BALI EXPRESS, TERUNYAN - Keinginan kuat menempuh pendidikan membuat I Gede Agus Wardika, siswa kelas IV SD Negeri 1 Terunyan, Kintamani tak kenal lelah. Meskipun untuk menjangkau sekolah di pusat desa tersebut, ia harus melintasi Danau Batur, Wardika biasa naik perahu dayung seorang diri.
Hari beranjak siang saat wartawan tiba di SD Negeri 1 Terunyan, Rabu (4/9). Tak jauh dari sekolah tersebut, persisnya di tepi danau, parkir sebuah perahu dayung berukuran kecil. Perahu yang bagian luarnya berwarna orange itu milik Wardika.
Secara administrasi, orang tua Wardika tercatat sebagai warga Dusun Terunyan, Desa Terunyan, tetapi keluarga ini tinggal di Pondokan Waru. Mereka harus melintasi Danau Batur untuk menuju ke pemukiman tersebut.
Wardika dan adiknya Kadek Ervan Sugianto adalah yang merasakan dampak tidak adanya akses darat tersebut. Setiap hari mereka naik perahu dayung ke sekolah. Ervan yang baru kelas I diantar jemput bapaknya, Putu Wardana. Sedangkan Wardika sudah terbiasa naik perahu sendiri. Itu sudah dilakukan sejak kelas II.
Wardika belum bisa mengajak adiknya numpang karena perahunya cukup untuk sendiri. Berbahaya jika ditumpangi. Selain itu dia juga belum kuat mendayung. Maklum, butuh waktu sekitar 30 menit melintasi Danau Batur.
Wardika harus kuat mendayung sendiri karena orang tuanya tidak bisa antar jemput. Mereka sibuk bekerja sebagai petani. Dengan kondisi seperti itu, Wardika harus tetap fit. Ia juga harus bangun tidur lebih awal agar tak telat sekolah. “Biasanya berangkat pukul 07.00 pagi,” ujar Wardika malu-malu ditemui di sekolahnya.
Meskipun masih kecil sudah mengendalikan perahu sendiri, Wardika mengaku tak banyak kendala dalam melintasi danau. Ia hanya khawatir terjadi gelombang besar akibat angin kencang. Sehingga sebelum berangkat sekolah, orang tuanya memastikan bahwa cuaca di danau bersahabat. “Kalau gelombang besar, saya diantar bapak ke sekolah. Kalau hujan, bisa tidak sekolah,” tutur Wardika.
Kepala SD Negeri 1 Terunyan I Wayan Siyem mengatakan, Wardika termasuk rajin ke sekolah. Tidak selalu hujan membuatnya absen. Dari sisi akademis termasuk menonjol. Naik ke kelas II, Wardika dapat ranking tiga. Dia ranking pertama saat naik ke kelas IV. “Walaupun ke sekolah cukup melelahkan, ternyata dia berprestasi,” tegas Siyem.
Terkait jarak tempuh siswa ke sekolah itu secara umum, Siyem yang menjabat kepala sekolah sejak 2011 itu menegaskan, selain Wardika dan adiknya yang berangkat ke sekolah naik perahu dayung, ada juga siswanya harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit. Jalan kaki melintasi bukit. Mereka adalah siswa dari Dusun Madya, Desa Terunyan. Jarak tempuh yang terbilang jauh tidak menjadi alasan siswa menjadi malas. “Saat hujan, kami juga maklum mereka tidak sekolah atau datang terlambat,” ujar Siyem.
Editor : I Putu Suyatra