DENPASAR, BALI EXPRESS - Komunitas dan pegiat dunia kreatif di Kota Denpasar tengah berduka. Menyusul telah berpulangnya Arif “Ayip” Budiman. Salah satu pejuang kreatif Indonesia yang cukup banyak memberikan ide dan gagasan dalam tumbuh kembang dunia kreativitas di Bali maupun Indonesia.
Ayip, begitu biasanya almarhum akrab disapa, meninggal dunia di RS Puri Raharja pada Minggu malam (8/3). Menurut informasi, dia meninggal akibat serangan jantung. Dan jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Kampung Jawa pada Senin kemarin (9/3).
Tidak sedikit pelaku dunia kreatif menghadiri proses pemakamannya. Bukan hanya dari kalangan desainer yang menjadi titik mula eksistensinya sebagai seorang pejuang kreatif. Namun pelaku kreatif dari bidang lainnya turut mengantarkan jenazah almarhum Ayip. Mulai dari sineas, musisi, perupa, dan lain-lainnya.
Penasihat sekaligus mantan Kepala Badan Kreatif Denpasar, I Gusti Putu Anindya Putra, menjadi salah satu orang yang turut merasa kehilangan atas kepergian almarhum. Bagaimana tidak, almarhum sampai dengan akhir hayatnya merupakan Kepala Bidang Riset, Edukasi, dan Pengembangan di Badan Kreatif Denpasar.
“Tapi kalau bicara soal Ayip, dia lebih dari posisinya sebagai kepala bidang. Dia itu sumber ide. Khususnya dalam pengembangan ekonomi kreatif di Denpasar. Ini sudah dia lakukan sejak sepuluh tahun lalu. Saat saya masih bertugas sebagai Kepala Bappeda di Kota Denpasar,” tutur Anindya Putra usai pemakaman.
Anindya sendiri bahkan menyebutkan, Denpasar Festival menjadi salah satu legacy atau gagasan yang diwariskan almarhum. Kemudian pembentukan Badan Kreatif Denpasar. Serta Gedung Dharmanegara Alaya (DNA), sebuah art and creative hub yang menjadi ruang bagi anak-anak muda Denpasar untuk menuangkan ide-ide kreatifnya.
“Saya sendiri masih ada utang sama dia (almarhum). Mau diskusi lagi. Untuk arrange Dharmanegara Alaya,” tutur mantan Anindya Putra seraya mengungkapkan kiprah almarhum yang juga melebar sampai ke Karangasem. Bahkan ke beberapa daerah di Indonesia.
Senada dengan itu, Co-Director Rumah Sanur, Rudolf Dethu, memberikan pandangan yang sama. Terlebih almarhum selaku salah satu Co-Founder Rumah Sanur yang menggaetnya untuk menyelami dunia ekonomi kreatif. Kebetulan itu terjadi saat dirinya membuka Suiced Glam pada 2008 silam. Serta masih lebih banyak berkutat pada Punk Rock.
“Dia (almarhum) orang yang pertama kali ngomporin saya masuk ke dunia ekonomi kreatif. Saya ingat kata-katanya. Bali tidak selamanya bisa bergantung pada pariwisata yang aktivitasnya sangat sensitif pada banyak hal. Secara global, dunia sedang bergerak ke arah ekonomi kreatif. Karena berbekal SDM untuk menyiasati keterbatasan yang ada,” tutur Dethu yang saat dihubungi sedang berada di Melbourne, Australia.
Mantan penyiar radio ini juga mengaku termotivasi saat dirinya ditantang almarhum untuk membuat buku. Sehingga dirinya akhirnya mampu melahirkan dua buku.
“Dia bilang ke saya, kalau memang kamu penulis artinya kamu harus bikin buku. Kalau kamu anak band artinya kamu harusnya punya album. Buat saya dia lebih dari sekadar brother. Dia itu mentor. Bahkan Begawan Visioner,” pungkas Dethu.
Editor : I Putu Suyatra