Salah satu minuman yang paling dicari untuk menghilangkan rasa kantuk adalah kopi. Dengan kandungan kafeinnya, kopi dipercaya sebagai teman saat begadang.
TAPI hal berbeda ditawarkan salah satu kedai kopi yang ada di Jalan Tukad Barito Timur, Nomor 99X, Renon, Denpasar Selatan. Kedai kopi bernama Tjangkir Kosong ini tidak seperti kedai kopi yang biasa dijumpai. Mewah dan berkelas. Tjangkir Kosong menawarkan suasana yang berbeda. Kedai ini dikemas layaknya warung kopi biasa dengan gerobak di tengahnya.
Tapi jangan salah, meskipun terlihat sederhana, kedai kopi ini selalu ramai dikunjungi. Mereka yang datang tidak saja ingin menikmati kopi pada malam hari, namun juga ingin mendapatkan ilmu seputar kopi yang mereka cicipi. Tak heran, mereka yang datang pun beragam. Dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Apalagi kedai ini dibuka dari pukul 18.30 hingga 02.00.
Selain itu, kedai ini pun dihiasi dengan beberapa barang kuno, seperti radio tua, buku-buku lama dan barang lainnya. Si empunya kedai, Agung Pribadianto, sengaja memajang barang-barang tersebut agar pengunjungnya dapat berinteraksi. Tidak sekadar minum kopi. “Mereka yang datang tidak hanya pesan, duduk, minum. Tapi juga bisa berinteraksi dengan yang lainnya. Mereka bisa memulai pembicaraan dengan mengingat kembali kenangan-kenangan yang yang pernah mereka alami dengan barang-barang tersebut. Tidak hanya sekadar menikmati, tapi mereka bisa berkenalan hingga akhirnya berkeluarga,” jelas Agung.
Konsep unik yang digagas dalam kedai dengan gerobak di dalamnya itu, tak sembarang bisa ditiru. Penempatan gerobak kecil dalam kedai itu bukan tanpa alasan. Agung menyebutkan, kuantitas bukanlah prioritas. Tapi lebih kepada kualitas. “Saya bukan penikmat kuantitas. Saya penikmat kualitas. Biar kecil yang penting berkelas. Karena bagi saya, membuat kedai yang mewah dan lebih luas percuma. Ketika kedai kopi itu sepi, maka kelihatannya lucu. Kosong melompong. Terkesan tidak laku. Kalau kecil kan gak masalah. Sepi atau tidak, tetap terlihat ramai dan laris,” ujarnya sambil tertawa.
Konsep lainnya yaitu, berbagai macam alat pembuatan kopi dipajang di sana. Mulai dari alat grinder, drip coffee maker, moka pot dan yang lainnya. Selain itu, Agung juga menekankan konsep idealis-realistis. “Saya jualan bukan cari untung sebanyak-banyaknya. Tapi saya ingin orang-orang bukan sekadar menikmati kopi, tapi juga mengenali kopi yang mereka minum. Boleh jalankan idealisme kita, tapi jangan lupa kita hidup di jaman yang serba uang. Jadi realistis saja. Cari secukupnya,” ujarnya.
Berkunjung ke kedai Tjangkir Kosong ini tidak saja dapat menikmati kopi, namun juga mendapatkan pengetahuan seputar kopi. Lagi-lagi Agung Pribadianto dengan senang hati menjelaskan cara menikmati dan cara mengolah kopi agar enak di lidah. Pertama kopi yang digunakan adalah kopi bijian. Jika ingin menyeduh kopi terlebih dahulu kopi harus digrinder.
Setelah melalui tahap grinder (selip kasar) semua kopi diseduh dengan takaran 10-12 gram kopi dan 100 ml air. Menurut Agung, kopi yang enak itu bukanlah kopi yang dihasilkan dari kebun yang bagus ataupun dari perawatan yang mahal, tapi bagaimana tangan keberhasilan me-roasting (menyangrai) biji kopi dengan tepat, sehingga menghasilkan serbuk yang baik. Begitu juga saat penyeduhan. Teknik penyajian kopi yang benar bisa memperkuat cita rasa kopi dan membuat kopi aman diminum bagi siapa saja. Untuk menyajikan kopi yang benar, air panas yang digunakan minimal 90 derajat celcius. Takaran airnya juga harus pas, 10 gram kopi dengan 100 ml air. Setelah memasukkan bubuk kopi ke dalam cangkir, masukkan air panas mencapai kurang lebih 35 gram.
“Airnya jangan langsung dimasukkan semuanya ke gelas, masukkan sedikit lalu diamkan selama 5 sampai 10 detik sampai dia blooming atau proses pemecahan atau ekstraksi bubuk kopi. Setelah itu sisa air dimasukkan. Tidak perlu diaduk lagi karena sudah langsung tercampur dalam proses tadi,” jelasnya
Bila kopi diperlakukan dengan baik, maka akan memberikan cita rasa kopi yang sesungguhnya. Kalau benar dalam penyeduhannya, kopi akan mengeluarkan rasa semacam caramel, sweetness, kacang dan rasa yang kalem saat nempel di lidah.
Editor : Nyoman Suarna