BALI EXPRESS, TABANAN - Kegiatan Kemah Budaya Tabanan (KBT) sudah berusia sewindu (delapan tahun). Puncak kegiatan tahun berlangsung Sabtu (15/9) di Lapangan Alit Saputra, Dangin Carik, Tabanan. Yang merupakan panggung seni bagi anak-anak muda Tabanan. Dinamakan Malam Pentas Budaya.
Aktivitas berkesenian ini menjadi klimaks bagi 50 orang siswa dari sejumlah sekolah menengah atas atau SMA di Tabanan. Setelah hampir seminggu mereka digojlok di Kemah Budaya di Bumi Perkemahan Pura Srijong, Selemadeg. Dari 9 sampai 14 September 2018 lalu.
Kemah Budaya yang dikemas dalam bentuk workshop seni dan olah kreativitas tahun ini mengambil tema Menghayati Langkah Hidup. Dan seperti biasa, musisi plus budayawan Sawung Jabo dengan personil Sirkus Barok yang diasuhnya menjadi mentornya.
Malam Pentas Budaya tahun ini melibatkan banyak pihak. Di luar 50 siswa yang lolos seleksi dan ikut Kemah Budaya, partisipasi juga dilakukan sejumlah sanggar seni yang menjadi “teman” Sanggar Anak Angin pimpinan I Ketut “Boping” Suryadi sekaligus penggagas Kemah Budaya tiap tahunnya.
Selain Sirkus Barok, beberapa mentor yang dilibatkan antara lain dari penggiat bidang seni lainnya. Baik seni rupa, musik, teater, hingga musik. Ada Putu Satria, Sujana Kenyem, dan Haridwipa Gamelan Group.
Pun demikian dengan Sanggar Seni Natya Praja, Sanggar Warok, Sanggar Pancer Langit, Sanggar Brahma Diva Kencana. Serta tidak ketinggalan alumni Kemah Budaya Tabanan. Dan Lolot Band yang memungkasi Malam Pentas Budaya tahun ini.
Di tengah Malam Pentas Budaya, Boping selaku penggagas kegiatan Kemah Budaya titip pesan. Sebagai orang yang beraktivitas di bidang kesenian, di luar posisinya sebagai politisi, dia berharap event budaya dan seni semacam ini harus tetap jalan. Jangan berhenti.
“Dari delapan kali Kemah Budaya ada 50 orang anak yang ikut serta. Kalau dikalikan sudah ada 400 orang siswa yang saya gabungkan ke dalam Sanggar Anak Angin, “ tegasnya.
Harapannya agar KBT jalan terus juga dikarenakan pengakuan secara nasional terhadap kegiatan budaya ini yang telah diraih beberapa tahun lalu.
“Dan secara pribadi, saya sangat gelisah. Karena ruang panggung, peristiwa budaya, seperti ini teramat susah ditemukan anak-anak di Tabanan,” tukasnya.
Karena itu juga, di luar Kemah Budaya dengan Malam Pentas Budaya yang menjadi ujungnya, dia bersama Sanggar Anak Angin keliling kecamatan untuk menggelar pentas budaya. Dengan tujuan memberi ruang bagi anak-anak muda Tabanan yang berbakat di bidang seni dan budaya agar bisa menunjukkan potensinya.
“Saya ke pelosok-pelosok. Lihat secara langsung. Anak-anak kita sejatinya punya potensi. Ada yang SD, SMP, atau SMA. Mereka punya talenta. Tapi kesempatan mereka tidak punya. Jadi sayang kiranya kalau acara budaya dan seni seperti ini terhenti. Harus tetap lanjut,” imbuh politisi yang pernah kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Udayana ini.
Diakuinya, melangkahkan diri di seni dan budaya merupakan jalur yang terlampau panjang. Namun bukan berarti bidang ini bisa diabaikan. Apalagi dipinggirkan begitu saja.
“Kalau berpikir pragmatis. Seperti kita meminta sesuatu secara materi, tidak mungkin langsung terwujud. Tapi kalau kita menikmatinya secara terus menerus, terbiasa menikmati keindahan yang dihasilkan oleh produk seni dan budaya, disadari atau tidak, kosmis seni budaya akan mengasah nurani kita, mata batin kita, dan mata hati kita untuk menumbuhkan kepekaan. Mengetahui mana baik. Mana yang pantas dan tidak pantas. Mana yang patut diikuti dan mana yang tidak patut diikuti. Ini sudah jadi dalil seni budaya,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra