GIANYAR, BALI EXPRESS - Bahasa Bali merupakan bahasa ibu masyarakat Bali yang perlu dilestarikan. Hal tersebut juga dicirikan dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang perlindungan dan penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, serta penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Demikian dikatakan Camat Blahbatuh Ida Bagus Dharma Yuda saat memberi sambutan pada acara pembukaan Bulan Bahasa Bali 2020 Kecamatan Blahbatuh di Wantilan Pura Puseh Blahbatuh, Rabu (12/2).
Ida Bagus Dharma Yuda menuturkan, pergub tersebut merupakan suatu bentuk perhatian pemerintah Provinsi Bali terhadap keberadaan bahasa, aksara (tulisan) dan sastra Bali. Sebagai bentuk dukungan kepada Pemprov Bali, pemerintah Kecamatan Blahbatuh juga melaksanakan Bulan Bahasa Bali dengan mengadakan Lomba Membaca Aksara Bali, Lomba Berpidato Bahasa Bali, dan Lomba Masatwa Bali.
Peserta lomba di Kecamatan Blahbatuh merupakan orang-orang yang sudah meraih juara pada tingkat desa yang diselenggarakan mulai 2-10 Februari lalu. “Peserta kali ini adalah mereka yang sudah mendapat juara di desa, dan kini mewakili desanya di tingkat kecamatan. Serta juara di tingkat kecamatan, akan dikirim untuk mewakili Kecamatan Blahbatuh di tingkat kabupaten, dan juara di kabupaten akan mewakili kabupaten di tingkat Provinsi Bali,” jelas Ida Bagus Dharma Yuda.
Dia pun berharap, untuk Bulan Bahasa Bali di Kecamatan Blabatuh dapat dilaksanakan setiap tahunnya. Selain itu, pelaksanaannya agar dapat ditingkatkan kembali.
Mewakili bupati, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Ketut Mudana mengatakan, perlombaan bahasa dan sastra merupakan upaya menjaga kelestarian Bahasa Bali. Pelestarian adat, agama, seni, dan budaya Bali tidak dapat dilaksanakan oleh pemerintah saja, tetapi perlu kesadaran masyarakat untuk melestarikannya.
Lebih lanjut, Mudana mengatakan, di zaman globalisasi dan keterbukaan informasi, generasi muda harus mampu membatasi diri dari budaya luar serta memperkuat adat dan budaya sendiri. “Hal ini dilaksanakan agar generasi muda sebagai penerus bangsa dapat mengetahui adat budaya dengan baik. Apalagi di zaman keterbukaan informasi dan globalisasi, agar generasi muda mampu membatasi diri dari budaya luar,” tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna