Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cerita “Pasar Payuk” dari Mural Berbahan Kopi

I Putu Suyatra • Rabu, 21 November 2018 | 17:45 WIB
Cerita “Pasar Payuk” dari Mural Berbahan Kopi
Cerita “Pasar Payuk” dari Mural Berbahan Kopi


BALI EXPRESS, DENPASAR - Mural biasanya menggunakan berbagai macam cat yang digoreskan di sebuah dinding. Namun berbeda seperti yang dilakukan oleh seorang seniman asal Gianyar, Ary Wicahyana. Dia kemarin (20/11) membuat mural menggunakan kopi bubuk di dinding Tukad Badung, Denpasar. Ary menggunakan kopi agar kesan klasik lebih kentara. Hal ini juga tak lepas dari unsur sejarah.  


 


Selain kopi, Ary mengaku hanya menggunakan cat dasar berwarna putih saja. Sedangkan di atasnya sudah bisa dibuatkan mural berbahan kopi bubuk tersebut. "Kelihatannya lebih kuno saja dan klasik, kalau menggunakan cat kan sudah biasa. Selain itu untuk memperkenalkan kopi bubuk bisa digunakan yang menghasilkan karya seni," terang Ary kepada Bali Express (Jawa Pos Group). 


 


Lelaki 39 tahun ini juga menerangkan, cat dasar yang digunakan warna putih aquaproof. Mengingat tempatnya di tepi sungai dengan kawasan terbuka, di samping itu kerap juga terkena air hujan supaya tidak cepat luntur. Membuat mural berbahan bubuk kopi itu bisa memerlukan waktu seminggu lebih agar selesai. 


 


Begitu juga dengan hasilnya, Ary menjelaskan jika dirasa bagus dia akan mengembangkannya kembali. Baik di tempat itu ataupun di tempat lain. "Kalau ditanya tema, ini saya beri tema Pasar Payuk. Karena latar belakang lokasi ini sebagai melanting, yaitu di sini berupa pasar payuk zaman dulu," terang dia. 


 


Lanjut Ary, dalam proses pembuatannya memerlukan satu bungkus kopi untuk satu objek. Sedangkan dalam mural yang dibuat sesuai tema itu ia kembangkan menjadi sejarah pasar payuk, sehingga dikatakan memerlukan puluhan sampai ratusan bungkus kopi bubuk agar dapat menyelesaikan mural tersebut. Meski demikian, ia mengaku tidak khawatir karena pembuatannya disponsori oleh toko kopi Bhineka Jaya. 


 


Selain Ary, ia dibantu oleh satu orang rekannya dalam proses pembuatan mural tersebut. Sedangkan satu objek mereka melukis mural berukuran 720 x 200 centimeter. "Kita bangkitkan kreativitas anak muda, yaitu mengembangkan kota digital dengan heritage culture," ucapnya. 


 


Dia termotivasi membuat mural berbahan kopi berawal dari melihat animasi film. Yaitu sekitar lima tahun lalu, sedangkan sekarang kopi dikatakan sedang hits menyebarkan kopi dianggapnya sebagai kesempatan. Bahwa kopi lokal yang ada merupakan kekayaan sangat luar biasa jika dikolaborasikan dengan sebuah seni.

Editor : I Putu Suyatra
#seni #denpasar