Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Macacar Warnai Upacara Ngerebong di Pura Agung Petilan Kesiman

Nyoman Suarna • Senin, 12 Agustus 2019 | 06:02 WIB
Tradisi Macacar Warnai Upacara Ngerebong di Pura Agung Petilan Kesiman
Tradisi Macacar Warnai Upacara Ngerebong di Pura Agung Petilan Kesiman


BALI  EXPRESS, DENPASAR – Upacara Ngerebong di Pura Agung Petilan Kesiman, Denpasar Timur adalah salah satu upacara unik di Bali. Upacara ini diisi tradisi kerauhan atau trance dan ngurek.


Pada Minggu (11/8), krama Desa Adat Kesiman melaksanakan upacara ngerebong di Pura Agung Petilan, Kesiman, Denpasar Timur. Upacara tidak hanya diikuti oleh warga kesiman dan sekitarnya, tetapi juga dari Nusa Dua, Badung.


I Gusti Ngurah Gede, S.H., tokoh masyarakat dari Puri Ageng Kesiman menjelaskan, Desa Kesiman memiliki tradisi ngerebong yang berlangsung setiap enam bulan sekali. “Prosesnya berawal dari hari raya Galungan, Kuningan, dan pada hari Minggu berupa upacara ngerebong. Inilah yang dinanti-nanti oleh masyarakat,” jelasnya.


Berkaitan dengan upacara ngerebong tersebut, Ngurah Gede menambahkan, sesuai dengan warisan leluhur, Puri Ageng Kesiman mempunyai warisan tradisi di Puri. “Kalau zaman dulu, ketika masih adanya perbedaan tinggi antara Puri dengan kalangan petani, di Puri ada istilah Mecacar setiap Ngerebongan kepada siapa yang datang ke Puri,” jelasnya.


Makna dari Macacar, menurut Ngurah Gede, merupakan upaya menyambung rasa kedekatan batin antara masyarakat dan Puri Ageng Pemayun Kesiman. “Kalau melihat peradaban zaman seperti sekarang, ekonomi kita sudah hampir sama. Bagaimana tetap memelihara kedekatan hati ini antara masyarakat dengan Puri. Maka dibuatlah simakrama dalam bentuk open house. Kalau Tyang berproses dari tahun 2003 dikemas seperti ini,” jelas Ngurah Gede.


Sebelum sistem simakrama berproses seperti sekarang, proses Macacar dilaksanakan dengan membagikan uang kepada anak-anak, masyarakat. “Ini semua bertujuan untuk menyambung kedekatan hati,” jelasnya.


Melalui acara ini, Ngurah Gede berharap agar ke depan suasana kekeluargaan yang seperti telah berlangsung selama ini semakin bisa ditingkatkan. “Inilah salah satu bahan pemersatu kita. Di sinilah kita mengeluarkan suatu program dari pemerintah. Secara tidak langsung, kita bisa menyosialisasikan kepada masyarakat,” jelasnya.


Terkait Pura Pengerebongan yang masuk ke dalam cagar budaya, Ngurah Gede menyampaikan bahwa itu merupakan suatu warisan yang dimiliki Kesiman yang tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. “Dari tahun 1937, sudah diwarisi dan kita pelihara. Ini kan warisan budaya yang harus dilestarikan. Tyang (saya) mengapresiasi pemerintah sekarang yang sudah memperhatikan budaya terutama peradaban kita di Bali. Bali basic­-nya budaya, sehingga pariwisata datang ke Bali. Tidak ada budaya, wisatawan tidak mungkin datang ke Bali,” terangnya.


Ia menambahkan bahwa desa adat yang terdiri dari 32 banjar yang ada di Kesiman langsung membina anak muda sebagai estafet tradisi. “Membuat penjor yang betul-betul mewah merupakan  suatu bentuk meningkatnya kreativitas anak-anak muda. Ini disambut baik oleh kalangan muda. Masing-masing anak muda yang ada di banjar membuat penjor. Saya optimis dan yakin, semakin ke depan perhatian anak muda dengan rentetan tradisi ini semakin meningkat. Untuk ke depan akan selalu ada penyempurnaan,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#adat #hindu #denpasar #kerauhan