BALI EXPRESS, DENPASAR - Jauhnya jarak antara naskah yang tersedia dan kapasitas seseorang untuk membaca menjadi salah satu indikator asingnya naskah lontar dari kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, naskah lontar kerap dipandang sebelah mata keberadaannya.
Bagi masyarakat yang memiliki naskah lontar, namun pengetahuan dan kemampuan untuk merawat tidak memadai, bisa menitipkan di lembaga yang mampu mengurusnya. Salah satu lembaga yang menjadi tempat penitipan naskah lontar adalah Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana.
Menurut salah satu dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Drs. I Wayan Sukersa, M. Hum., jumlah koleksi yang ada mencapai 939 judul yang terbagi atas 29 naskah, milik masyarakat (perorangan) dan sebagian besar milik lembaga.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin, Wayan Sukersa menyampaikan bahwa jumlah koleksi naskah lontar yang sangat banyak itu, meliputi berbagai bidang kehidupan, seperti tentang pengobatan tradisional Bali atau usada. Ada berbagai macam usada, misalnya Usada Cetik, Usada Netra, Usada Manak, Usada Kurantabolong, Usada Yeh. Selain itu, juga terdapat Usada Sasahbebai, Usada Kamatus, Usada Kuda, dan Usada Taru Pramana. "Salah satu naskah usada yang popular serta masih digunakan sebagai acuan dalam sumber-sumber bahan obatan tradisional ialah Usada Taru Pramana," papar Wayan Sukersa.
Dijelaskannya, Usada Taru Pramana versi Mpu Kuturan dianggap memiliki cerita yang lengkap dan runut.
Usada Taru Pramana versi Mpu Kuturan juga dapat dikatakan sebagai Sastra Usada karena ada tokoh pelaku dan memiliki unsur naratif. Dalam sastra Usada Tari Pramana, lanjutnya, menceritakan bahwa zaman dahulu ada seorang dukun yang bernama Prabu Mpu Kuturan. Ia mengobati dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Namun, ada suatu masa ia mencapai masa suramnya. Orang-orang yang diobati tidak kunjung membaik, bahkan hingga meninggal dunia. Pada akhirnya ia mengambil keputusan untuk bertapa di sebuah kuburan. Akhirnya turunlah Bhatari dari kahyangan dan memberikannya anugerah setelah satu bulan tujuh hari bertapa. Akhirnya Mpu Kuturan memiliki kemampuan, yakni kemampuan untuk memanggil dan menanyai pepohonan untuk dijadikan bahan obat-obatan.
“Tiap pohon memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit. Beranekaragam penyakit dapat diobati dengan ramuan tumbuhan. Dari Sastra Usada tersebut, Mpu Kuturan mendapatkan banyak keterangan mengenai tumbuhan bermanfaat dan kemudian semua pengetahuan yang ia dapat tersebut dicatat oleh putra Mpu Kuturan yang bernama Prabu Narayasa,” jelas dosen kelahiran Tabanan, tahun 1955 tersebut.
Sukersa juga menjelaskan bahwa naskah-naskah Usada Taru Pramana merupakan suatu bukti peninggalan kebudayaan yang memiliki kedudukan yang cukup penting dan juga berharga. “Usada Taru Pramana ini juga dapat menjadi inspirasi untuk temuan-temuan baru bagi perkembangan dunia kesehatan dan farmakologi. Selain itu, juga dapat mengembangkan pelestarian lingkungan, terutama tentang tumbuh-tumbuhan,” jelasnya.
Penyakit yang berasal dari kausa niskala atau personalistik, tambah Sukersa, masyarakat meyakini bahwa hanya orang yang memiliki kekuatan magis tinggi yang mampu mengusir kausa ini. Orang yang mengobati ini disebut dengan balian, jro dasaran atau tapakan. Balian dalam naskah Usada Taru Pramana difungsikan sebagai salah satu sumber utama dalam mempelajari dan meramu obat-obatan yang bahan utamanya berasal dari tumbuh-tumbuhan. Bahan itu juga dicampur dari bahan lainnya. Misalnya, mencampurkan dengan unsur mineral, garam dapur, air, kapur, batu apung, beleran. Selain itu, hati binatang, limpa, empedu, lemak, tulang sering juga dijadikan bahan campuran dalam obat-obatan tersebut. Dikatakan dosen studi Sastra Jawa Kuno tersebut, bentuk dari obat obatan tersebut juga bermacam-macam. Dalam sebutan Bali seperti loloh, boreh, tutuh, simbuh, apun, dan lain sebagainya.
“Ada ratusan jenis tumbuhan diungkapkan dalam naskah Usada Taru Pramana. Tumbuhan ini untuk mengobati berbagai penyakit. Nah, agar kita tahu kegunaan dan fungsinya, kita juga harus tahu sifat dan kandungannya," ujarnya.
Dalam naskah ini, lanjutnya, disebutkan ada tiga sifat pokok. "Ada tis (sejuk), dumalada (sedang-sedang), dan anget (panas). Sifat itu juga bisa kita lihat dari warna getah dan bunganya,” jelasnya.
Untuk tumbuhan yang bunganya berwarna putih, kuning, hijau memiliki sifat hangat. Sementara itu, tanaman berbunga merah dan biru bersifat sejuk, dan berbunga warna-warni bersifat sedang-sedang. Dalam Usada Taru Pramana terdapat inventarisasi ratusan nama tumbuhan khas Bali. Ditekankan Sukersa, dengan mengetahui khasiat melalui Usada Taru Pramana, penting untuk melestarikan kembali dengan melakukan penanaman dan pemeliharaan. Tujuannya agar masyarakat luas yang ingin memanfaatkannya akan dapat memperolehnya lebih mudah.
“Ada ratusan nama-nama tumbuhan dalam Usada Taru Pramana. Ada yang masih mudah dicari hingga yang asing pada zaman sekarang. Misalnya, base atau sirih yang berkhasiat obat sakit tidak enak badan (limuh), blimbing manis bisa digunakan urap untuk orang hamil. Cemara berguna untuk obat tetes mata orang kena guna-guna asmara. Cermai obat luka pada jari-jari. Carangcang kawat atau Asparagus kompres obat koreng dan borok, luka pada kemaluan,” terangnya.
Ada 130 nama tumbuhan Bali yang ada dalam Usada Taru Pramana. Getah pepaya juga bisa untuk mengobati gigitan kelabang. Gadung Kasturi untuk obat asma. Dapdap jamu obat perut kembung. Jarak pagar sembur obat tuli. Jepun obat sakit pinggang. Juwet obat luka pada kemaluan. Telasih obat sakit disentri. Kecubung obat kena guna-guna. Kelor obat tetes sakit mata. Nanas jamu untuk obat kencing nanah. Manggis obat tilas naga. Kembang sepatu untuk pelancar bersalin. Teleng sembur obat sakit kejang, terong duri param untuk obat terasa letih, dan masih banyak lainnya.
Namun diakuinya, masih ada perdebatan tentang kemampuan obat tradisional hingga sekarang. “Lebih bijak jika setuju atau tidak setuju pemakaian obat tradisional tidak dipertentangkan. Karena yang lebih penting melihat kemungkinan obat tradisional dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” tutupnya. (akd)