BALI EXPRESS, SINGARAJA-Setelah sempat mengekplorasi Buleleng Barat, Balai Arkeologi (Balar) Denpasar kini melakukan penelitian di Buleleng Timur. Kali ini Balar meneliti 35 titik yang tersebar di 12 desa di Kecamatan Tejakula dan Kubutambahan. Hasilnya, Balar menemukan puluhan barang peninggalan sejarah yang mengindikasikan adanya permukiman, pemujaan dan pelabuhan pada masa lalu
Ketua tim peneliti Balar Denpasar, Ida Ayu Gede Megasuari Indria, menjelaskan penelitian di wilayah Buleleng Timur dilakukan sejak Senin (20/8) hingga Kamis (6/9) kemarin. Penelitian dilakukan di 12 desa di Kecamatan Kubutambahan dan Tejakula.
Diantaranya Desa Pakisan, Tajun, Kubutambahan, Bulian, Depaha, Bengkala, di Kecamatan Kubutambahan dan Desa Sembiran, Pacung, Julah, Bondalem, Les, Penuktukan dan Sambirenteng di Kecamatan Tejakula.
Hasilnya, Balar menemukan sejumlah peninggalan. Diantaranya 12 buah menhir, 11 arca perwujudan, arca ganesha 4 buah, Sarkofagus 2 buah, dolmen 1 buah, mangkuk keramik 3 buah, lingga yoni 2 buah, arca sederhana 1 buah, relief batu 2 buah, dan batu dakon 1 buah.
Ayu mengaku menemukan bukti permukiman dua situs di dekat pura Sang Bingin Bondalem dan Situs Pura Pelisan Pacung, Kecamatan Tejakula.
“Memang sangat berpotesi dengan peninggalan arkeologinya dari masa prasejarah hingga masa kolonial. Sementara penelitian ini kajiannya mengenai hubungan antara tinggalan budaya yang ada dengan kondisi alam Bali Utara,” jelasnya.
Ayu menambahkan beberapa lokasi penelitian secara geografis tergolong strategis.Terlebih lokasi tersebut pada masa lalu dimanfaatkan sebagai hunian maupun pelabuhan dan pusat-pusat perdagangan sejak awal Masehi.
Sementara itu Kepala Balar Denpasar, I Gusti Ngurah Suarbhawa, menjelaskan dari hasil penelitian timnya, itu menandakan bila peradaban jaman dahulu sudah pandai beradaptasi. Itu terbukti dari penempatan tinggalan arkelogi ditinjau dari letak kelerengannya, permukiman, ritual-ritual dan sumber daya air yang tersedia.
Menurutnya temuan ini bisa dipakai model dalam mencermati kearifan leluhur, sehingga eksploitasi alam dapat berpatokan dari temuan arkeologi yang ada. “Kalau ditinjau dari geologisnya Tejakula dna Kubutambahan memiliki karakter yang sama. Salah satunya ketersediaan sumber mata air yang jauh di bawah tanah, itu kenapa bisa terjadi, karena Bali Utara dulu sempat tertutup oleh material leturan Gunung Batur Purba, yang menutupi sebagaian wilayah Buleleng,” kata dia.
Berpijak dari penelitian itu pihaknya berencana akan melakukan penelitian lanjutan untuk memperdalam dan memperluas sasaran aspek lainnya.“Dari evaluasi kami, potensi sangat besar lanskap arkeologi ruang, yang akan sangat membantu desa dan masyarakat memahami hal disekelilingnya. Potensi Bali Utara sangat menjanjikan,” jelasnya.
Editor : I Putu Suyatra