BALI EXPRESS, TABANAN - Pura Manik Geni di Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, salah satu pura yang banyak menyimpan peninggalan arkeologi. Beberapa benda peninggalan arkeologi yang tersimpan, mulai dari kulkul (kentongan), guci, bajra, dan keris.
Pura Manik Geni yang piodalannya jatuh setiap Tumpek Landep tersebut, konon katanya dahulu kala merupakan sebuah pasraman. Menurut sejarah, keberadaan Pura Manik Geni berawal dari masa pemerintahan Ida Sri Jayapangus pada abad ke-12 yang memiliki seorang sulinggih yang ngawana prasta ( mengasingkan diri ke hutan) di lereng Gunung Batukaru.
Ida Sri Jayapangus kemudian bermaksud mengembangkan daerah kekuasaannya di bagian barat Pulau Bali, sehingga diutuslah kedua orang patihnya yang bernama I Pasek Kayu Selem dan I Pasek Karandan atau I Pasek Auman beserta dengan para Brahmana dan pengikutnya, untuk menjelajah sebuah daerah di barat Gunung Batubaru.
Selanjutnya, Brahmana yang bernama Mpu Temuuh bersama para patih pun membuka hutan, kemudian mendirikan sebuah pasraman dalam usahanya memperluas wilayah. Namun, lama kelamaan, pasraman yang bertujuan untuk mendekatkan diri pada Tuhan itu pun berkembang menjadi tempat tinggal. Setelah sekian lama Mpu Temuuh tinggal di pasraman tersebut, akhirnya diberi gelar Ida Dukuh Sakti yang sampai saat ini disungsung di Pura Manik Geni. Dan, daerah sebelah barat Gunung Batukaru pun terus berkembang menjadi pemukiman bernama Pujung Sari, yang kini lebih dikenal dengan Desa Pujungan.
“Mpu Temuuh atau Ida Dukuh Sakti ini berhasil mengembangkan pasraman di Pujungan, sehingga untuk mengenang jasanya didirikanlah Pura Manik Geni,” tegas Pangempon sekaligus Sentana Panglingsir Pura Manik Geni, I Nyoman Yudhana kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Pujungan, kemarin. Adanya pasraman di Pura Manik Geni tersebut dibuktikan dengan ditemukannya beberapa benda peninggalan arkeologi berupa kulkul yang terbuat dari perunggu, bajra atau genta, sangku dan guci Cina serta keris. Kulkul yang terbuat dari perunggu, lanjut Nyoman Yudhana, dulunya ditemukan tidak sengaja di sebidang tanah tegalan (kebun) yang sedang dikerjakan untuk dijadikan sawah. Saat digali, tiba-tiba ada kulkul perunggu tersebut.
Pada kulkul perunggu setinggi 50 cm tersebut juga terdapat tulisan berbentuk huruf yang besar-besar dan persegi empat. Ditafsirkan huruf tersebut bertuliskan J.G. de Cosparis, yang diartikan bahwa benda tersebut pemberian dari seseorang bersuku Sasak.
Sementara itu, guci diperkirakan berasal dari Cina. guci Cina itu diletakkan di depan sebuah palinggih Bebaturan Ida Dukuh Sakti. Ia menuturkan, konon katanya guci Cina tersebut ditemukan di dekat Pura Manik Geni oleh warga desa yang sedang bekerja di kebun. “Diperkirakan berasal dari Cina karena ada ornamen naga, dan sekarang guci ini digunakan sebagai tempat tirta di Pura Manik Geni,” paparnya.
Tak hanya itu saja, peninggalan arkeologi lainnya adalah keris, bajra atau genta dan sangku. Keris yang ada di pura ini juga unik, yakni bergagang tanduk anjing. “Ada juga cemeti kembang kencana, yang dulu sempat dibawa oleh panglingsir, tetapi sekarang sudah dikembalikan ke Pura Manik Geni,” imbuhnya.
Pura Manik Geni ini terdiri dari Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala. Hanya saja, antara jaba tengah dengan jeroan tidak ada sekat, hanya dibatasi dengan posisi jeroan yang lebih tinggi. Pada bagian Nista Mandala terdapat beberapa bangunan mulai dari Puwaregan dan Gapura atau Candi Kurung. Kemudian pada Utama Mandala terdapat sejumlah palinggih, mulai dari Palinggih Sanggar Agung, Bebaturan Palinggih Ida Dukuh Sakti Pura Manik Geni, Pasimpangan Puseh, Pasimpangan Dalem, Pasimpangan Umeti Kumangcana, Pasimpangan Gunung Tengah, Pasimpangan Ida Ayu Mas Bulan, Pasimpangan Pucak Kedaton, Palinggih Ratu Nyoman, Bale Semedi, Bale Piasan, Bale Pasanekan, Bale Gong, dan Bale Kulkul.