DENPASAR, BALI EXPRESS - Nasib naas menimpa ST Eka Dharma Suwitra di Banjar Batannyuh, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar Barat. Ogoh-ogoh yang digarap sejak bulan Januari lalu hilang. Kabar hilangnya ogoh-ogoh dengan cat berwarna biru itu diketahui oleh salah satu anggota ST Eka Dharma Suwitra, I Putu Hendra Viscanandra. Saat itu, Selasa (10/3) sekitar pukul 06.30 wita, Hendra hendak melakukan pengecekan ke banjar sembari mengantarkan anaknya ke sekolah. Pengecekan selalu dilakukan olah anggota sekeha teruna untuk memastikan ogoh-ogoh dalam kondisi aman. Namun berbeda halnya yang terjadi pada Selasa pagi, saat dicek, ogoh-ogoh ST miliknya tidak ada. Melihat kejadian tersebut, ia langsung melaporkan ke pengurus sekaha teruna.
Saat dikonfirmasi Selasa (10/3) siang, Sekretaris ST Eka Dharma Suwitra, Anak Agung Made Alit Jaya Putra menceritakan kronologi kejadian. "Senin malam kami membuat ogoh-ogoh sampai pukul 03.00 pagi. Biasanya kami kerjakan sampai pukul 05.00. Kemarin tumben sampai pukul 03.00 kami udah bubar. Paginya ada teman yang memberitahu bahwa ogoh-ogohnya tidak ada. Setelah dicek ulang, ternyata benar tidak ada," jelasnya.
Gung Alit menambahkan, peristiwa hilangnya ogoh-ogoh di Banjar Batannyuh Desa Pemecutan Kelod Denpasar Barat ini sudah dilaporkan ke aparat desa setempat. "Kami sudah melaporkan ke desa dan ke polisi juga. Masih dikaji lagi karena belum 1x24 jam. Kami rasa hilangnya itu sekitar pukul 03.00 -04.00 pagi, setelah kami pulang ke rumah masing-masing ," jelasnya.
Diakui pula, di banjar itu ogoh-ogoh tidak pernah dijaga. Anggota ST pun tidak pernah melakukan ronda atau jaga malam. "Biasanya di depan banjar ada dagang nasi jinggo yang jualan sampe pagi. Ini tumben gak jualan. Jadi saat itu kondisi banjar lagi sepi," sambungnya.
Sebelumnya, ogoh-ogoh yang mengisahkan tentang Bhoma Pralaya ini akan dilombakan, dan sudah didaftarkan di Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Namun sayang, beberapa hari menjelang penilaian, ogoh-ogoh yang hampir rampung ini, hilang tanpa jejak.
Editor : Nyoman Suarna