GIANYAR, BALI EXPRESS – Ogoh-ogoh Raja Buduh yang dibuat Sekaa Teruna Sentana Luhur, Banjar Kelodan, Desa/Kecamatan Tampaksiring ditutup untuk umum sejak Minggu (22/3). Saat ini proses pengerjaannya masih berlangsung, tetapi tidak akan diarak mengingat masih adanya pandemi Covid-19.
Konseptor ogoh-ogoh, Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam memilih menutup akses untuk melihat perkembangan ogoh-ogoh Raja Buduh karena penyebaran Covid-19 di Bali makin membahayakan. “Untuk sementara waktu, mulai dari Minggu (22/3) sampai batas yang belum ditentukan, akses untuk melihat perkembangan ogoh-ogoh Raja Buduh kami tutup, mengingat makin banyaknya orang yang terinfeksi virus Korona,” jelasnya.
Pria alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tersebut memohon maaf kepada seluruh pencinta seni, terutama seni ogoh-ogoh. “Semua kami lakukan demi kepentingan bersama. Mohon maaf yang sebesar-besarnya bagi seluruh pencinta seni terutama seni ogoh-ogoh,” imbuhnya.
Ogoh-ogoh yang berawal dari sket berupa garis ini membuat para pencinta ogoh-ogoh penasaran untuk melihat wujud realnya. Semua perkembangannya akan diupdate di akun media sosial milik sekaa teruna setempat, yaitu Instagram, st.sentanaluhur dan akunnya pribadinya, gusman_surya. “Ogoh-ogoh tidak diarak. Disiapkan saja,” ungkap pemuda 28 tahun tersebut.
Sebelumnya, pria yang akrab dipanggil Gus Man itu menjelaskan, sudah gemar menjalakan hobi tahunan tersebut sejak kelas 5 SD. Namun waktu itu masih ogoh-ogoh pribadi dan untuk anak-anak. Sedangkan untuk ogoh-ogoh yang ada di banjar, ia mengaku baru mengambilnya sejak 2015.
“Kalau di banjar, sejak tahun 2015 saya buat bersama anggota STT. Sejak itu kami lebih menonjolkan anatominya. Karena semua ogoh-ogoh saya kira harus ada bagian anatominya, mengingat ogoh-ogoh melambangkan bhutakala sehingga harus terlihat menyeramkan,” jelasnya.
Sejak tahun 2015 sudah enam karya dibuatnya, berawal dari ogoh-ogoh tanpa judul, 2016 ogoh-ogoh bernama Anca Srawa, 2017 ogoh-ogoh yang simbol seorang prajurit, 2018 ogoh-ogoh kala-kali, 2019 ogoh-ogoh Durga, dan untuk tahun 2020 ini ia tengah membuat ogoh-ogoh bernama Raja Buduh.
“Untuk Raja Buduh sebenarnya tahun lalu sudah ada ancang-ancang. Karena saya belum pernah buat ogoh-ogoh perempuan, maka dibuatlah ogoh-ogoh Durga. Sehingga tahun ini dibuat Raja Buduh, entah kenapa momennya sangat tepat, dan tidak ada sama sekali untuk menyinggung tokoh atau siapapun,” ungkap pria yang juga selaku ketua STT tersebut.
Gusman Surya juga menyampaikan, ia tidak mengedepankan sinopsis dalam ogoh-ogoh yang dibuatnya. Namun lebih menonjolkan visualisasi, karena ogoh-ogoh terlihat seram jika visualiasinya digarap secara serius. Tetapi alangkah lebih bagus jika dilengkapi dengan sinopsis. “Tapi kebanyakan orang lebih senang melihat bentuk dan wajah ogoh-ogoh daripada sinopsisnya,” bebernya.
Pria asal Gria Ageng Kelodan Manuaba, Tampaksiring itu mengaku, sejak tahun 2015 karyanya paling pendek berukuran 5 meter. Sedangkan untuk Raja Buduh ukurannya lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu tinggi 8 meter, panjang 4 meter dan beratnya mencapai 2 ton.
“Raja Buduh ini saya bikin dengan gaya duduk di singgasana, karena raja itu kan memang seperti itu gayanya. Raja berarti seorang tokoh yang dipercayai rakyat, sedangkan buduh berarti gila. Gila yang saya maksudkan adalah gila terhadap kekuasaan, dan saat menjadi raja ia lupa dengan tugas dan kewajiban,” ungkapnya.
Editor : Nyoman Suarna