DENPASAR, BALI EXPRESS – Cerita Legu Gondong menjadi inspirasi dari ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna Dharma Subhiksa, Banjar Sasih, Kelurahan Panjer, Denpasar Selatan. Cerita yang identik dengan wabah demam berdarah saat ini, mengisahkan peperangan Raja Kesiman menggunakan Pusaka Bima Rampag untuk mengalahkah kesaktian Rangdaning Jero Agung yang menebar wabah Legu Gondong.
Konsep ogoh-ogoh ramah lingkungan yang dicetuskan tahun ini, memunculkan beragam kreasi dari sekaha teruna di Kota Denpasar. Seluruh bahan-bahan ramah lingkungan diboyong untuk bahan baku pembuatan ogoh-ogoh. Selanjutnya bahan-bahan tersebut dikreasikan sesai dengan tema dari masing-masing ogoh-ogoh yang dibuat.
Seperti halnya Sekaa Teruna Dharma Subhiksa di Banjar Sasih, Kelurahan Panjer, Denpasar Selatan. Ogoh-ogoh karya mereka terbilang unik. Sebab terbuat dari beras dan serbuk kayu. ST Sekeha Dharma Subhiksa mengusung tema “Legu Gondong” (nyamuk penyebar wabah). Ada dua tokoh yang ditonjolkan dalam karya mereka, yakni perwujudan legu gondong dan Raja Kesiman. Tokoh Legu Gondong seluruhnya dibalut dengan beras. Ada beras merah, ketan hitam (injin), dan ketan putih. Masing-masing menghabiskan 5 kilogram beras untuk menghiasi tokoh legu ini. Tak hanya itu, terdapat pula beberapa biji-bijian seperti jagung dan kacang hijau untuk ornamen aksesoris yang dikenakan oleh tokoh legu.
Untuk perwujudan Raja Kesiman, dibalut dengan serbuk kayu yang didapat dari perajin kayu setempat. Limbah serbuk kayu ini dimanfaatkan sebagai pengganti cat yang digunakan untuk tokoh Raja Kesiman. Di bagian kuku juga digunakan limbah kulit telur.
Ketua Pemuda ST. Dharma Subhiksa I Made Sandi Jaya menceritakan, tema Legu Gondong dituangkan dalam wujud ogoh-ogoh Raja Kesiman melawan Legu Gondong. “Ini ceritanya tentang adanya wabah penyakit yang disebar oleh Legu Gondong. Hal itu karena, Rangdaning Jro Agung, seorang yang dikenal dengan ilmu kawisesan, tidak terima dengan pandangan orang bahwa ia yang menyebabkan suaminya meninggal dunia. Masyarakat Intaran mencurigai Rangdaning Jro Agung memiliki ilmu pengleakan,” cetusnya. “Merasa dirinya di fitnah, lalu ia datang mengadu ke Bendesa. Tidak puas dengan penjelasan bendesa, ia pergi ke Pura Dalem Blanjong untuk meminta panugrahan. Lalu ia pun dianugrahi seekor nyamuk,” sambungnya.
Sandi Jaya melanjutkan, wabah penyakit yang disebar melalui legu gondong dan menyebabkan banyak korban jiwa, didengar oleh Raja Kesiman. Hal ini membuat Raja Kesiman murka dan hendak berperang melawan Legu Gondong. “Atas khabar tersebut, Raja Kesiman memerangi Rangdaning Jero Agung. Sebagai pamungkas, Raja Kesiman menggunakan keris Bima Rampag. Meski Rangdaning Jero Agung kalah, tetapi ia meminta kepada Raja Kesiman agar menyuruh rakyatnya taat beryadnya. Raja Kesiman menyanggupinya,” sambungnya.
Ogoh-ogoh yang hampir rampung ini juga menggunakan sistem Wipper untuk menggerakkan bagian sayap dan kepala. Tidak lupa juga ogoh-ogoh dengan ukuran tinggi 3 meter ini menggunakan tanaman perasok kering untuk dijadikan rambut dari tokoh legu. Di bagian bawah, dibuat dengan menggunakan kelopak pisang kering dikombinasikan dengan tikar pandan.
Editor : Nyoman Suarna