BALI EXPRESS, DENPASAR - Lingkungan rumah Made Oktara Dwi Palguna alias Ade, 30, yang longsor dan merenggut nyawa istri dan tiga anaknya itu, disebut angker. Hal itu diungkapkan oleh salah satu kakek Ade, Nyoman Sumiarna saat ditemui di RS Sanglah, Sabtu (8/12). Sebab, di belakang rumah Ade yang terletak di Jalan Pratu Made Rambug Gang Taman Beji 4 Banjar Sasih Desa Batubulan, Gianyar, itu ada Pura Beji yang cukup dikeramatkan.
Karena tahu kondisi itulah, Sumiarna berkali-kali mengingatkan Ade agar menjual rumahnya dan pindah dari TKP. Pasalnya, selain alasan kepercayaan dimana secara hitungan Hindu tidak boleh tinggal di TKP, di sebelah rumah Ade ini pun ada tempat yang dianggap warga sekitar angker.
"Sudah saya peringatkan agar dijual saja rumah itu. Tapi cucu saya ini masih bingung, kalau dijual kan harus dikosongkan dulu. Mau tinggal dimana dulu ini belum tahu," ungkapnya.
Sementara di belakang TKP disebut ada sebuah Pura namanya Pura Beji. Pura itu sangat dikeramatkan oleh warga sekitar. Sempat Sumiarna membujuk cucunya agar pindah dengan mengatakan segeralah pindah. “Aatau nanti kamu dicari Kuntilanak yang di sungai itu,” kata Sumiarna mengenang peringatannya kepada sang cucu.
"Hanya untuk nakut-nakutin saja, supaya cepat dijual rumah itu," tegasnya.
Paslanya bukan isapan jempol semata, sejak 18 tahun lalu tinggal di sekitar lokasi Sumiarna pun pernah digodain penghuni tempat angker tersebut pada pukul 03.00 malam. Rupanya tak hanya dirinya juga tetangga lain pernah mengalami hal yang sama. Oleh karena itu dirinya getol menyuruh cucunya pindah.
"Percaya nggak percaya sih. Dulu ada tetangga pulang lewat tengah malam di situ dah. Melihat banyak anak kecil main-main di pinggir jalan tanpa pakai baju. Nah itu kan tuyul. Kalau saya kan dimintai bonceng saat itu. Bulu kuduk sudah berdiri. Mulut sudah monyong mau bersiul. Tapi ndak keluar bunyi. Mau noleh takut. Karena rasanya berat sekali," jelasnya.
Seperti diketahiui, peristiwa Sabtu pagi (8/12) itu menewaskan empat orang korban. Sementara I Made Oktara Dwi Palguna, 30, sebagai kepala keluarga masih mendapat perawatan di RS Sanglah. Korban terakhir yang tiba di RS Sanglah adalah, jasad Made Dian Aditya Palguna, 4. Dia adalah anak kedua dari Made Oaktara Dwi Palguna. Jasad Aditya di RS Sanglah sekitar pukul 14.04.
Sebelumnya, petugas lebih dulu berhasil mengevakuasi Ni Made Lintang Ayu Widnerti, 33 (ibu), Ni Putu Delta Larasati Palguna, 6 (anak pertama) dan Nyoman Adi Anggara Palguna, 2 (anak ketiga). Sedangkan I Made Oktara Dwi Palguna, alias Ade 30 (ayah) masih dalam perawatan di RS Sanglah. Para korban ini tertimbun rumahnya sendiri yang longsor ke sungai.
Sumiarna pun mengaku sangat sedih mengingat pagi nahas tersebut cicitnya, Putu Delta Larasati Palguna, 6, sudah berseragam dan siap berangkat sekolah di SD Saraswati. Sementara Made Dian Aditya Palguna dikenal sebagai sosok anak yang lucu dan supel.
"Sebelum kejadian Ade ini kan sempat nengokin kakeknya di Renon yang habis operasi otak. Kalau saya kan adik kakeknya Ade. Bapaknya Ade namanya Komang Rudi. Itu keponakan saya. Jadi saya juga kakeknya," ungkapnya.
Pihak keluarga terutama Komang Rudi yang saat ini dalam kondiai sakit, sudah memberikan amanah kepada Sumiarna untuk mengurup jenazah keluarganya. Rencananya jenazah akan diaben di Yayasan Pasek Cekomaria atau dibawa ke daerah asalnya di Singaraja. Saat ditemui koran ini pihaknya masih menunggu ibu kandung Ade bernama Hartini yang ada di Lombok.
Editor : I Putu Suyatra