Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gong Luang dan Kisah Pemancing yang Malang

I Putu Suyatra • Rabu, 27 Maret 2019 | 21:30 WIB
Gong Luang dan Kisah Pemancing yang Malang
Gong Luang dan Kisah Pemancing yang Malang


BALI EXPRESS, TABANAN - Di Desa Kesiut, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, ada gong khusus yang  hanya dimainkan untuk mengiringi Upacara Dewa Yadnya. Perangkat gambelan yang dinamai Gong Luang ini memang unik.


Pada umumnya gambelan yang dimiliki di Desa Pakraman di Bali, bisa digunakan untuk mengiringi upacara Panca Yadnya, mulai dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Namun, berbeda dengan seperangkat gambelan di Banjar Kesiut Kawan, Desa Kesiut, Kecamatan Kerambitan yang dinamai Gong Luang, yang hanya boleh digunakan saat upacara Dewa Yadnya.


Gong  Luang salah satu peninggalan zaman purbakala dan sangat langka. Bahkan, di Tabanan  hanya ada dua, yakni di Banjar Wani, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, yang disebut Gong Dewa, dan satunya lagi di Banjar Kesiut Kawan.



Tidak ada yang tahu pasti kapan dan siapa yang pertama kali menemukan Gong Luang ini. Karena tidak ada purana atau babad yang  menuliskannya. Sejauh ini masyarakat Desa Kesiut mendengarkan ceritanya secara turun temurun, lantaran tidak ada babad atau pun peninggalan secara tertulis yang memaparkan perihal keberadaan Gong Luang. Menurut Mekel (Kelian) Gong Luang, I Made Mudiasa, berdasarkan cerita leluhur terdahulu, Gong Luang  ditemukan Kiyang Gendrik. Kala  itu Kiyang Gendrik tidak kunjung mendapatkan ikan saat  memancing. Kiyang Gendrik kemudian menyusuri tepi sungai di dekat Desa Kesiut, dan tanpa diduga ia
menemukan seperangkat gambelan seperti terompong, riyong, gong, kempur, dan gangsa jongkok. Alat gambelan tersebut kemudian ia bawa pulang ke rumahnya. 



Peristiwa unik pun terjadi. Ternyata gambelan yang ditaruh di rumahnya berbunyi sendiri ketika tengah malam, tanpa ada orang yang memainkan. Kejadian aneh tersebut justru membuat keluarganya gundah. Bahkan sejak peristiwa aneh itu, keluarga Kiyang Gendrik terus mengalami kesialan dan kesakitan. Menghadapi masalah tersebut, Kiyang Gendrik akhirnya menggelar musyawarah bersama warga Desa Kesiut. Berdasarkan hasil  pertemuan, diputuskan  gambelan tersebut ditempatkan di Pura Pemaksan Kesiut. “Sejak saat itu keluarga Kiyang Gendrik pun tidak lagi ditimpa kesialan dan kesakitan,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin di Tabanan. 



Seiring berjalannya waktu, tersiar kabar bahwa seperangkat gambelan tersebut adalah milik Pura Batukaru yang hilang, terlebih ada warga Batukaru yang menanyakan perihal keberadaan seperangkat gambelan itu. Mendengar informasi tersebut, Kiyang Gendrik bersama warga sepakat untuk mengembalikan gambelan tersebut. Namun, setelah disimpan di Pura Batukaru, gambelan tersebut malah kembali menghilang dan lagi ditemukan di Sungai Campuan di dekat Desa Kesiut. 



“Bahkan, peristiwa hilangnya gambelan  itu berlangsung sampai tiga kali, sehingga warga Batukaru akhirnya memutuskan untuk mengembalikan gambelan tersebut ke Desa Kesiut, dengan catatan ketika Pujawali di Pura Batukaru, Sekaa Gong Luang harus ngaturang ayah ke Pura Batukaru. Dan itu berlangsung hingga saat ini, bahkan jika Gong Luang belum ada di Pura Batukaru, pujawali belum bisa dimulai,” paparnya.



Gong Luang selama ini hanya dimainkan untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya. Bahkan, saat Piodalan di Pura Desa, gong ini harus dimainkan di Utama Mandala, berbeda dengan gong pada umumnya yang tempatnya di Jaba Pura atau Madya Mandala. “Gending-gending yang dimainkan pun sesuai dengan jalannya upacara. Misalnya upacara Prayascita gendingnya Pangundang Taksu, upacara Patirtaan gendingnya Salulung. Total ada sekitar 11 gending yang bisa dimainkan,” imbuh Mudiasa.



Gong Luang terdiri atas sejumlah instrumen, mulai dari dua buah kendang, dua cedugan lanang-wadon, terompong, riyong, gong, kempur, bebende, kempli, tawa-tawa, gangsa jongkok besar dan kecil, serta 6 cakep cengceng. Sebelum dimainkan, Gong Luang terlebih dahulu diawali dengan upacara yang bertujuan untuk mensucikan peralatan gambelan yang berlaras selendro tujuh nada dan dua nada pemero tersebut. 



Meskipun milik Adat, Desa Adat memberikan kewenangan kepada sekaa untuk mengelola Gong Luang. Kesakralan Gong Luang sendiri pernah dibuktikan oleh masyarakat Desa Kesiut, dimana salah satu instrumen gambelan  Bende yang hilang. "Seiring berjalannya waktu, warga yang dicurigai mencuri instrumen tersebut juga ikut mengilang tanpa jejak. “Padahal, bende itu waktu dulu menjadi pertanda, dimana akan berbunyi sendiri ketika ada musibah atau bencana yang akan datang,” pungkasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu #tradisi unik #tabanan