BALI EXPRESS, DENPASAR - Mengolaborasikan sebuah gerakan tari dengan musik memang memerlukan proses, waktu dan nampaknya susah-susah gampang. Seperti pementasan dari Sanggar Palawara Music Company berhasil menghipnotis penonton. Pementasan yang bertajuk Rhtme of Tantri tersebut selain perpaduan tarian dan seni musik juga wahana penuangan ide para penggarapnya.
Konseptor sekaligus pemain teater, Wayan Ari Wijaya saat diwawancarai di Ksirarnawa, Art Center, Denpasar Sabtu lalu (2/6) mengungkapkan sebagai seniman sudah barang tentu memproduksi karya yang baru. Terlebih ia sebagai konseptor garapan tersebut tidak mau melakukan dengan setengah-setengah, sehingga hasilnya juga tidak akan menjadi setengah-setengah. "Ending saya sebagai seniman adalah selalu menghasilkan karya baru," ujar Ari Wijaya sambil memacu dirinya.
Pernyataannya juga senada dengan aksi dirinya pada malam minggu di Ksirarnawa tersebut. Terlebih sebagai konseptor dan pemain, Ari pun tak ingin setengah-setengah dalam menggarap sebuah karya seni. Pendiri Sanggar Palawara Music Company itu juga mengungkapkan, garapan yang bertajuk Rhytm of Tantri itu berawal dari keinginannya untuk mendobrak garapan musik yang dirasanya selalu monotun saja. "Konser musik saja sudah biasa saja ya, jadi musik yang perlu penghantar cerita tanpa merubah musik, itu yang saya sampaikan saat ini," tandasnya tanpa ragu.
Dalam mengolaborasikan antara musik dengan seni peran, memang menurutnya memiliki tingkat kesulitan yang susah-susah gampang. Pihaknya juga sudah memprediksikan seperti yang dipentaskan, apa lagi saat memilih dan menafsirkan ide, itulah yang menjadi permasalahan yang ia hadapi. Dalam melakukan eksperimennya, Ari pun tak ingin berlama-lama. "Eksperimen gak mau lama-lama, harus eksekusi secepatnya," tandas Ari.
Bagi Ari sendiri, dengan mempercepat eksekusi sebuah garapan seni dapat menghasilkan sebuah karya yang segar. Sedangkan Rhytm of Tantri sendiri merupakan bentuk harmonisasi dari cerita Tantri. Selama ini pihaknya hanya mengenal Tantri sebagai sebuah sesuluh hidup yang sarat akan makna. Demi mewujudkan garapan segar dan maknanya itu, Ari pun sepakat menjalin kolaborasi dengan Komunitas Teater Laboratorium Study Bali.
Pada tempat yang sama, menurut pendiri Komunitas Teater Laboratorium Study Bali I Dewa Ketut Jayendra, kolaborasi tersebut berbeda dengan teater pada umumnya. "Saya dan Ari berusaha mencari peluang untuk membuat sebuah musik drama dan saya buatkan naskahnya," terang Jayendra.
Mengambil Tantri sebagai alur garapan kolaborasi adalah langkah yang dirasa tepat bagi Jayendra. Lantaran Tantri sangat menarik dan untuk dimasa kini masih sangat relevan. Di samping itu, menggambarkan sosok penguasa yang angkuh dan keras dapat dicairkan dengan cara seorang Tantri melalui mendengarkan ceritanya. Kolaborasi yang segar tersebut tercetus secara tak sengaja saat 2 tahun lalu Jayendra menggarap teater Tragedi di atas Ranjang. Sehingga masih segar dalam ingatannya kala itu, ia membutuhkan musik dalam garapannya, sehingga Ari pun yang langsung ia kontak.
"Saat itulah Ari melihat bahwa teater itu sangan penting, ketika teater itu diilustrasikan dengan penuh rasa disitulah dia mulai tertarik," ungkap Jayendra.
Lanjutnya, melalui kacamata orang teater kesulitan selama menggarap Rhytm of Tantri adalah bagaimana agar memberikan kekuatan dan pandangan kepada aktor melalui Tantri. Mencoba untuk memperkuat pandangan aktor akan Tantri menjadi hal yang patut diperhatikan pada garapan tersebut. Ia juga mencoba menawarkan suatu hal yang baru adalah seni yang sejati, lantaran nyatanya seni memang senantiasa berbaur dengan seni lainnya.
Sedangkan kurator seni teater, A.A Sagung Mas Ruscitadewi merasa agak kaget dengan penampilan teater Tantri tersebut. Sehingga ia hanya mebambahkan agar dipoles lagi agar pementasan selanjutnya bisa lebih matang. "Agak kaget sebenarnya, sudah bagus hanya perlu dimaksimalkan lagi," imbuh Ruscitadewi.
Editor : I Putu Suyatra