Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pedawa Gelar Upacara Saba Malunin, Pentaskan Belasan Tarian Sakral

Nyoman Suarna • Selasa, 15 Oktober 2019 | 05:21 WIB
Pedawa Gelar Upacara Saba Malunin, Pentaskan Belasan Tarian Sakral
Pedawa Gelar Upacara Saba Malunin, Pentaskan Belasan Tarian Sakral


SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suasana tak biasa terlihat di Pura Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng Senin (14/10) siang. Ratusan krama, prajuru adat tumpah ruah memadati areal pura desa. Mereka berkumpul untuk mengikuti upacara Saba Malunin, yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali atau 1.825 hari tepat pada Sasih Purnamaning Kapat.


Ratusan krama ini mulai berdatangan sejak pukul 07.30 Wita pagi. Upacara sacral ini ditandai dengan pementasan oleh lima orang pemuda daha yang ngayah dengan menarikan tarian sakral. Lima pemuda ini menarikan Tarian Baris Gede sembari memegang tongkat. Tarian ini hanya bisa dipentaskan saat Saba Malunin digelar.


Kelian Adat Desa Pedawa Wayan Sudiastika yang didampingi I Wayan Sukrata tetua Desa Pedawa menjelaskan pelaksanaan upacara Saba Malunin saat ini jatuh pada hari sasih purnama kapat. Upacara suci ini dilangsungkan selama tiga hari, terhitung Minggu (13/10) hingga Selasa (15/10) mendatang.


Dikatakan Sudiastika, sebelum upacara dimulai, krama desa terlebih dahulu melakukan sakep pungan atau rembuk adat. dalam rapat adat tersebut, krama membahas persoalan awig-awig dan lelintih desa. langkah ini sebagai upaya untuk mengingatkan krama agar tetap berpedoman dengan awig-awig dan memahami sejarah desa.


Selanjutnya, dari upacara Saba Malunin krama wajib membawa banten Balun atau banten lungguh suci. “Banten ini adalah banten tertua di Desa Pedawa. Karena meskipun orang yang masih bujang membawa banten ini tetap harus membawa tongkat. ini mencirikan bahwa, jika banten ini sangat tua di Pedawa,” jelasnya.


Jika melihat dari sisi bentuk banten ini memiliki ciri khas tersendiri. Banten ini dibuat dalam sebuah wadah klakat bambu tidak begitu besar dibungkus daun pisang lalu dikat dengan daun gula aren muda.


Isi dari banten balun tersebut nasi, sayur, gerang bankuk, lawar merah putih, daging babi, cabai bawang mentah. Ditambah lagi buah pisang setandan. Sebagai pelengkap dari banten balun juga diisi dengan gantal dan sirih yang dirangkai sesuai adat Pedawa.


Dijelaskan Sudiastika, Banten Balun yang dibawa ke pura desa saat upacara saba maluni sisi makna menunjukkan bahwa desa ini teteg. Dalam artian desa ini dalam keadaaan mapan baik spiritual maupun jasmani dan rohani.


 


Untuk itu, setiap upacara saba malunin jika persembahan-persembahan banten balun dilakukan sembarangan akan berakibat hal tidak baik bagi desa. Akibatnya bisa kematian bisa juga berdampak terhadap kemakmuran.


 Lanjutnya, masyarakat Pedawa sangat yakin bila mana persembahan suami istri dengan membawa banten balun ke pura desa sebagai persembahan wakil dirinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.


“Karena banten balu dalam artian kata “ba” badan, wakil dari suami istri. “Lu” artinya lungguh orang yang duduk dalam tata lungguh. Siapa yang duduk dilungguh orang yang sudah menikah,” tuturnya.


Sementara itu, selama pelaksanaan Saba Malunin, ada sebelas tarian yang dipentaskan. Mulai dari tari baris Gede, Baris Bulan Kepangan, tari mepetokan, tari nabuin, tari meblawangan, tari abuang-abuangan, tari rejang akilukan, tarian kebak-kebayan, tari gayung, tari puser gantung, tari langkarang dan tarian lainnya.


 “Termasuk tabuh-tabuhannya juga ada. Nah kalau tari sakral ini dipentaskan dalam waktu saba. Tidak boleh ditampilkan selain waktu itu. Karena waktu saba membawa tatanan dan nilai spiritual dan religious,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#upacara #pura desa pedawa #hindu #singaraja