapai Rp 6 juta tersebut akan dipelihara sampai besar. Karena sapi jantan ketika besar harganya akan lebih mahal. “Nanti sampai rumah akan saya kubur,” imbuhnya.


Sementara itu, Ni Nyoman Suriati, yang merupakan saudara Sudiasih mengaku senang ia dan keluarganya bisa kembali ke kampung halamannya. Yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Gunung Agung. “Ya kami bersyukur bisa pulang dengan difasilitasi kendaraan seperti ini,” ujarnya.


Suriati yang merupakan tenaga pengabdi di salah satu TK di kampung halamannya itu mengataka, keputusannya untuk pulang kampung karena mengetahui aktifitas di Karangasem sudah berangsur pulih. “Informasinya kanto-kantor sudah mulai buka. Sekolah-sekolah juga sudah mulai buka. Jadinya kami ingin pulang semoga kondisinya aman terus,” harapnya. 

Editor : I Putu Suyatra