AMLAPURA, BALI EXPRESS - Ogoh-ogoh biasanya dibuat berwujud bhutakala, raksasa hingga wujud seram lainnya. Namun para pemuda di salah satu desa lereng Gunung Agung, Karangasem memilih ogoh-ogoh sebagai alat kritik yang berisi nasihat untuk mempertahankan keberlangsungan ekosistem.
Pemuda di Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem membuat ogoh-ogoh berupa monyet setinggi hampir 5 meter. Menariknya, jika kebanyakan bahan bakunya anyaman bambu, kawat, atau sterofoam yang tidak ramah lingkungan, kelompok pemuda Dharma Bakti, Banjar Juwuk Legi, Duda Timur memilih serabut kelapa alias sambuk sebagai bahan baku.
Alasannya sederhana, mereka tidak mau menghabiskan biaya mahal untuk sebuah ogoh-ogoh. Yang penting benda yang ada di sekitar bisa dimanfaatkan. Dengan sentuhan tangan kreatif, ditambah modal gotong-royong dan jajak pendapat, sebuah ogoh-ogoh bisa jadi karya seni sarat makna.
Bagi seniman ogoh-ogoh I Made Suarimbawa, ogoh-ogoh tidak hanya jadi sarana pendukung saat pelaksanaan tawur Sasih Kasanga. Yang penting, bagaimana ogoh-ogoh bisa jadi visual untuk menyadarkan masyarakat tentang keberlangsungan ekosistem dan kebersihan lingkungan.
Ide menonjolkan wujud monyet dalam garapannya tahun ini sebenarnya lahir dari fenomena yang terjadi di desanya. Masyarakat yang bergelut di bidang perkebunan kerap gagal mendapatkan hasil akibat serangan hama. Populasi monyet di Bukit Batur Sari di sebelah selatan desa cukup tinggi. Namun ketersediaan makanan di tengah hutan sangat terbatas.
Sekumpulan monyet pun melakukan migrasi ke perkubanan warga. Ada pisang dan aneka palawija habis diburu kawanan monyet. Petani pun resah. Tiap kali pohon pisang berbuah, tak satupun tersisa. Masyarakat pun mengamati ketersediaan makanan di tengah hutan membuat kawanan monyet mengganggu petani.
"Akhirnya masyarakat kami bergerak. Setiap ada bibit, dilemparlah ke hutan. Biji-bijian seperti biji nangka, dan buah-buah yang lain kami lemparkan ke hutan. Pemburu di desa kami ada juga yang melempar biji pakai ketapel. Sekian kali dilakukan. Apakah satu biji saja tak bisa tumbuh jadi pohon? Harapan kami, kalau pohon berbuah, bisa jadi sumber makanan bagi monyet-monyet itu," papar Suarimbawa, Selasa (17/3).
Menariknya, mereka juga menyelipkan wujud anjing di garapan ogoh-ogih itu. Menurut cerita warga, anjing tersebut digambarkan sebagai hewan yang bertugas mengusir monyet dari perkebunan. Anjing tersebut memang ada dalam kenyataannya. Warga sangat menyayangi anjing itu. "Jadi kami gambarkan seekor anjing menggigit ekor monyet," jelasnya.
Untuk penggunaan serabut kelapa, seniman yang akrab disapa Dalbo itu mengaku ingin mengedukasi masyarakat bahwa hasil alam juga punya nilai istimewa. Selain mudah didapat, secara ekonomi lebih irit. Pohon kelapa sangat mudah dijumpai di Desa Duda Timur. "Beberapa waktu lalu ada upacara besar yang digelar desa adat. Ada prosesi membuat dodol yang bahan bakunya kelapa. Satu keluarga memakai 20 buah. Kulitnya kami kumpulkan. Kekurangannya kami cari di sekitar wilayah desa lain," ujarnya.
Dia mengaku menghabiskan serabut sekitar satu bak mobil pikap dari 1.000 buah kelapa. Itu dikumpulkan dari kebun warga, dan didapat juga di beberapa desa Kecamatan Bebandem dan Selat. "Kami merencanakan enam bulan lalu termasuk pengerjaan. Target selesai sekitar 3-5 hari lagi," tegas pria berambut kriwil itu.
Pembuatan ogoh-ogoh tersebut terlihat susah-susah gampang. Pertama, mereka membuat kerangka sama seperti pembuatan pada umumnya. Kemudian tubuh ogoh-ogoh menggunakan ulatan bambu. Serabut kelapa dipakai untuk memvisualisasikan bulu monyet. Sedangkan kulit luar kelapa dipakai untuk bagian tertentu seperti dada, wajah, kuku, tangan, dan kaki monyet.
Walau terlihat sepele, mengajak warga untuk bergerak memerangi penggunaan plastik dan bahan tidak ramah lingkungan lainnya diakui cukup sulit. Namun para pemuda tersebut tak pernah lelah memberikan pemahaman bahwa masyarakat wajib kembali menyayangi lingkungan dengan memanfaatkan bahan alami dan membuang bahan tak ramah lingkungan.
"Setiap konsep sudah kami pikir matang. Beberapa tahun lalu kami sempat pakai bahan sampah plastik. Kami ajak masyarakat tidak membuangnya sembarangan. Nyepi harus bersih. Kemudian kami pernah membuat ogoh-ogoh berbahan jins dari celana yang tak layak pakai, kami olah. Harapannya sama. Ini cara kami edukasi bahwa bahan alami bisa dimanfaatkan tanpa perlu memakai bahan mahal," tukasnya.
Editor : Nyoman Suarna